Pria Perhitungan (Calculating Man)

Pria Perhitungan (Calculating Man)
32. Darma Wangi


__ADS_3

Bus sekolah melaju dengan kecepatan sedang melintas pohon besar yang rindang akan lebatnya daun-daun semilir yang berterbangan di bawah rintik hujan Anak-anak tetap bersemangat untuk bersenandung ria agar menghilangkan rasa kantuk sang supir bus yang sedang menyetir


Setibanya di panti asuhan Darma wangi. Anak-anak menuruni tangga bus satu persatu dengan tertib mereka melangkahkan kaki mereka untuk menerima penjelasan terkait mengenai panti asuhan Darma wangi


Darma wangi


Panti asuhan ini sudah lama berdiri sejak tahun 1900 an, di mana letaknya sangat strategis karena dekat dengan persimpangan jalan raya dan Darma wangi ini didirikan oleh penatua bernama Darma Sanjaya, beliau adalah pendiri tempat ini sekaligus penyumbang terbesar untuk anak-anak yang memerlukan kasih sayang orang tua asuh seperti Denisa yang masih berusia 5 tahun, di usianya yang masih kecil dia tidak bisa merasakan pelukan hangat dari kedua orang tuanya, sehingga panti asuhan Darma Wangi selalu memberikan kasih sayang layaknya pengganti orang tua kandung


"Ternyata gw baru tahu kalau Kakek Darma adalah pemilik panti asuhan ini" gumam Agnes dalam hatinya


Setelah penjelasan yang di berikan oleh Bu Yanti, kini Bu Yanti memberikan instruksi agar anak-anak tidak salah dalam mengambil suatu tindakan


"Anak-anak, kita akan membagikan alat-alat tulis ini untuk anak-anak panti yang membutuhkan perlengkapan untuk sekolah dan sembako. Tolong kalian bantu untuk membagikannya" ucap Bu Yanti

__ADS_1


"Baik, Bu"ucap serentak anak-anak


Satu persatu paper bag di serahkan kepada seluruh anak-anak untuk di bagikan kepada anak panti asuhan Darma Wangi dengan sukacita mereka pun membagikan kepada anak-anak yatim yang membutuhkan, dengan ukiran senyuman riang bahagia terlihat jelas di mimik wajah anak-anak panti bahkan bukan hanya alat-alat tulis saja yang di berikan, tetapi sembako pun di berikan seperti beras, minyak, gula, terigu, garam, dan kebutuhan lain


*****


Di tengah keramaian kota yang menjulang tinggi gedung perkantoran, Seorang pria paruh baya sedang memegang bingkai foto mendiang istri tercinta yang telah pergi dari dunia.


"Aku merindukanmu" ucap paruh baya dengan mulut yang bergetar serta meneteskan air matanya


"Ia, Saya sangat merindukan dia beserta anak saya" ucap Wildan Kartadinata


"Pasti anak Tuan besar akan seumuran dengan Jonathan" ucap Theo

__ADS_1


"Kamu benar sampai sekarang kita belum menemukan anak saya dari istri yang sangat saya cintai! andai waktu dulu saya memberitahu kepada dia bahwa saya juga harus menikah dengan pilihan orang tua, mungkin dia tidak akan lari dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi" ucap Wildan


"Sudahlah, Tuan besar jangan menyesali apa yang sudah ada di belakang" ucap Theo


"Iya, kamu benar peristiwa itu sudah lama sekali saya kubur dalam-dalam, ucap Wildan sambil menyimpan kembali bingkai foto pernikahan mendiang istrinya


"Saya akan berusaha mencari kembali putra, Tuan besar yang telah lama hilang" ucap Theo


"Cari Junior Kartadinata sampai ketemu. Saya yakin dia masih hidup karena jasadnya tidak pernah di temukan" ucap Wildan


"Baik, Tuan besar saya akan mengerahkan semua anak buah untuk mencari kembali Tuan muda Junior" ucap Theo


bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...


__ADS_2