
Raina POV..
"Kita mau ke mana?" tanyanya pada Rosella.
"Ke ruangan ku," jawab Rosella santai.
Di Ruangan Rosella..
"Kau pernah menggunakan benda ini?" tanya Rosella sambil menunjuk pada pisau.
"Pernah. Kalau masak aku pasti pakai pisau untuk memotong bawang misalnya," ujar ku polos.
"Astaga Raina kau ini sungguh polos, maksud ku jika ada orang yang jahat kepadamu, apa kau menggunakannya?"
"Tentu tidak Rosella, aku tidak akan mau menusuk orang dengan itu," kata Raina ngeri sambil menunjuk pisau itu.
"Tapi ini adalah wujud perlindungan diri Raina, sini aku ajarkan."
"Tap.."
"Coba kamu lihat bantal itu. Anggap itu orang yang menjahati mu atau mungkin kau punya dendam terhadap seseorang," sarkas Rose cepat.
"Ok sini tanganmu, arahkan seperti ini lalu lempar. Aku akan memberimu contoh."
JLEB..
Bantal itu terkoyak.
"Giliranmu mencoba Raina!" ujar Rosella antusias.
"Em seperti ini?" tanya Raina sambil melempar pisau ke arah bantal.
"Wah hebat, untuk pemula seperti mu. Lain kali kita akan belajar banyak ok. Tapi sayangnya , sekarang kita pergi berbelanja saja. Aku sudah bosan di sini."
"Tapi aku tidak membawa uang Rosella.."
"Astaga kau datang bersama Marvel, kau bisa minta uang ke dia. Oh ya, cukup panggil aku Rose, sepertinya Rosella terlalu panjang untukku."
"Aku tidak enak meminta uang pada Marvel, Rose."
__ADS_1
"Ya sudah pakai duitku. Ayo," kata Rose sambil menarik tangan Raina.
Di pusat perbelanjaan..
"Ramai sekali di sini!"
"Jelas ramai Raina , namanya juga mall . Lihat itu Raina," kata Rose sambil menunjuk ke arah baju, "ayo kita ke sana. Aku ingin berbelanja baju bersamamu."
"Baiklah Rose, ayo!"
Di toko baju..
"Mba, saya mau baju keluaran terbaru dan terbaik. Tolong ukurannya samakan dengan temanku ini," kata Rose pada salah satu penjual di toko baju tersebut.
"Baik kak, tunggu sebentar ya. Kakak ini silahkan ikut saya," ajak penjual itu.
Setelah beberapa menit..
"Aku sudah selesai Rose," ujar Raina.
"Gila-gila, kamu cantik banget Raina!" puji Rose.
"Benarkah? Terima kasih Rose."
"Baik kak, silahkan."
Rose pergi ke kasir dan membayarnya.
"Ini buat kamu Raina. Anggap saja ucapan terima kasih kamu telah menemani ku belanja."
"Kau sungguh baik, tapi ini tidak usah Rose, aku jadi tidak enak padamu."
"Sudah tidak apa-apa. Ayo kita berkeliling."
Marvel POV..
"Bagaimana bisnismu?"
"Lancar," jawab Darren sambil menyeruput minumannya.
__ADS_1
"Baguslah, sudah lama kita tidak bertemu. Tumben sekali kau ke Chicago."
"Ada urusan sedikit, apakah cewek tadi adalah gadismu?"
"Ya bisa dibilang seperti itu, kurasa aku tertarik padanya."
"Kau menyukainya?"
"Aku tidak tahu Darren. Tapi tiap dekat dia rasanya sungguh nyaman."
"Itu artinya kau menyukainya. Bagaimana dengan tikus-tikus di perusahaan mu itu? Ku dengar perusahaan minyak mu ada yang korupsi."
"Sudah ku bereskan. Darren, sepertinya aku tidak bisa lama-lama mengobrol denganmu. Aku akan menjemput gadisku dulu. See you next time, Darren!"
"Baiklah Marvel, ku sarankan kau terus memperjuangkan gadis itu. Jangan buat dia kecewa," kata Darren terkekeh, "see you, too."
Marvel menjemput Raina.
"Raina, ayo kita balik," ujar Marvel.
"Sepertinya sudah ada yang menjemputmu Raina, lain kali kita akan hangout seperti ini lagi ok?" kata Rose.
"Baiklah Rose, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku akan menggantinya di lain waktu."
"Tidak usah Raina, aku ikhlas. Kalau gitu aku pamit. See you!"
"See you too, Rose!" ucap Marvel dan Raina bersamaan.
Kini tinggal Raina dan Marvel.
"Apa kau sudah makan?"tanya Marvel.
"Sudah tadi."
"Kita akan terbang ke Indonesia sekarang."
"Sekarang?"
"Ya, sekarang. Ayo kurasa pesawat ku sudah menunggu."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka pun pergi dari sana dan pergi ke dalam pesawat. Ya mereka terbang ke Indonesia.