Pria Perhitungan (Calculating Man)

Pria Perhitungan (Calculating Man)
38. Pemakaman Hesti


__ADS_3

Pakaian serba hitam itu sudah nampak jelas di kediaman rumah sederhana, kini jenazah sudah di mandikan dan akan langsung di makamkan


"Aldi, aku turut berduka cita atas kematian mama kamu" ucap Evelyn


"Makasih, Lyn" ucap Aldi


"Aku juga ingin mengucapkan turut berdukacita sedalam-dalamnya" ucap Renata


"Bro, gw turut berduka cita" ucap Aldi


"Makasih kalian sudah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke sini" ucap Aldi


****


Bau matahari itu menyengat di sekujur tubuh, penuh peluh yang di rasakan Aldi memikul sebuah peti berukuran sedang sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tua


Perlahan namun pasti acara sakral pemakaman pun telah selesai di lakukan, tapi Baroto, Aldi, dan Alenka masih tetap di sana. Mereka masih belum menerima kepergiaan Hesti begitu cepat.


"Ma, Aldi masih belum terima kalau mama kini sudah tidak ada di antara kita. walaupun kita berempat sering ribut kecil karena hal sepele, namun kami semua akan sangat rindu kepada mama" lirih Aldi


"Alenka juga pasti sangat merindukan masakan mama! ternyata nasi goreng yang mama masakan untuk kita semua tadi pagi adalah masakan yang bisa kami rasakan untuk terakhir kalinya," ucap Alenka dengan Isak tangisnya


"Mama kalian juga pasti sedih melihat kalian berdua menangis seperti ini, kalian harus berlapang dada menerima semua ini" hibur Baroto


"Iah" ucap serentak


"hmmm, gw harus tetap jadi pria perhitungan karena ini yang selalu di ajarkan mama untuk bergaya serba hemat meski suatu hari nanti aku bergelimang harta" gumam Aldi


...********...

__ADS_1


Satu minggu kemudian..


kuda besi usang itu akhirnya roboh di suatu persimpangan jalan, dan pada akhirnya pria perhitungan harus mendorong kuda besi usang itu dengan kekuatan tanpa bantuan dari pihak lain.


Di bawah terik matahari, Aldi menyeka peluh yang deras mengalir di kening


"Fiuh! Aku lelah sekali," ucap Aldi membasuh mukanya dengan botol minum yang selalu di bawanya


"Hei, pria perhitungan mau bareng?" tanya Evelyn


"Nggak usah gw dorong motor ini saja" tolak Aldi


"Nggak baik menolak bantuan orang lain" ucap Evelyn


"Baiklah, lalu motor gw gimana?" tanya Aldi


"Nanti biar gw suruh supir saja yang bawa motor lu sampai bengkel" ucap Evelyn


"Oke, anggap ajah ini lu lagi hutang sama gw" ucap Evelyn


"Hmmmm" ucap Aldi


"udah jangan banyak mikir dan berhitung melulu, ayo cepat masuk keburu telat masuk sekolah" ucap Evelyn


"Oke, gw masuk" ucap Aldi


"Akhirnya si pria perhitungan mau juga gw ajak! susah banget deh dekat sama dia" gumam Evelyn dalam hatinya


"Duh, hati gw rasanya mau meledak kalau sedekat ini sama Evelyn" gumam Aldi dalam hatinya

__ADS_1


********


Akhirnya mereka pun tiba sampai sekolah dengan selamat, semua mata memandang mereka dengan tatapan sinis termasuk Renata yang sedari tadi sangat gusar memandang mereka turun dari satu mobil yang sama


"Si Evelyn ternyata diam-diam mau nikung gw dari belakang" ucap Renata


"Sabar ya, anak sabar di sayang Tuhan" ucap Doni


"Berisik lu! sejak kapan lu di sini?" tanya Renata


"Sejak lu ngomelin mereka" ucap Doni


"Lu juga ada hati yah! sama Evelyn kok lu juga lihatin mereka dari jauh?" tanya Renata


"Ia, gw emang suka sama Evelyn, tapi demi kebahagiaan sahabat gw mending gw ngalah" ucap Doni


"Gw bukan lu! gw nggak terima Aldi dekat sama Evelyn karena gw duluan yang suka sama Aldi" ucap Renata


"Udah sih sabar ajah! bukannya lu juga ada fans fanatik seperti Jo" ucap Doni


"Gw nggak mau sama Jo, gw cuma mau sama Aldi" ucap Renata


"Dasar posesif" ledek Doni


"Awas ya lu! ngatain gw lagi," ucap Renata sambil memukul lengan Doni


bersambung....


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...

__ADS_1


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...


__ADS_2