RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 48


__ADS_3

Ratih masih risih dengan kelakuan pria yang ia tabrak itu. Pria yang tak lain namanya adalah Nathan.


Ratih memilih untuk makan dengan diam. Tak berniat untuk membuka suara. Ia memilih untuk cepat-cepat menyelesaikan kegiatan makannya.


"Maaf, aku buru-buru. Suamiku menunggu," ujar Ratih.


Nathan yang mendengar kata suami itu langsung menatap tak suka pada Ratih. Rasa cemburu melingkupi hatinya.


"Baiklah aku mengerti. Bolehkah aku meminta nomer teleponmu?" tanya Nathan. Sebenarnya tanpa diberitahu oleh Ratih pun, ia sudah mengetahui nomer teleponnya. Ya, sekedar basa-basi saja.


Ratih tampak berpikir.


"Nomor telepon? Buat apa sih? Aku berharap bahkan tidak bertemu dengannya lagi," batin Ratih.


"Oh kau tidak mau ya? Ya sudahlah, padahal aku hanya ingin sekedar menjadi temanmu. Kalau tidak mau tidak apa-apa," ujar Nathan.


"Mana handphone mu? Aku masukkan nomerku," kata Ratih luluh.


Nathan tersenyum. Ia menyerahkan handphonenya pada Ratih. Kemudian, Ratih memasukkan nomer teleponnya pada handphone Nathan. Lalu Ratih pamit keluar dari restoran itu.


"Pria aneh!" ujar Ratih setelah berada di luar.


"Gara-gara dia waktuku habis. Seandainya aku tidak menabrak dia tadi. Huft, aku jadi tidak mood untuk mencari perlengkapan bayi yang lainnya. Untung tadi sudah cukup banyak," lanjut Ratih berbicara sendiri.


Ratih pun menuju pulang ke rumahnya karena merasa tidak mood lagi dan kelelahan. Ia menyetop sebuah taksi.


Sesampainya di rumah, Ratih menghela napasnya. Ternyata Raihan belum juga pulang. Ratih mengelus perutnya yang buncit.


"Sebentar lagi kamu lahir nak, temenin mama ya. Kesepian nih kalau papa kamu kerja mulu," ujar Ratih pada perutnya.


Beberapa bulan kemudian..


Banyak perubahan yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Raihan yang menjadi gila kerja. Pulang subuh, pergi kerja pagi. Tidak lagi menyempatkan waktu untuk Ratih. Bahkan seperti tidak ingat kalau ada anaknya yang akan lahir ke dunia.


Seperti pagi ini.


"Mas kamu mau berangkat kerja lagi? Kan baru pulang, masa sudah kerja lagi sih," kata Ratih sembari menghela napasnya kasar.


"Iya aku mau kerja lagi," ujar Raihan datar.


Ini juga termasuk perubahan Raihan. Tidak ada lagi kelembutan di setiap kata-katanya. Bahkan sekarang Raihan hanya sering menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan dari Ratih.


"Kamu kenapa sih berubah mas? Apa salah aku? Kamu juga jadi gila kerja gini. Kapan mas ada waktu buat aku sama anak kita yang akan lahir?" tanya Ratih terisak. Ia ingin mencurahkan isi hatinya.


Raihan tidak menjawab. Ia membenarkan perkataan Ratih. Sesungguhnya ia tak tega bersikap seperti itu padanya. Ia hanya sangat pusing mengurus perusahaan dan juga di saat pusing seperti itu ada orang yang mengiriminya foto-foto Ratih bersama pria lain. Itu membuat Raihan semakin pusing.


Raihan pergi keluar kamarnya tanpa mengatakan satu atau dua kata. Ratih memandang sendu ke arah pintu.


"Kenapa sebenarnya kamu mas? Tolong kembalikan suamiku yang dulu," ujar Ratih terisak kencang.


Di sela-sela tangisannya, handphone Ratih berbunyi. Itu menandakan bahwa ada orang yang meneleponnya. Di situ tertera nama Nathan. Ratih menjawabnya sembari sesenggukan.


Ya, selama Raihan berubah. Nathan lah yang menjadi tempat curhat Ratih. Bahkan saat dia ngidam, Ratih bukannya meminta pada Raihan untuk menuruti keinginan anaknya tetapi Ratih meminta kepada Nathan.


"Nangis lagi? Kenapa sih? Kasihan anak kamu," jawab Nathan di sana.


"Mas Raihan sudah benar-benar berubah, Nat. Aku tidak tahu harus apa lagi. Aku takut ia nantinya tak menganggap anak ini anaknya," kata Ratih diiringi tangisan yang lebih kencang.


"Keterlaluan suami kamu. Kita ketemuan ya? Kamu bisa curahkan seluruh isi kamu ke aku. Oh ya, kamu mau main ke pasar malam tidak hari ini? Lumayan buat ngehilangin rasa sakit hati kamu," ujar Nathan lembut.


"Aku mau," jawab Ratih cepat.


"Ya sudah nanti aku jemput," kata Nathan mengakhiri pembicaraan.


Ratih mulai terbuai dengan perlakuan manis Nathan. Nathan yang selalu menemaninya. Bahkan menganggap anak di kandungannya itu sebagai anaknya. Ia jadi bimbang dengan perasaannya. Raihan, suaminya yang dulu ia sangat dicintai telah berubah. Itu membuat Ratih bimbang. Rasanya cinta Ratih pada Raihan mulai terkikis.

__ADS_1


Kini Ratih berada di pasar malam bersama Nathan. Setelah tadi mereka menghabiskan waktu untuk mencurahkan isi hati mereka. Ratih semakin suka pada Nathan yang mau menjadi pendengar yang baik.


"Mau naik bianglala?" tanya Nathan.


"Boleh," balas Ratih.


Mereka berdua menaiki bianglala bersama. Saat mencapai atas atau disebut juga puncaknya. Nathan tiba-tiba memegang dan menggenggam kedua tangan Ratih.


"Mungkin menurut kamu aku gila. Aku tahu itu. Tapi sakit rasanya menyimpan semua rasa ini sendiri. Aku tahu kamu sudah punya suami. Aku tahu kamu mencintai pria lain. Aku juga tahu kalau tidak akan pernah ada rasa yang tumbuh padamu untukku. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku sungguh tulus padamu, Ratih. Entah dari pertemuan pertama, aku sudah merasakan perasaan yang aneh saat bersamamu. Aku mencintaimu Ratih," ujar Nathan panjang lebar dengan nada yang tulus dan manis.


Siapa pun yang mendengarnya pasti akan luluh. Termasuk Ratih. Ia sungguh kaget dengan pernyataan Nathan barusan. Ia tak menyangka kalau ternyata Nathan menyimpan rasa padanya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa di sini Ratih sangat senang saat pernyataan itu keluar dari mulut Nathan. Katakanlah bahwa Ratih sudah mulai gila sekarang.


"Kamu beneran mencintaiku?" tanya Ratih pelan tetapi masih bisa didengar oleh Nathan.


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu Ratih. Tapi aku tahu kamu tidak mungkin membalasnya. Bahkan kita berdua seperti ini saja sudah menambah rasa bersalahku pada suamimu," jawab Nathan dengan raut wajah sedih.


"Nathan. Sepertinya aku juga sudah mulai gila. Aku tidak tahu dari kapan perasaan ini timbul. Tapi tiap hari kamu yang selalu ada untuk mengisi ruang hatiku yang kosong. Raihan, suamiku sudah berubah. Ku rasa cintaku pada Raihan telah berpindah kepadamu," ujar Ratih yakin.


Nathan tersenyum.


"Aku tahu Ratih. Aku sengaja membuat perusahaan Raihan mengalami kesusahan. Aku juga sengaja membuat Raihan panas dengan foto-foto kita berdua. Bahkan aku juga sengaja melakukan itu agar Raihan berubah sikapnya terhadapmu. Karena aku tahu, Raihan tipe orang yang cemburu. Di saat itulah adalah saat yang tepat untukku mengambil hatimu. Dan sekarang aku berhasil. Kau bodoh Raihan," batin Nathan panjang.


"Tapi, bentar lagi anak kamu akan lahir. Itu adalah buah cintamu dengan Raihan. Aku menyerah, Ratih. Aku akan mundur," kata Nathan sambil mengusap kedua pipi Ratih.


"Tidak! Tolong jangan mundur. Aku mencintaimu. Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih dekat. Kita bisa diam-diam. Tolong, kita bisa bersama-sama menyembunyikannya dari Raihan," ujar Ratih yang sudah terpengaruh oleh semuanya. Ia tak sadar bahwa ucapannya itu sungguhlah jahat.


"Aku ingin jujur denganmu satu hal. Maaf selama ini aku bohong. Bolehkan kau berjanji padaku untuk tidak marah?" kata Nathan.


"Aku janji."


Waduh ternyata Ratih juga ada rasa nih sama Nathan. Gimana dong ya hubungan Ratih dan Raihan?


Beberapa episode masih membahas tentang masa lalu mereka ya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit biar kalian dapat notif dari aku terus kalau update.


Ditunggu ya kelanjutannya.


__ADS_2