Pria Perhitungan (Calculating Man)

Pria Perhitungan (Calculating Man)
54. Sisir dari rambut


__ADS_3

Sebelum tampil manggung, One star selalu memperbaiki tatanan rambut yang berantakan karena di terjal oleh angin semilir.


Ada satu ruangan khusus untuk ruang ganti One star dengan kaca yang besar itu membuat tampilan mereka semakin kece


Seorang pria dewasa sedang mengintip ke arah pintu ambang bertulisan lambang One star dengan tatapan yang cermat dan seksama, Pria itu memperhatikan semua gerak-gerik personal secara perorang, terlebih lagi tempat duduk yang saat ini ada di jejeran ketiga dari semua personil band yaitu Aldi


"Saya harus ambil sisir rambut yang di gunakan oleh anak itu" gumam Hengki


Hengki pun menyelinap masuk ke ruang privasi mereka dengan menyelinap tanpa sepengetahuan siapa pun dia mengambil beberapa helai rambut Aldi lalu memasukan ke dalam kantung plastik putih yang dia sudah persiapkan sebelum masuk ke ruang privasi tersebut


Setelah mengambil sample DNA, Hengki langsung menelepon Tuan besar, namun tidak juga di angkat karena kesibukan yang di laluinya membuat dia lupa waktu


Kring!


"Halo, Tuan besar. Saya ingin melaporkan bahwa sample tes DNA saya sudah dapatkan" ucap Hengki


"Tuan besar sedang meeting dan tak bisa di ganggu oleh siapa pun" ucap Theo sang asisten


"Oh, Maaf ini dengan siapa?" tanya Hengki


"Saya dengan Theo Asisten Tuan besar Wildan" ucap Theo


"Oh, Tolong sampaikan jika saya membawa berita penting ini" ucap Hengki


"Baik, akan saya sampaikan kepada Tuan besar" ucap Theo

__ADS_1


"Terima kasih" ucap Hengki


********


Usai meeting besar Adrian melangkahkan kakinya menuju ruangan yang tertata rapi dan sejuk dengan pot bunga sebagai hiasan serta lukisan yang nampak kuno namun bersejarah di hatinya yaitu mendiang istrinya yang sangat ia cintai memakai gaun pengantin bersama dengan dirinya


"Sayang sampai sekarang aku masih merindukan kehadiran sosok kamu untuk menguatkan hati ini,"ucap Adrian sambil memandang lukisan besar yang terpampang jelas saat memasuki ruang rahasia


Tiba-tiba saja ketukan kasar mengagetkan Adrian di sela-sela ia berbicara pada sebuah lukisan kuno yang menurut Adrian sangatlah penting dan bersejarah tersebut


Tok


Tok


Tok


Tok


Tok


kemudian air mata Adrian di seka seketika karena dia tidak ingin ada yang mengetahui dia sedang meratapi mendiang istrinya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya


"Andai saja, anak kita masih berada di sini! mungkin aku tidak akan merasa kesepian karena masih ada darah kental kamu yang mengalir di sosok anak kita" lirih Adrian


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Ketukan itu datang kembali membuyarkan angan-angan bersama anak terkasihnya


"Maaf, Tuan besar saya mengganggu waktu anda dengan mendiang istri anda" ucap Theo


"Ada apa kamu sampai masuk tanpa seizin saya, sudah berani lancang kamu!" geram Adrian


"Sekali lagi saya minta maaf Tuan besar karena saya datang ke sini untuk membicarakan sesuatu yang mendesak" ucap Theo


"Apa yang mendesak kamu sampai kamu menyerobos masuk seperti itu" ucap Adrian


"Ada hal penting yang perlu saya sampaikan" ucap Theo


"Apa?! cepat! jangan banyak bertele-tele" ucap Adrian


"Sebelumnya saya minta maaf lagi karena telah lancang untuk mengangkat ponsel, Tuan besar" ucap Theo


"Saya bilang berapa kali! jangan banyak basa basi! cepat katakan! mau saya pecat kamu!" geram Adrian


"Hengki tadi telepon ke ponsel, Tuan besar untuk memberitahukan bahwa dia berhasil mengambil sample DNA" ucap Theo


bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...


__ADS_2