
Marvel pun kembali dan menghampiri Raina.
"Ayo! Kamu mau main yang mana?" tanya Marvel lembut.
Raina pun mengedarkan pandangannya, "aku bingung. Apa kamu bisa bermain basket?"
Mata Marvel pun tertuju mengikuti apa yang ditunjuk Raina.
"Kamu mau main itu?" tanya Marvel setelah menemukan apa yang ditunjuk oleh Raina.
"Pengen nyoba.. Aku belum pernah main basket," jawab Raina.
"Ya sudah, ayok ke sana."
"Iya."
Mereka pun telah sampai di depan permainan basket itu.
Marvel langsung menggesek kartunya ke mesinnya. Raina hanya menatap bola basketnya.
"Ayo, mainin dong," kata Marvel yang melihat Raina hanya diam saja.
"Ih Marvel! Aku sudah bilang aku tidak bisa mainnya. Ajarin," rengek Raina seperti anak kecil.
Marvel terkekeh, "baiklah, ikutin aku!"
Marvel mengambil bola basketnya dan mengapit tubuh Raina.
Marvel pun menjelaskan dan memperlihatkan cara mainnya.
Raina lama-lama mengerti dan sudah mulai bisa.
"Sudah ah! Aku capek. Tenagaku habis," kata Raina menggebu-gebu.
"Baru segitu aja sudah capek," ledek Marvel.
"Ih jelaslah capek," sarkas Raina.
"Mau main apa lagi?"
"Mesin permen!" kata Raina antusias.
__ADS_1
"Mesin permen?"
"Iya! Lumayan dapet permen," kata Raina polos.
Lagi-lagi Marvel menuruti permintaan Raina.
"Yey! Dapet permennya banyak," ujar Raina senang.
Raina pun memakan satu permennya.
Diam-diam Marvel memfoto Raina. Marvel pun terkekeh melihat Raina yang sangat lucu dan cantik.
"Marvel! Aku mau tantang kamu!" kata Raina dengan suara cukup kencang.
"Apa?" tanya Marvel bingung.
"Kalau kamu bisa dapet boneka di mesin pencapit boneka, aku bakal kasih kamu hadiah!"
"Apa hadiahnya?"
"Permen," jawab Raina polos.
"Aku tidak mau kalau hanya permen, bagaimana dengan satu ciuman?" tawar Marvel.
"Deal, satu kecupan di pipi saja," ujar Raina dengan suara yang menggemaskan.
"Hm baiklah," pasrah Marvel.
"Satu kecupan pun tidak apa-apa," batinnya.
Di mesin pencapit boneka..
Marvel berusaha untuk serius mendapatkan bonekanya.
Terbukti! Hanya sekali, Marvel langsung mendapatkan boneka yang diinginkan Raina.
"Aku memang hebat," puji Marvel ke dirinya sendiri.
"Hebat!" Tanpa lama-lama Raina langsung mengecup kedua pipi Marvel.
"Harusnya hanya satu kecupan, satu lagi bonus," katanya sambil mengerjabkan matanya lucu.
Marvel masih terdiam. Hanya dengan kecupan di pipi membuat Marvel melayang.
__ADS_1
"Lalu selanjutnya kita ke mana, Marvel?" kali ini Raina yang bertanya duluan.
"Apa kamu lelah? Ingin istirahat dulu?"
"Sepertinya aku tidak lelah. Aku masih ingin mencoba banyak hal. Bagaimana?"
"Baiklah."
Akhirnya mereka pun menghabiskan waktu untuk bermain banyak permainan. Hampir semua permainan mereka coba.
"Sudahlah Marvel, aku tidak kuat. Aku lelah sekali," kata Raina dengan napas yang ngos-ngosan.
"Baiklah, ini minum dulu," ujar Marvel sambil memberikan minum pada Raina.
"Makasih!"
"Aku mau ke toilet dulu, Marvel."
"Baiklah, aku akan tunggu di sini," ucap Marvel.
Raina pun pergi menuju ke arah toilet.
Di sisi lain, Marvel sedang membuka galerinya yang penuh dengan foto Rainanya. Banyak foto di mana Raina terlihat sangat menggemaskan dan tentunya sangat cantik.
Bahkan Marvel menjadikannya sebagai wallpaper hp nya.
Di toilet..
Raina sudah selesai dan sekarang ia sedang membasuh tangannya di bawah air mengalir.
Saat ia menengok ke arah kaca, ia kaget karena ada orang bertopeng yang mengganggunya waktu itu.
"Kamu mau apa?" takut Raina.
"Tenang baby, kamu masih ingat perjanjian kita. Sepertinya ada yang lagi bahagia berduaan dengan Marvel Jonathan."
Raina sudah tidak bisa berkata apa-apalagi. Ia ingin berteriak tapi bibirnya kelu.
Orang bertopeng itu membawa pecahan beling di tangannya.
Raina semakin takut di buatnya.
"Kamu mau ngapain sama pecahan beling itu?" tanya Raina was-was.
__ADS_1
"Let's play the game, baby!"