
Sesampainya kasya,faiz dan juga hans disalah satu rumah yg cukup terbilang mewah, mereka bertiga segera masuk.
"Akhirnya kalian datang juga" kata seseorang yg tengah duduk dikursi
"Dimana aini" kata faiz tak sabar
"Dia sedang tidur dilantai atas, tapi tunggu aku ingin membuat perjanjian dengan kalian" kata pria tua itu, hans pun mengangkat salah satu alis miliknya
"Perjanjian apa?" tanya kasya
"Diantara kalian bertiga, aku hanya akan membuat perjanjian dengan azka" kata pria itu
Hans pun menoleh ke arah faiz dan juga kasya, sembari memberi kode kepada mereka berdua.
'Sepertinya dia tidak tau siapa diantara kami bertiga yg bernama azka' batin hans
Hans pun maju dan duduk berhadapan dengan pria itu.
"Maaf bolehkah aku bertanya" tanya hans
"Tentu anak muda" kata pria itu
"Siapa namamu, dan ada hubungan apa kamu dengan Rara" tanya hans, kasya dan faiz pun juga ikut duduk tapi tidak berdekatan dengan Hans
__ADS_1
"Apa selama ini rara tidak menceritakan siapa aku" kata pria itu sambil mengeluarkan beberapa kertas dan materai dalam tasnya
"Iya" jawab hans
"Aku adalah ayah kandung Rara, sedangkan yg sering kamu temui adalah adikku, namaku Simba" kata simba, hans pun mengingat sesuatu, sepertinya dia pernah mendengar nama itu tapi entah dimana.
"Apa kita pernah bertemu" tanya hans, karena menurut hans wajahnya juga tak begitu asing
"Mm tidak" kata simba sambil melihat wajah hans
"Kamu baca kertas-kertas ini, lalu segera tanda tangan" kata simba lagi
"Apa boleh kakak iparku bertemu dengan istrinya" kata hans sebelum tanda tangan
Hans yg tengah duduk sambil membaca tiap-tiap kertas yg berada didepannya pun mengingat siapa pria tua didepannya itu.
"Paman, apa paman mengenal tuan Ravier" tanya hans, ya nama yg iya sebutkan tadi adalah nama papanya, papa hans adalah pebisnis terkenal di Meksiko, dan dia juga Ketua Black Jaust bisa dikatakan pembunuh dan mata-mata yg terkenal kejam di Meksiko juga di Indonesia
Seketika raut wajah simba berubah pucat, siapa yg tidak tau tuan Ravier, seorang yg sangat dingin dan tidak akan memberikan ampun bagi siapapun yg mengusiknya.
"Dari mana kamu kenal tuan Ravier" tanya simba sembari meminum orange juice didepannya
"Apa paman tidak tau, dengan siapa paman berhadapan sekarang" tanya hans sambil menyilang kan kakinya
__ADS_1
"Siapa siapa kamu, bukankah kamu azka putra yai Dhimyati" kata simba
"Paman, sepertinya kamu tidak tau diantara kita siapa yg azka" kata hans sambil tersenyum
"Jangan coba-coba mempermainkan ku" kata simba yg sudah mulai marah
"Paman, ingat kesehatan mu kau sudah tua, perkenalkan namaku Hans Raj Ravier, putra satu-satunya tuan Ravier" kata hans sambil mengulurkan tangannya, seketika simba terkejut dan amat sangat ketakutan
"Jadi apa paman akan tetap memaksa ku untuk tanda tangan dikertas-kertas ini" kata hans menunjuk kearah susunan beberapa kertas didepannya
"Tidak-tidak, kenapa kamu tidak bicara dari awal jika kamu anak dari tuan Ravier" kata simba, seketika dia berubah menjadi baik kepada hans
"Paman, apa perlu papaku tau kamu akan menjebakku dan teman-teman ku" kata hans menakut-nakuti simba
"Tidak perlu, tuan Ravier tidak perlu tau, maafkan aku tuan muda, karena rara adalah putriku satu-satunya aku tidak bisa menolak atas semua keinginannya selama ini, maafkan aku" kata simba sembari bersimpuh dikaki hans, hans pun tersenyum kemenangan, akhirnya kasya dan faiz pun turun, faiz yg tengah membopong badan kecil aini yg masih pingsan karena obat bius yg diberikan kepadanya.
Faiz dan kasya pun terkejut ketika melihat simba tengah bersimpuh dikaki hans.
"Ah sepertinya pertemuan kita cukup disini Paman" kata hans yg langsung berdiri
"Dan ingat jangan pernah sesekali kau dan anakmu mencoba mengusik teman,saudara, sahabat dan kerabat ku, jika tidak kamu pasti tau apa yg akan terjadi" kata hans membisikkan ke telinga simba, simba pun mengangguk ketakutan
Akhirnya mereka segera pergi dari kediaman ayah rara, dan langsung menuju vila.
__ADS_1