
Pagi hari, aku tengah duduk termenung didalam kamar, semenjak kejadian kemarin aku enggan untuk bertemu siapapun, bahkan umik, hani dan nafis terus menelfonku, memintaku untuk pulang, tapi aku menolak untuk saat ini.
Tok tok tok
"Ning" panggil bik Sari
"Iya bik, masuk aja gak aku kunci" jawabku yg masih setia duduk didekat jendela
"Kyai minta Ning anya ke meja makan untuk makan bersama" kata bik sari
"Aku tidak ingin makan bik, bawakan makananku kemari saja" kataku
"Kalo begitu bibik ambilkan dulu" kata bik sari
Author Pov
Disisi lain.
'Bodohnya aku, aakkkhh' runtuk kasya dalam hatinya
"Mas" panggil hani
"Ya" jawab kasya
"Buya menyuruhku untuk memanggil mu" kata hani
"Baiklah, aku akan segera menemui buya" jawab kasya yg masih duduk diatas kasurnya
__ADS_1
Kasya pun segera turun ketika Hani menyampaikan jika kyai dhim ingin menemui nya.
Tok tok tok
"Buya" sapa kasya
"Duduk" jawab yai dhim
Kaysa melihat yai dhim yg masih berkutat dengan beberapa kitab dan juga kertas diatas mejanya.
Hingga beberapa menit akhirnya yai dhim mulai berbicara.
"Buya selalu mengajarimu untuk menghormati wanita, Buya selalu mengajarimu untuk selalu menjaga hati wanita" kata yai dhim
"Buya maafkan kasya, bukan maksud kasya ingin menyakiti hati anya ataupun keluarganya termasuk buya"
"Buya tidak tau harus bilang apa kepada yai Jazuli nanti, jika kasya menantu kebanggaannya ini telah mempermainkan hati anak perempuan semata wayangnya" kata yai dhim
"Siapa wanita itu nak" tanya yai dhim
"Dia dulu teman kasya waktu masih SMP" jawabnya
"Lalu bagaimana dengan nasib Anya, kamu tau anya sedang mengandung anakmu, dia sangat bahagia waktu itu, hingga rela menunggu mu hanya ingin berbicara dan berbagi kebahagiaan yg dia rasakan" kata yai dhim
"Anya hamil buya" tanya kasya yg masih tidak percaya
"Benar, sudah 3 bulan" jawab yai dhim
__ADS_1
"Jadi kemarin waktu anya bertemu dengan kasya dia sedang hamil buya" tanya kasya kembali, yai Dhim hanya mengangguk, sontak tubuh kasya pun jatuh terperosok sambil menangis sesenggukan
Yai dhim pun duduk sambil mengusap wajahnya kasar.
"Buya bantu kasya agar bisa bersama kembali dengan anya" mohon kasya
"Buya tidak bisa menjamin jika anya akan memaafkan mu, lalu anak siapa yg dikandung oleh wanita itu" kata yai dhim,matanya yg memerah
"Kasya tidak tau, saat itu aku kasihan dengan rara, dia hampir bunuh diri karena ditinggal oleh kekasihnya saat sedang hamil, jadi kasya memutuskan untuk menikahinya, kasya pikir seiring berjalannya waktu kasya akan mulai bercerita pelan-pelan ke anya dan juga buya" kata kasya
"Tapi siapa sangka jika akan bertemu dengan anya disana buya, kasya memang tidak diizinkan cuti saat itu, tapi rara memaksa untuk pulang ke Indonesia, untuk bertemu dengan keluarganya, jadi aku putuskan untuk mengambil cuti bulan depan, dan digunakan sekarang" cerita kasya panjang lebar kepada yai dhim
Wajah yai dhim semakin lesu, melihat kelakuan anaknya,yg tanpa meminta pendapat terlebih dahulu sebelum menikahi wanita itu.
"Buya, tolong bicaralah kepada abi, agar kasya bisa bertemu dengan anya, meski untuk terakhir kalinya, meski setelah anak itu lahir anya akan menceraikan kasya, buya kasya mohon" kata kasya sembari memegang kaki yai dhim
Kyai Dhim hanya diam, tidak bisa berbicara apa-apa, bahkan dia malu kepada yai jazuli meski hanya berbicara.
"Lalu dimana wanita itu, apa dia tau kalo kamu sudah menikah" tanya yai dhim, kasya pun mengangguk "Apa yg dia inginkan" tanya yai dhim lagi
"Dia hanya ingin anaknya mendapatkan nama seorang ayah, tidak lebih" kata kasya
"Bagaimana bisa kamu memberikan namamu untuk anak yg sejatinya bukan darah dagingmu dan darah daging buya, apa kamu bodoh kasya" bentak yai dhim
Kasya pun terkejut saat yai dhim membentaknya,karena selama hidupnya dia tidak pernah melihat buyanya marah.
"Lalu kasya harus bagaimana, kasya bingung buya" tanya kasya bingung
__ADS_1
"Ceraikan dia, jika kamu masih tidak menceraikannya jangan harap anya akan mau kepadamu" kata yai dhim yg masih sedikit marah
"Kamu tau, mungkin saat ini anya berpikir itu adalah anakmu dan kamu telah menduakan nya" kata yai dhim meninggalkan kasya yg masih tersungkur dilantai ruang kerja yai dhim.