Pinangan Mu

Pinangan Mu
Episode 38 (Lamaran Mas Faiz 1)


__ADS_3

Anya tengah duduk menghadap sang maha pencipta, mengadukan segala resah gelisah dalam hatinya, tak lupa dia juga meminta untuk kebahagiaan hidup dan keselamatan untuknya juga anaknya, derai air mata yg tiada henti saat tengah bermunajat di sepertiga malamnya.


'Allah aku hanya manusia biasa, jika aku bisa memilih jalan takdirku aku tak ingin seperti ini, jika menurutku ini adalah ujian terberat dalam hidupku, tapi aku tau engkau sudah lebih tau seberapa kuat dan sabarnya semua hambamu, ya Allah aku mempunyai masalah yg besar, tapi aku memilikimu yg jauh lebih besar, tabahkan hatiku dalam setiap lika-liku hidup ini, berilah aku perisai agar selalu kuat dalam setiap masalah' Pintanya.


Selesai menjalankan shalat subuh, anya segera pergi menemui bik sari yg tengah sibuk mempersiapkan bingkisan jajan untuk acara nanti pagi.


"Sudah selesai bik" tanya anya


"Tinggal sedikit Ning" jawab bik sari


"Mas faiz mana bik" tanya anya lagi sembari duduk dikursi meja makan


"Ada dikamar yai Ning, baru saja masuk" kata bik sari sambil menghias bingkisan


"Mm,, Bik anya mau donat itu donk" pinta anya sambil menunjuk ke salah satu nampan berisi donat


"Bibik ambilkan piring dulu Ning" kata bik sari, Anya pun mengangguk


Tak lama Faiz dan yai jazuli sudah keluar dari kamarnya.


"Kamu gak siap-siap Nya" tanya faiz, pasalnya anya masih memakai baju rumahan


"Bentar lagi mas, kan masih jam 6 pagi" kata anya, bik sari pun memberikan piring dan dua donat tabur gula


"Kamu lapar ya nduk" tanya yai Jazuli yg sudah duduk disamping Anya


"Iya bi, eh umik sama buya kapan datang" tanya anya


"Abi juga gak tau, biar faiz yg menelfon mereka" jawab yai Jazuli, akhirnya faiz pergi ke ruang tengah untuk menelfon keluarga yai dhim

__ADS_1


Setelah menghabiskan dua donat Anya pun berjalan ke kamarnya, untuk bersiap.


Tak lama saat anya tengah di kamar mandi, terdengar beberapa suara mesin mobil dihalaman rumahnya, Anya pun mempercepat mandinya.


"Assalamu'alaikum Yai" sapa yai Jazuli ke yai Dhim


"Wa'alaikumsalam Dik yai" jawab yai dhim sembari berjabat tangan dengan yai Jazuli


"Mari masuk yai" ajak faiz ke yai dhim dan keluarganya


Mereka pun duduk di ruang tamu tengah.


"Bagaimana kabarmu dik" tanya yai dhim


"Alhamdulillah sehat mas yai" jawab yai jazuli


"Maafkan aku yg sudah membuat keluarga mu kecewa atas perilaku kasya" kata yai dhim tak enak


"Anya mana Iz" tanya nyai ulfa


"Masih dikamar nyai, sebentar faiz panggilkan" kata faiz "Gus kamu gak mau ikut" tanya faiz ke kasya sebelum berjalan ke kamar anya, Kasya pun mengikutinya.


Tok tok tok


"Nya, kamu udah selesai belum mandinya" teriak faiz diluar kamar anya


"..." tak ada jawaban, akhirnya faiz menyuruh kasya untuk masuk


Saat kasya sudah berada di kamar anya terlihat sepi, melihat kamar anya yg tidak ada perubahan sama sekali, tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamar mandi, kasya pun menoleh ternyata anya, tatapan mereka bertemu, sesegera mungkin anya berpaling dan menuju ke arah lemari bajunya.

__ADS_1


"Sayang" panggil kasya yg masih berdiri di samping kasur


"Hmm" jawab anya berdehem


"Mas mau bicara" kata kasya sambil berjalan mendekat ke arah anya


"Bicara saja tidak perlu mendekat, telinga anya masih berfungsi dengan normal" kata anya cuek sambil memilih baju dan juga jilbab


"Soal Rara, mas bener-bener gak ada niatan untuk duain kamu, mas gak pernah ada pikiran bakal poligami nya, tapi saat itu Rara ditinggal oleh kekasihnya, saat dia tengah mengandung anak dari laki-laki itu, Rara berniat untuk bunuh diri, saat itu mas gak tau mesti gimana, Mas bingung, akhirnya mas nikahin dia sebagai formalitas anaknya, mas cinta dan sayang sama kamu, kami udah buat surat perjanjian diatas materai, saat anak itu lahir dia akan mendapat namaku dan kita pisah" kata kasya, anya yg terdiam didepan lemari dengan air mata yg mengalir


"Nya" panggil kasya, tiba-tiba badan anya tersungkur ke lantai, membuat kasya panik dan segera berjalan ke arahnya


"Kamu kenapa sayang" sambil memegang pundak anya untuk membantunya berdiri, mereka pun duduk di sofa, kasya tau jika saat itu anya sedang menangis


"Kamu tau mas aku begitu terkejut saat aku melihat mu bersamanya, kenapa kamu gak pernah cerita ke aku, atau mungkin karena itu kamu jarang hubungi aku, jika sebelum kamu datang ke Indonesia kamu bercerita dan terus terang, mungkin tidak akan seperti ini, saat itu aku tengah bahagia karena karuniai allah memberiku amanah ini dengan sangat cepat" kata anya sambil menangis


"Aku tau nya, aku tau jika aku salah, maka maafkanlah aku" mohon kasya sembari memegang tangan istrinya


"Sebesar apa rasa kasihan mu kepada wanita itu mas, hingga kamu lupa terhadapku yg jauh lebih menderita, aku mempunyai suami tapi tidak pernah ada disaat aku mengandung anaknya, seberapa besar rasa sayang dan cintamu kepadaku, hingga cinta dan sayangmu terkalahkan oleh rasa belas kasihmu kepada wanita itu" kata anya dengan suara yg sedikit meninggi


"Rasa sayang dan cintaku tidak akan pernah berpaling dari pemiliknya Nya, aku benar-benar hanya kasihan terhadapnya,maaf kan mas jika tidak pernah ada disisi mu, bukan mas tidak mau tapi mas hanya ingin memberimu waktu, karena mas tau kamu masih marah" kata kasya


"Pertemukan anya dengan wanita itu, dan pembicaraan kita cukup sampai disini saja, semua keluarga sudah menunggu, tidak enak jika karena ku mas faiz jadi telat" kata anya mengusap air matanya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa baju dan jilbabnya


Kasya pun berjalan pergi meninggalkan kamar anya, saat kasya sudah berada di ruang tengah.


"Mana anya Sya" tanya nyai ulfa


"Masih ganti mik, sebentar lagi selesai" jawabnya

__ADS_1


Tak lama akhirnya anya datang dengan mata yg sedikit sembab, bersalaman ke arah yai dhim dan nyai ulfa, akhirnya mereka memutuskan untuk segera berangkat, karena perjalanan yg lumayan jauh.


__ADS_2