
Setelah Nyai Ulfa dan adik dari mas kasya keluar kamar, aku yg tengah duduk di kasur sambil menatap keluar jendela melihat para tamu yg terus berdatangan, tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamar dan langkah kaki yg berjalan ke arahku, detak jantung yg tak beraturan telah menggema di dada, telah berdiri seorang pria didepanku, ya dia suamiku.
"Dik" panggilnya, saat sudah berada didepanku
'Suara itu, bukankah dia' batinku, aku pun masih setia menunduk
"Dik, apa kamu tidak ingin melihat siapa suamimu" katanya sembari memegang daguku, dan..
"Mas" mataku membulat sempurna melihat siapa yg tengah berdiri didepan ku, dia mas azka
"Sedang apa kamu disini bukankah kamu akan menikah, dan sebentar lagi suamiku akan datang tidak enak jika dia melihat kita berdua disini" kataku khawatir
"Aku adalah suami dik" jawabnya, aku pun tak percaya dengan perkataannya
"Tidak" kataku sambil berjalan menjauh darinya
"Selama ini kamu tidak tau siapa calon suamimu benarkan" katanya, aku pun mengangguk
"Tapi kata abi namanya adalah Kasya bukan Azka" kataku
__ADS_1
"Memang, di keluarga ku aku dipanggil Kasya sedangkan di Mesir orang-orang memanggilku Azka" jawabnya
"Apa mas azka dan mas faiz tengah berencana mengerjai ku" kataku yg masih tidak percaya
"Haruskah aku memanggil Umik atau Faiz kemari, Namaku Muhammad Azka Kasyafani" jawabnya yg masih berusaha meyakinkan ku "Baiklah aku akan menelfon faiz agar dia kemari" katanya lagi karena aku masih tidak percaya dengan pengakuannya.
Tak lama akhirnya mas faiz datang, aku yg duduk disofa dekat jendela sedangkan mas azka tengah duduk diatas kasur, jarak kami tidak begitu jauh.
"Ya ada apa Gus" kata mas faiz yg baru saja masuk kedalam kamarku
"Tolong jelaskan kepada adikmu" katanya, mas faiz tertawa terbahak-bahak melihat aku dan mas azka yg duduk berjauhan
"Anya, dia adalah Gus Kasya suamimu, dan dia adalah Azka ke..." sebelum mas faiz melanjutkan penjelasannya aku pun segera berlari menutup mulutnya
"Kenapa kamu menutup mulut faiz dik" kata mas kasya atau azka kepadaku
"Tidak apa-apa" kataku gugup
"Baiklah, kalo gitu biarkan faiz keluar"kata mas kasya, aku pun berjalan menuju pintu sambil terus menutup mulut mas faiz, dan segera menutup pintu kamar setelah mas faiz keluar.
__ADS_1
Aku pun masih diam berdiri didepan pintu, jantungku yg tidak tenang ditambah lagi pria yg tengah duduk di kasur adalah suami dan orang yg ada dalam hatiku kala itu.
"Kemarilah, aku belum melakukan sunnah setelah akad" katanya, aku pun berjalan ke arahnya, dan mas kasya berdiri mengecup keningku, sambil membaca do'a, ku raih tangannya dan menciumnya, seketika semburat merah di pipiku.
Kami pun melakukan shalat Sunnah dua rakaat dilanjut dengan shalat Sunnah Dhuha, selesai shalat aku mencium tangannya dan dia langsung mencium ke dua pipi dan keningku.
"Kenapa mukamu memerah" katanya sembari memegang pipiku
"Ah tidak apa-apa" kataku, rasanya aku sangat malu saat itu
"Kamu sangat cantik ketika ada rona merah di pipimu" katanya, membuat ku semakin malu dan membuat rona merah semakin memerah
"Mas boleh anya bertanya" kataku, diapun mengangguk
"Kenapa mas tidak bilang jika mas adalah Kasya yg akan menjadi calon imamku" tanyaku
"Karena yg aku tau, hatimu hanya untuk azka bukan Kasya, dan karena mas ingin tau akankah rasa yg kamu berikan kepada azka akan kamu lepaskan dan kamu berikan kepada Kasya" jawabnya, aku pun menunduk malu karena dia lebih dulu tau perasaan ku kepadanya
"Tapi bukankah Kasya dan Azka adalah orang yg sama, yg sama-sama aku kagumi dan sama-sama ada di hatiku mas" kataku, mas Kasya pun tersenyum lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya, aku mendengar detak jantung mas Kasya yg begitu cepat,aku pun melihat ke arahnya dan membuat mata kami saling bertemu
__ADS_1
"apa mas sakit, karena jantung mas Kasya sangat cepat sekali" tanyaku
"Tidak, itu karena aku ada didekat mu, setiap kali ada didekat mu maka jantung ku akan berdetak lebih cepat dari biasanya" kata mas kasya, aku yg begitu bahagia saat itu dan ditambah lagi Allah yg mengabulkan doa ku selama ini.