RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 16


__ADS_3

Marvel POV..


"Raina.. Dia kenapa? Apakah aku ada salah? Apakah aku melakukan sesuatu yang tidak disukainya? Sepertinya terakhir kali kita bertemu, semua baik-baik saja," kata Marvel dalam hati.


Marvel pun kembali ke mobil dengan perasaan sulit diartikan.


BRAK!


Reinald yang lagi teleponan kaget karena mendengar suara pintu mobil yang ditutup keras oleh Marvel.


Reinald ingin bertanya tapi ia takut Tuannya lagi badmood. Ia mengurungkan niatnya bertanya.


"Cepat jalan!" perintah Marvel.


Reinald sudah hafal. Jika seperti ini, berarti Marvel suasana hatinya lagi tidak enak. Lebih baik diam saja tidak menanyakan apa-apa karena Reinald tidak mau jadi imbasnya.


Setelah sampai, Marvel langsung buru-buru masuk ke dalam mansionnya.


Di dalam kamar Marvel.


PRANGG!!


Marvel memecahkan vas bunga yang ada di depannya. Ia juga mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Sebenarnya kau kenapa Raina?! Kenapa kau menjauhiku? Apa salahku hah? Kau menghindar tanpa penjelasan!" teriak Marvel.


Orang-orang di luar kamar Marvel sudah ketakutan.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu!" putus Marvel mencoba untuk berpikir positif.


Raina POV..


"Huft, aku tak tega tadi melihat Marvel. Tolong lah Marvel semoga kau tidak marah padaku. Aku melakukan ini terpaksa. Aku tidak mau Aileen dan keluarganya celaka karena aku," ujar Raina berbicara sendiri.


Raina mengambil teleponnya dan menghubungi satu nomor.


Tut.. Tut.. Tut..


"Lagi-lagi tidak diangkat! Aileen benar-benar! Aku sudah menyuruhnya untuk selalu mengaktifkan telepon."


Raina merebahkan dirinya ke kasur dan menatap langit-langit rumah sambil berkata, "semoga apa yang ku lakukan saat ini benar."


Orang bertopeng POV.


Di suatu ruangan..


"Bos, bagaimana rencana selanjutnya?"


"Biarkan seperti itu. Nanti ada saatnya kita ubah permainan. Aku rasa cewek itu tidak bodoh. Dia pasti menyusun rencana juga dan berusaha untuk memberitahu si Marvel itu!"


"Kelemahan Marvel di gadis itu. Kenapa tidak langsung saja kita sakiti gadis itu? Agar Marvel merasa.."


Pemimpin orang bertopeng itu memotong pembicaraan anak buahnya, "kau tidak perlu mencampuri rencanaku. Aku tahu apa yang harus ku lakukan. Aku lebih suka melakukannya secara perlahan!"


"Baik bos, saya akan memerintahkan yang lain untuk menambah jumlah orang buat mengawasi gadis itu."

__ADS_1


"Ku rasa tidak perlu."


"Tapi bos.."


"Pasti gadis itu saat ini menuruti kita. Dia juga tidak tahu kapan kita akan mengawasinya atau tidak. Jika dia berhasil memberi tahu Marvel, kita akan ubah permainan."


"Baik bos. Saya permisi."


"Hmm," sambil memutar kursi, "kau salah mencari musuh Marvel."


Marvel POV.


Di ruang latihannya.


(Ruang latihan itu kayak buat latihan bela diri, latihan menembak, latihan memakai pisau, dan lain-lain).


"Tuan, maaf mengganggu," ujar Reinald hati-hati.


Jika hati Tuannya ini sedang tidak enak/badmood, Tuannya itu lebih sensitif mengenai semua hal. Maka dari itu lebih baik kita yang menjaga ucapan.


"ADA APA CEPAT KATAKAN!" ucap Marvel dengan nada yang keras.


"Tuan, ini kesempatan Anda untuk mendapatkan suntikan jenis terbaru," kata Reinald sopan.


"Di mana? Kapan?" tanya Marvel tak sabaran. Dia tidak ingin berbasa-basi.


"Nanti malam Tuan, di tempat biasa," jawab Reinald.

__ADS_1


"Baik nanti malam, aku akan ke sana. Sebelum aku mendapatkan nya, lebih baik kau menyiapkan percobaan. Aku harus mencoba suntikan itu. Jangan lupa kau urus kadar-kadar di suntikan itu. Aku ingin mengetahuinya!" perintah Marvel tak terbantahkan.


"Baik Tuan. Saya permisi," pamit Reinald sambil menutup pintu.


__ADS_2