Pinangan Mu

Pinangan Mu
Episode 43 (Alhamdulillah)


__ADS_3

Hari ini anya tengah bersiap karena subuh tadi mendapat kabar jika alat bantu nafas putranya sudah bisa dilepas, dia tengah mengemas beberapa baju bayi dan tak lupa botol asi.


"Ayo dim" kata anya kepada dimas


"Baik Ning" jawab dimas


"Dim kita mampir ke kedai ya, sudah lama gak mampir kesana" kata anya


Akhirnya mereka berangkat menuju kedai terlihat dulu.


Dikedai


"Assalamu'alaikum" salam anya kepada yulis dan aini yg tengah membersihkan kedai


"wa'alaikumsalam" jawab mereka kompak


"Apa kabar Ai,Lis" tanya anya, mereka masih berdiri dengan wajah terkejut


"Ya ampun Nya, mana keponakan ku, aduh sini duduk" kata Yulis antusias

__ADS_1


"Sama siapa Nya" tanya aini, anya hanya tersenyum dia tau jika aini mengharapkan seseorang


"Sama dimas ai, mas faiz dirumah sakit jaga mas Kasya, ini rencananya aku mau ke RS karena tadi dapet kabar kalo anakku udah bisa lepas alat bantu nafas nya" kata anya mulai bercerita


"Kamu mau apa biar aku bikinin, kebetulan ada kue cubit kamu bawa ya nanti Nya" kata Yulis yg tengah berjalan ke arah dapur


"Ngak usah Lis, lagian aku cuman kangen aja sama kalian" kata anya


"Udah gak papa kali Nya, biar yulis ada kerjaan" kata aini sambil tertawa


Setelah cukup lama untuk berbincang akhirnya anya berpamit untuk pergi, karena dia juga tidak sabar melihat anaknya dan suaminya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Bagaimana dok, apa anak saya sudah benar-benar bisa lepas dari ventilator nya" tanya Anya


"Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah Ning, dalam waktu 4 hari putra anda sudah bisa lepas ventilator, dan insyaallah kalo sampai siang nanti tidak ada gagal nafas maka sudah diperbolehkan untuk pulang" kata dokter Sazid


"Alhamdulillah Ya Allah, saya berterimakasih kepada dokter yg terus memantau perkembangan dan kondisi anak saya" kata anya dengan bahagianya

__ADS_1


"Oh iya dok, apa boleh anak saya saya ajak ke ruangan suami saya" tanya anya, dokter itu mengangguk, tapi beliau menyuruh beberapa suster untuk berada disamping anya karena takut jika sewaktu terjadi gagal nafas kepada anaknya.


Anya dengan penuh semangat dan rasa bahagianya dia berjalan dengan sangat cepat menuju ruangan kasya, sambil menggendong putra mereka.


"Assalamu'alaikum Buya, mas"salam anya kepada yai dhim dan faiz, yai dhim pun terkejut melihat cucunya berada digendong anya


"Wa'alaikumsalam Nya, Masyaallah" jawab faiz sembari mengelus pipi cabi keponakannya


"Ya Allah, Alhamdulillah Masyaallah" kata yai dhim dengan mata yg sudah basah melihat cucunya dan anya


"Alhamdulillah anak anya sudah bisa lepas ventilator mas, kata dokter jika sampai siang nanti tidak ada gagal nafas maka aku sudah bisa membawanya pulang" kata anya dengan senyumnya yg merekah


"Iz ayo kita keluar biarkan anya dan kasya berbicara berdua, karena hanya anya dan anaknya yg bisa membuat kasya bangun" kata yai dhim mengajak faiz keluar, faiz pun mengangguk


Setelah yai dhim dan faiz keluar, anya berjalan mendekati kasya yg masih terbaring di atas kasur.


"Mas, lihat putramu dia sudah bisa lepas dari ventilator nya, apa kamu tidak ingin menggendongnya atau melihatnya" kata anya yg sudah duduk disamping kasya


"Mas jika sampai siang nanti tidak ada kendala kepada anak kita, maka aku sudah bisa membawanya pulang, tapi bahagia ini belum lengkap rasanya jika kamu tidak pulang bersama kami nanti, apa mas kasya mendengarkan ku"

__ADS_1


"Aku mohon bangunlah mas, aku tidak akan marah lagi, dan aku ingin kamu segera sadar untuk memberikan anak kita nama" kata anya menangis di samping kasya, karena tangisan anya putranya juga ikut menangis, tangisannya begitu kecang sampai anya tidak tau bagaimana cara untuk membuatnya diam, tiba-tiba monitor jantung kasya bunyi, anya pun berjalan menuju kasya dilihatnya tangan kasya bergerak dan matanya sedikit terbuka, anya pun segera keluar kamar untuk memanggil dokter dan suster


Para suster dan dokter tengah memeriksa kondisi kasya, anya dan yg lain tengah menunggu didepan kamar.


__ADS_2