
"Tuan muda Jonathan, boleh saya berbicara sebentar?" pinta Theo
"Ada apa?" tanya Jonathan dengan nada datar
"Hmmmm, Apa pemuda yang bernama Aldi adalah teman sekolah, Tuan muda Jonathan?" tanya Theo
"Benar, dia teman sekolah aku, kenapa?" tanya Jonathan
"Apa Tuan muda tahu warna kesukaannya pemuda bernama Aldi itu?" tanya Theo
"Mana aku tahu dia menyukai warna apa! kamu pikir saya dekat dengan itu orang, memang ada apa sih?! sampai kamu mencari tahu warna kesukaan dia?" tanya Jonathan
"Oh, saya pikir Tuan muda tahu. Maafkan saya Tuan muda. Saya permisi dulu" Pamit Theo
Ketika Theo hendak melangkahkan kakinya menuju arah sebaliknya, Tiba-tiba saja tangan kanan Theo di cekal oleh tangan Jonathan karena merasa sangat penasaran mengenai apa yang barusan ia tanyakan mengenai warna kesukaan seorang pria yang menurut Jonathan itu sangat tidak penting, namun asisten Ayahnya menyelidiki membuat Jonathan merasa sangat curiga atas gerak-gerik yang di lakukan oleh sang asisten.
"Jawab dulu pertanyaan saya! baru boleh kamu pergi" Hardik Jonathan
"Maaf, Tuan muda. Pertanyaan apa yang ingin saya jawab?" ucap Theo
"Kamu mencari tahu mengenai warna kesukaan si Pria perhitungan bernama Aldi itu untuk apa?! apa ini ada kaitannya dengan Papi?" tekan Jonathan
"Hmmm, aduh mati saya harus jawab apa?! seharusnya saya tidak usah menanyakan apa pun tentang Tuan muda Junior kepada Tuan muda Jonathan," ucap Theo dengan menelan saliva kasar
"Cepat JAWAB!!!" bentak Jonathan
__ADS_1
Theo bergeming menatap sosok gahar seorang Tuan muda Jonathan yang sedang di Landa kemarahan, hingga kepala Theo tertunduk lesu menutup kedua matanya.
Tiba-tiba saja suara teriakan dalam mansion membuyarkan keduanya
"Jonathan" seru Wildan
"Papi?! tumben pulang ke mansion?" tanya Jonathan
"Kamu kenapa berteriak seperti itu kepada Theo? memangnya kamu ini ingin Theo menjawab apa?" tanya Wildan
"Theo itu tadi bertanya kepadaku mengenai warna kesukaan si pria perhitungan yang bernama Aldi" ucap Jonathan
"Hah?? Jangan-jangan yang di maksud oleh Jonathan itu adalah anak kandungku junior! kenapa sampai Theo ceroboh sekali menanyakan hal semacam itu kepada anak angkat saya" gumam Wildan
"Mungkin saja Theo itu adalah paman Aldi, dia ingin memberi kado kepada keponakannya" celetuk Wildan
"Oh, maaf ya. Aku nggak ada maksud untuk membuat kamu seperti itu hanya saja kamu membuat saya jengkel dengan lama menjawab" ucap Jonathan
"Maafkan saya, Tuan muda" ucap Theo
"Yasudah, lain kali jangan di ulang" ucap Jonathan
"Sudah kita masuk lagi, Jo! Papi ingin kamu bercerita banyak mengenai teman-teman sekolah kamu itu" ucap Wildan
"Oke, tapi aku ke toilet dulu ya" pinta Jonathan
__ADS_1
"Oke, Papi tunggu di ruang makan" ucap Wildan
"Iya" ucap Jonathan
Setelah kepergian Jonathan, Wildan pun melirik Theo dengan lirikan mematikan versi dia yang membuat merinding orang yang di tatapnya
"Kamu itu bodoh sekali! ngapain kamu menyelidiki warna kesukaan anak kandungku dengan bertanya pada Jonathan! jangan sampai dia tahu kebenaran ini! saya nggak mau dia sakit hati! bagaimana pun juga dia sudah saya anggap anak sendiri" ucap Wildan
"Maafkan keteledoran saya, Tuan besar"ucap Theo
"Kamu ini selalu saja membuat masalah! sekali lagi kamu begini. Saya tidak segan-segan untuk memberhentikan kamu sebagai asisten saya" ancam Wildan
"Ampun, Tuan besar jangan pecat saya dari pekerjaan ini. Saya benar-benar minta maaf dengan apa yang saya telah lakukan" ucap Theo
"Baiklah kali ini kamu saya maafkan, tapi lain kali tidak akan ada ampun, mengerti!" ucap Wildan
"Mengerti, Tuan besar," ucap Theo dengan menundukkan kepalanya
"Sekarang Kamu selidiki Junior di sekolah tanpa Jonathan tahu. Paham!" bentak Wildan
"Baik, Tuan besar. Saya akan lakukan sesuai dengan perintah" ucap Theo
Bersambung ..
...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa Like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku kalian sebagai favorite/subscribe...
__ADS_1
...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...