
Raina menghentikan langkah kakinya. Sedikit lagi saja, sudah dipastikan Raina berada dalam genggaman Nathan.
"Ada apa mama? Laina hanya mau belsama om itu," kata Raina sembari mengernyitkan dahinya. Maklum, anak-anak yang masih kecil mudah dibohongi dan belum banyak mengerti tentang banyak hal.
"Tidak boleh ke sana, Raina. Sini cepat balik sama mama," ujar Ratih panik. Ia tidak mau anaknya itu dijadikan tameng Nathan.
"Sini Raina mama bilang," ujar Ratih sekali lagi dengan penuh penekanan. Nia pun sudah panik saat melihat Raina yang berada dekat dengan Nathan.
"Haduh sayang, masa kamu tidak boleh sama om sih. Padahal kita kan sudah lama tidak bertemu. Om kan kangen banget sama Raina. Memang Raina tidak kangen dengan om?" tanya Nathan dengan nada seolah-olah dibuat sedih agar berhasil mengguncang hati anak kecil itu.
Raina tampak berpikir.
"Benal kata om ini, kenapa mama melalangku untuk mendekat ke om ini?" ujar Raina yang semakin bingung.
Nathan diam-diam melangkahkan kakinya menuju Raina. Hanya butuh sedikit langkah kaki, Nathan sudah dapat menggapai Raina.
Nathan menggapai Raina dengan satu tangannya. Ia mengambil Raina ke dalam gendongannya. Itu membuat semua orang yang berada di situ menegang. Bahkan tak mampu untuk berkata-kata.
"Pintar banget sih. Mau tidak main sama om?" tanya Nathan kepada Raina. Raina masih anak-anak. Dia tentunya hanya tahu maksud dari Nathan yaitu bermain seperti anak-anak pada umumnya. Padahal maksud Nathan adalah bermain berbeda yang tentunya akan membuat Ratih dan yang lainnya khawatir.
"Jangan berani-beraninya kamu sentuh anak saya sedikit pun!" ancam Raihan. Dalam lubuk hatinya Raihan sudah sangat panik, tapi ia berusaha untuk tetap melihatkan sisi tenangnya.
"Papa kenapa teliak-teliak? Telinga Laina dalitadi sakit mendengal papa teliak telus," protes Raina yang berada di gendongan Nathan. Bagi Raina, berada di dekapan Nathan sungguh hangat dan nyaman karena Nathan mendekapnya sungguh kasih sayang dan penuh kelembutan. Tentu Nathan hanya berpura-pura agar Raina tenang bersamanya.
"Lihatlah, anakmu saja tidak keberatan kok. Kamu terlalu berisik, Raihan. Mengganggu pendengaran di sini memang," ucap Nathan sambil meninggikan dagunya sombong.
"RAINA! KENAPA KAMU TIDAK MENDENGAR PAPA DAN MAMAMU? CEPAT KE SINI KAMI BILANG!" bentak Ratih. Habis sudah kesabaran Ratih. Ia tidak mau terjadi apa-apa kepada anak satu-satunya.
Raina menangis tersedu-sedu karena kaget dengan bentakan mamanya. Ini adalah pertama kali bagi Raina. Pertama kali Raina dibentak oleh orang yaitu mamanya sendiri.
"Om, Laina tidak mau belsama mama. Mama malah sama Laina. Laina takut. Mama seperti monstel," ujar Raina di sela-sela tangisannya dan mempererat pelukannya pada Nathan.
Nathan tersenyum miring.
__ADS_1
"See? Your child is afraid of her biological parents. She chose me. Well, all of you lose, to win over your child's heart. I am the winner. Sorry to say it," kata Nathan terkekeh.
"Sialan!" umpat Ratih melihat anaknya ketakutan dan membuat Raina semakin nempel dengan Nathan.
"Raina kamu tidak perlu takut. Om ada di sini. Nih om kasih Raina lolipop. Om dengar Raina sangat suka dengan lolipop," kata Nathan dengan nada membujuk.
Raina langsung mengambil lolipop dan memasukkannya ke dalam mulut. Oh iya, satu fakta yang harus diketahui bahwa Raina paling tidak bisa melihat lolipop. Ia pasti langsung tergiur saat melihat lolipop.
Saat Raina mengemut lolipop itu dalam mulutnya, ia kemudian menjatuhkan lolipop itu ke lantai. Raina kemudian merasa matanya sangat berat dan tertidur lelap di bahu Nathan.
Semua terkejut melihat Raina yang tiba-tiba seperti itu.
"Kau memberi apa di lolipopnya, sialan?" kata Raihan emosi.
"Hanya semacam obat tidur. Ups," jawab Nathan dengan nada menyebalkan.
Ratih tidak tahan dengan semua ini. Ia mendekat ke arah Nathan dan berusaha merebut Raina dari dekapan Nathan. Sayangnya, tidak semudah itu.
"Kembalikan dia padaku!" ujar Ratih geram.
"CUKUP! Jangan bawa-bawa Raina! Cukup anakku yang jadi pelampiasanmu," ucap Nia membuka suara. Dari tadi dia hanya menyimak apa yang terjadi.
Nia membeku kala ada seseorang suruhan Nathan membawa Marvel dan Shara ke arahnya.
"Apa lagi ini?" batin Ratih lelah.
Marvel dan Shara dalam keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Bajunya compang-camping bekas cambukan. Sudut bibir mereka sobek bekas tamparan.
"Anakku!" ujar Nia histeris melihat keadaan keduanya. Nia langsung mendekat dan mendekap keduanya penuh kasih sayang.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Nia yang masih menangis.
Marvel dan Shara mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Entah semua ini jadi membingungkan. Nathan juga tiba-tiba membalikkan Raina pada dekapan Ratih.
"Ratih.. Jika seandainya ini hari terakhirmu dan anakmu melihat dunia, apa yang kamu mau sampaikan sebagai pesan terakhir?" kata Nathan lembut.
Ratih semakin menegang. Dia berusaha mencerna ucapan Nathan.
Raihan langsung maju dan memukul telak Nathan di rahangnya. Raihan sudah habis kesabarannya saat Nathan mengucapkan kata yang menurutnya sangat tidak layak diucapkan.
Nathan membalas balik pukulan Raihan. Hasilnya terjadi baku hantam antara Raihan dengan Nathan.
Ratih mengkode Nia untuk membawa dirinya bersama Marvel dan Shara ke tempat yang aman. Nia mengangguk dan berlari dari situ sejauh mungkin. Walau ia tahu, Marvel dan Shara sudah trauma dengan semua yang mereka alami.
Ratih bimbang. Ini pilihan yang sulit. Firasatnya sungguh tidak enak. Jika ia ingin membawa Raina ke tempat aman, bagaimana dengan Raihan? Tak mungkin ia membiarkan Raihan sendirian melawan Nathan.
Raihan kewalahan dan terjatuh karena sebuah pukulan yang sangat kencang mendarat ke kepalanya.
"RAIHAN!" teriak Ratih spontan.
"KABUR DARI SINI RATIH! KU MOHON APA PUN YANG TERJADI, KAMU HARUS MELINDUNGI ANAK KITA. BILANG PADANYA AKU SANGAT MENYAYANGINYA," teriak Raihan yang seperti sudah mengetahui bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Ratih dan juga Raina.
Ratih menangis. Tidak ada pilihan lain. Ia harus kabur membawa Raina.
Raihan mengalihkan pandangan Nathan yang akan mengejar Ratih yang keluar dari pintu belakang. Raihan memukul kembali muka Nathan. Nathan langsung mengeluarkan revolver nya dari saku. Ia kemudian menodongkan revolver nya ke kepala Raihan.
"Kau membuat Ratihku kabur! Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini terakhir kalinya Raihan!" ucap Nathan sembari menekan pelatuk revolver dan terdengarlah bunyi tembakan yang nyaring.
Ratih yang belum jauh dari rumah itu mendengar suara tembakan yang sangat nyaring di telinganya.
"Raihan.. Maafkan aku, Raihan! Aku janji pengorbananmu tidak akan sia-sia. Aku akan menyelamatkan anak kita. Terima kasih banyak Raihan kau telah menyelamatkan anak kita di akhir hidupmu," ujar Ratih sembari meneteskan air matanya.
Aku nulisnya deg-degan gaes.. Sedih banget sama Raihan.. Semoga Ratih berhasil membawa Raina ke tempat yang aman agar pengorbanan Raihan tidak sia-sia..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit.
Ditunggu ya kelanjutannya.