
Di lain tempat..
"Tuan, sepertinya Marvel mempunyai seorang gadis. Sepertinya Marvel menyayangi gadis itu," kata salah satu orang bertopeng itu misterius.
"Bagus! Cari info tentang gadis itu lebih lanjut. Kita bisa menggunakan gadis itu sebagai kelemahan Marvel," ujar pemimpin bertopeng itu.
"Baik, Tuan. Maaf saya lancang, apa yang Anda akan lakukan setelah ini? Apakah kita masih menunggu atau bertindak?" tanyanya.
"Sepertinya aku ingin memberi hadiah kecil dulu sebagai peringatan. Bermainlah sedikit dengan gadis itu akan menyenangkan. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?"
"Iya, Tuan."
Di kediaman Marvel..
"Marvel, aku ingin kembali ke tempat tinggal ku," kata Raina pelan.
"Tempat tinggal mu?" Marvel bertanya ulang.
"Iya, aku belum bayar kos gara-gara kamu mengajak ku ke Chicago.."
"Apa kau tidak nyaman di sini?"
"Ehm, nyaman tapi aku ingin sekali kembali ke kos ku."
"Baiklah, aku akan mengurusnya. Untuk biaya kos mu akan ku bayarkan, anggap saja sebagai ucapan terima kasih kau telah menemani ku."
"Tidak usah, Marvel. Aku bisa mencarinya sendiri. Aku tidak mau merepotkan mu."
"Aku tidak merasa direpotkan, lagi pula ini sudah menjadi keputusan ku. Aku akan meminta Reinald mengantar mu dengan selamat."
"Terima kasih banyak, Marvel."
"Mari nona, saya antar."
__ADS_1
Raina pun kembali ke kosnya.
Marvel POV..
"Kenapa rasanya tidak rela kalau dia jauh-jauh dariku? Tapi aku tidak ingin memaksanya untuk tetap di sini. Aku akan mengawasinya dari jauh," putus Marvel dalam hatinya.
"Oh tidak, aku kepikiran terus. Aku merasa kehilangan," gusar Marvel sambil mengusap wajahnya kasar.
"Reinald, apakah Raina sudah kembali ke kosnya?" tanya Marvel pada Reinald.
"Sudah, Tuan," balas Reinald.
"Kirim beberapa anak buah ku untuk mengawasi Raina dari jauh!" perintah Marvel.
"Baik, Tuan."
"Carikan aku orang yang bisa ku buat mainan saat ini."
Raina POV..
"Akhirnya aku kembali juga ke kosku. Uh, aku sangat rindu dengan kasurku ini. Walaupun kecil tapi tak ada yang mengalahkan kenyamanannya," ujar Raina dalam hati.
Raina merentangkan diri nya di kasur.
"Sepi sekali rasanya. Kenapa dengan diriku? Kenapa aku merasa kangen dengan Marvel? Ingat Raina kau itu bukan siapa-siapa Marvel, jadi kau tidak pantas untuk mengingatnya. Anggap saja kejadian kemarin-kemarin tidak pernah terjadi. Ok semangat Raina untuk harimu besok, " ujar Raina menyemangati diri nya sendiri.
Di sisi lain..
"Bagaimana kau sudah mencari info gadis itu?"
"Sudah, Tuan. Namanya Raina Crystal. Dia dirawat oleh orang tua angkatnya Chriss Guardy Michael dan Celine Laura Armaia, tapi keduanya meninggal akibat kecelakaan. Orang tua kandungnya tidak diketahui. Dia mempunyai sahabat bernama Aileen Asley Varaya. Dia berkuliah di Hargort karena mendapatkan beasiswa, tapi beasiswanya dicabut karena dia jarang masuk sebab harus bekerja. Dia dipecat dari pekerjaannya karena tak sengaja menumpahkan minuman ke Marvel. Marvel sepertinya tertarik, sampai ia menculik nya dan membawa nya ke Chicago juga," jelas orang bertopeng itu panjang lebar dan sangat detail.
"Menarik! Sepertinya Marvel menyukai gadis itu. Di mana gadis itu sekarang? Aku ingin bermain sebentar dengan nya."
__ADS_1
"Benar, Tuan. Inilah kesempatan Anda, karena tidak beberapa lama setelah mereka ke Indonesia, gadis itu telah kembali ke kosnya."
"Bagus sekali! Lakukan apapun cara dari yang halus sampai kasar agar dia mau menurut dengan kita. Sementara buat dia menjauhi Marvel dulu."
"Baik, Tuan. Saya akan melemahkan anak buah Marvel yang berjaga di sana terlebih dahulu."
"Lakukan secara perlahan."
Hari selanjutnya..
"RAINA! Kau ini ke mana saja? Aku mengkhawatirkan mu tahu," teriak Aileen kepada sahabatnya ini.
"Maafkan aku Aileen, aku lupa memberi tahu mu. Ceritanya panjang. Intinya aku baik-baik saja di sini."
"Ya benar, tapi aku kan ingin tahu, Raina. Pokoknya kamu harus cerita nanti."
"Baiklah. Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Sangatlah buruk. Kau tahu tidak? Sejak kau tidak ada, aku merasa tidak semangat dan tugas ku juga tidak terurus. Lagian kenapa sih kau itu pakai dicabut segala beasiswanya, aku kan jadi kehilangan sahabat pintar ku ini."
"Haha kamu harus semangat , Aileen. Kamu tahu sendiri kan kalau aku ini tidak bisa melanjutkan kuliahku lagi karena aku sekarang harus fokus bekerja. Bahkan aku Habi dipecat dari kerjaan ku. Aku harus mencari lowongan lagi."
"APA? KAU DIPECAT?" teriak Aileen karena kaget.
"Bagaimana bisa? Kau ini sangat rajin, reputasi di dalam kerjaan pun bagus," lanjut Aileen.
"Nanti aku ceritakan. Bantulah aku mencari kerjaan baru. Rasanya susah sekali mencari pekerjaan. Aku ditolak mentah-mentah di mana pun."
"Aku akan membantumu sebisa ku."
"Terima kasih Aileen."
"Sudah seharusnya, kita ini sahabat, jangan terlalu sungkan."
__ADS_1