RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 44


__ADS_3

Keheningan sempat melanda mereka. Shara belum membuka topik pembicaraan.


"Ada apa?" tanya Marvel mengawali pembicaraan.


"Aku.."


"Tanyain aja kali ya. Apa tidak usah ya?" kata Shara dalam hatinya.


"Kenapa?" tanya Marvel sekali lagi.


"Tadi kamu ke rumah Ayah kan? Apa ini penyebab kamu murung dan lesu? Aku menyadari kau berbeda saat pulang," ujar Shara sambil menunjukkan raut wajah khawatir.


Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang melanda kepalanya. Biarkanlah ia berbicara banyak.


Kini gantian Marvel yang diam. Ingin menjawab tapi bibirnya serasa tidak dapat mengeluarkan kata-kata.


"Benar kan Marvel apa yang aku bilang barusan?" desak Shara.


"Iya," jawab Marvel singkat.


"Kamu ke sana cuman ingin menengok keadaan Ayah kan? Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Terus kamu juga sudah sampaikan salamku pada Ayah kan? Apa dia masih mengingat dan mengkhawatirkanku?" tanya Shara beruntun.


"Tadinya begitu. Kau yang menyuruhku ke sana untuk berkunjung. Jika tidak aku sangat malas ke sana. Ayah baik-baik saja. Dia terlihat sangat bahagia dengan keluarga barunya. Tidak sedikit senyum dan tawa yang mereka keluarkan," ujar Marvel menjelaskan pada Shara.


"Maaf aku lupa menyampaikan salammu padanya. Dia tidak bertanya apapun tentangmu," lanjut Marvel pelan. Marvel takut itu akan menaruh goresan pada hati kakaknya tersebut.


Shara sedih mendengarnya.


"Kamu tuh berharap apa sih Shara? Sudah tahu kalau Ayah tidak akan ingat denganku. Kenapa sih kamu selalu menaruh harapan yang sudah pasti tidak akan terwujud?" batin Shara miris.


"Tidak apa-apa. Aku sudah menduganya. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Ayah? Apa kalian semakin dekat lagi?" tanya Shara dengan senyum pura-puranya.


Memang sudah dikatakan bahwa Shara adalah orang yang mampu menutupi kesedihannya dengan senyumannya. Tapi beberapa orang pasti bisa melihat bahwa itu bukanlah senyum kebahagian melainkan senyum kesedihan.


Marvel memandang kakaknya iba.


"Kau tahu kak, kalau itu tidak mungkin terjadi," jawab Marvel.


"Apa yang membuatmu murung dan terlihat banyak pikiran seperti ini? Jujur saja pada kakak, aku sangat mengenal adikku ini. Pasti ini ada hubungannya dengan Ayah," ujar Shara.


Marvel bingung harus menjelaskan atau tidak karena ia takut jika ia menjelaskan maka ditakutkan akan menambah beban pikiran Shara.

__ADS_1


"Hey! Tidak usah takut akan menambah beban pikiranku," kata Shara seolah-olah tahu akan isi pikiran Marvel. Ia lalu mengusap rambut Marvel lembut layaknya seorang Ibu.


Marvel menikmati usapan Shara di kepalanya. Rasanya seolah-olah ia merasakan kembali kehadiran seorang Ibu di hidupnya.


"Mungkin hatiku sudah kebal kak, tidak ada rasa iri lagi di dalam hatiku saat melihat mereka bersama-sama bahagia," ujar Marvel memulai.


"Walaupun mungkin dalam lubuk hati yang terdalam ini masih terselip rasa iri," lanjut Marvel di dalam hatinya.


Shara merasakan hatinya seperti tertusuk benda tajam. Sungguh malang nasib mereka.


"Berdekatan dengan Ayah malah membuatku semakin tidak tahan. Emosiku tidak stabil."


"Jangan terpancing Marvel. Kamu tidak boleh seperti dulu lagi. Kamu tidak boleh menjadi boneka Ayah, Marvel!" ujar Shara.


"Aku sudah berusaha untuk tidak emosi. Aku berhasil untuk menahannya. Dia mengancamku. Orang tua itu mengancamku," ujar Marvel geram jika mengingatnya.


"Mengancam? Mengancam apa?" tanya Shara dengan kening yang mengkerut.


"Dia mengancamku. Jika aku tidak menghadiri acara barusan, dia akan melakukan sesuatu padamu dan Raina."


Shara terkejut. Ayahnya menggunakannya sebagai ancaman. Sakit rasanya mendengarnya.


"Kenapa dia melibatkan Raina yang tidak tahu apa-apa? Jangan ada korban lagi kumohon," lirih Shara.


"Aku tadinya tidak berniat sama sekali untuk menghadiri acara yang dia buat. Tapi mengingat kalian di rumah tanpa diriku, sudah dipastikan orang-orang yang aku suruh akan kalah. Aku tidak ingin mengambil risiko," lanjut Marvel.


"Acara apa sebenarnya Marvel?" tanya Shara penasaran.


"Aku awalnya juga tidak tahu. Aku menghadirinya tadi. Ku pikir itu adalah acara bisnis. Ternyata, Ayah berencana untuk menjodohkanku dengan anak dari sahabatnya. Bahkan sekarang aku sudah bertunangan dengan anak sahabatnya tersebut," ujar Marvel sambil mengatur emosinya.


"Apa? Bertunangan?" kata Shara kaget.


Pasalnya ia tidak akan pernah menyangka bahwa Ayahnya itu merencanakan hal yang lain. Memang Ayahnya itu sudah gila.


Marvel mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. Itu adalah cincin pertunangannya.


Shara masih menatap tidak percaya pada Marvel.


"Sebenarnya apa lagi yang Ayah mau dari kita Marvel? Apa tidak cukup dia menyakiti kita?" lirih Shara.


"Aku juga tidak tahu. Banyak kejanggalan di sini."

__ADS_1


"Kejanggalan apa? Oh ya, lalu bagaimana dengan wanita yang dijodohkan denganmu?" tanya Shara.


"Aku tidak menyukai wanita itu. Dia bermuka dua. Aku yakin itu. Sok polos di depan banyak orang. Banyak berbohong," ujar Marvel menggambarkan Cia.


Shara menghela napasnya kasar.


"Aku tidak habis pikir dengan pikiran Ayah."


"Kak, kau tahu tentang Rara kan?" tanya Marvel datar.


"Tentu."


"Aku dapat info dari satpam perumahan Ayah. Ia menceritakan sesuatu denganku. Aku tidak tahu pasti, tapi menurutku Ayah merencanakan sesuatu dengan menggunakan Rara sebagai umpan," ujar Marvel terang-terangan.


"Astaga kasihan Rara, dia masih kecil. Eh? Rasanya dari kata-katamu itu banyak yang janggal. Bukannya Ayah menyayangi Rara?" tanya Shara dengan kening yang mengkerut.


"Ya, aku juga belum tahu. Nanti aku selidiki," balas Marvel.


"Istirahat dulu. Aku keluar," lanjut Marvel.


Shara tidak menjawab Marvel. Banyak sekali pembicaraan mereka tadi. Itu membuat badan Shara sudah tidak bertenaga. Shara langsung menidurkan dirinya di ranjang.


Marvel keluar dari kamar Shara. Ia menemukan Raina yang memejamkan matanya di sofa.


Marvel mendudukan dirinya di samping Raina. Ia menatap Raina dengan lekat.


Sedangkan Raina merasa kalau ada yang menatapnya. Raina langsung membuka matanya.


Mata keduanya bertemu. Menatap satu sama lain. Mereka tak sadar dan saling menikmati keindahan mata masing-masing.


Hingga Raina pun kembali ke kesadarannya. Ia salah tingkah mengingat kejadian barusan saja.


"Kamu ngagetin saja sih!" ujar Raina sambil memutar bola matanya mencari objek apapun. Ia menghindari tatapan Marvel yang masih menatapnya lekat.


"Tapi kamu kelihatannya tidak kaget tuh," balas Marvel.


Marvel kesal karena gadis di depannya ini tidak mau menatapnya. Ia pun meraih dagu Raina dan menghadapkan kepala Raina secara paksa agar melihat ke arah Marvel. Raina hanya bisa melongo melihat perbuatan Marvel.


"Ih kamu apaan sih?" tanya Raina dengan semburat merah di wajahnya.


"Marvel... Aku tidak tahan dengan jantungku. Aku deg-degan Marvel," batin Raina.

__ADS_1


"Cantik... Mata ini adalah mata kesukaanku. Aku tidak akan pernah membiarkan seseorang menyentuhmu," batin Marvel.


Mereka berdua saling tatap dan saling membatin.


__ADS_2