Pria Perhitungan (Calculating Man)

Pria Perhitungan (Calculating Man)
28. Baroto kena PHk


__ADS_3

Para karyawan pabrik semua berkumpul untuk menyimak sebuah pengumuman penting mengenai Pemberhentian kerja yang akan di lakukan pada hari ini secara besar-besaran


"Kalian saya kumpulkan pada hari ini untuk mengucapkan banyak terima kasih karena kalian selama ini telah royal dan setia terhadap pabrik bahan baku semen ini, Namun hari ini ada kabar yang kurang baik, Saya hanya mewakilkan dari atasan bahwa pada hari ini akan ada PHK massal di karenakan pabrik akan gulung tikar, tapi mengenai gaji dan pesangon kalian kami sudah siapkan, Tolong kalian antri dengan tertib" ucap HRD


Dengan terpaksa semua pegawai pabrik menerima keputusan yang di ambil oleh pihak atasan, Mereka pun menerima dengan lapang dada gaji dan pesangon yang ala kadarnya karena memang perusahaan itu mengalami defisit yang membuat pabrik bahan baku semen itu tutup secara dadakan. Keputusan atasan memberhentikan pegawai yang lansia sudah sangat tepat, di mana kinerja mereka menurun drastis akibat bertambahnya usia mereka.


Satu persatu amplop berwarna putih di terima dan di tanda tangani oleh pegawai yang terkena PHk massal. wajah mereka semua di tekuk bagaikan kain kotor yang di lipat dan di buang, jika sudah tidak di butuhkan


kini giliran Ayah dua orang anak yang sudah dua belas tahun menekuni bidang pembuatan semen tersebut di berhentikan untuk menerima gaji dan pesangon terakhir


"Pak, Saya mohon jagan pecat saya!" geram Baroto yang tidak terima

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ini keputusan atasan. Saya di sini juga hanya menjalankan perintah saja" ucap HRD


"Kalau begitu apa bisa saya bertemu dengan atasan, Saya ingin keputusan yang di buat untuk saya bisa di ubah! saya sudah mengabdi lama di pabrik ini. Kenapa saya harus d berhentikan secara sepihak begini?" tanya Baroto


"Pak Baroto, pabrik ini akan gulung tikar sebentar lagi, Kami mohon kerja samanya untuk mengerti kondisi defisit yang di alami oleh pabrik ini" ucap HRD


"Ta-tapi, Bagaimana dengan anak dan istri saya? mereka juga butuh biaya" ucap Baroto


"Baiklah, Ini saya terima," ucap Pak Baroto terpaksa menerima amplop berwarna coklat yang cukup tebal


Akhirnya Pak Baroto luluh juga akan perkataan HRD, dan dia pun mulai menggerakkan pena untuk mengukir tanda tangan dengan jemari sebelah kanannya, kini ia resmi menjadi pengangguran

__ADS_1


Pak Baroto pun melangkahkan kakinya menuju dunia baru tanpa sebuah tujuan, Ia pun dalam perjalanan selalu memikirkan bagaimana cara memberitahukan berita buruk ini kepada istri dan anaknya yang selalu menggantungkan harapan pada kepala keluarga


Berkali-kali Pak Baroto menghirup napas dalam-dalam untuk menepis kemungkinan pikiran buruk mengenai dirinya yang sudah tak mampu untuk menafkahi keluarga kecilnya


"Aku harus bilang apa ya?! pada Hesti dan anak-anak?! mereka pasti sangat kecewa dengan kondisi ku saat ini," gumam Pak Baroto dalam perjalan pulang menggunakan kuda besi berwarna hitam di terik matahari yang menyengat kulit seakan rasanya semua terbakar oleh nyala api di lubuk hatinya.


bersambung ..


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/Subscribe...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...

__ADS_1


__ADS_2