RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 42


__ADS_3

"Saya tidak bisa," ujar Marvel.


Marvel tidak mau bertunangan dengan orang yang tidak dicintainya. Bahkan dia baru saja kenalan dengan orang yang dijodohkan dengannya. Bahkan dilihat-lihat dari fisik dan kelakuannya, Marvel sudah menilai kalau cewek itu tidak baik sifatnya.


Cia merubah wajahnya masam.


"Kamu mau nolak pun kita bakal tetep tunangan kali," ujar Cia kesal dalam hatinya.


"Pokoknya kamu harus tunangan dengan Cia. Lagian Cia itu orangnya baik, cantik, berkarir, cocok banget deh sama kamu," kata Ayah Marvel.


"Tolong jangan mengatur saya. Kalau saya tidak mau ya tidak! Saya juga sudah punya perempuan yang saya cintai," ujar Marvel datar.


"Berani-beraninya! Siapa perempuan itu? Awas saja, aku akan merebut Marvel darinya!" tekad Cia dalam hatinya.


"Jauhi cewek itu! Putuskan hubunganmu dengannya!" perintah Ayah Marvel tegas.


Brak!


Marvel berdiri dari duduknya dan memukul meja dengan telapak tangannya.


Cukup sudah kesabarannya telah habis.


"Aku mencintainya dan akan terus begitu. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Bahkan dia pun juga tidak akan pernah menggesernya di hatiku," ujar Marvel dingin sambil menunjuk wajah Cia.


"Apa-apaan sih kamu Marvel!" bentak Ayahnya.


"Cepat duduk lagi, jangan bikin malu Ayah!" lanjutnya.


"Anda.."


"Jangan mencoba melawan atau sekarang juga kakakmu dan gadis itu ku lenyapkan," potong Ayah Marvel berbisik di samping telinga Marvel.


Marvel pun menurut. Ia duduk kembali.


"Sialan! Jika dia tidak menggunakan ancaman itu, sudah kupastikan aku pergi dari sini," batin Marvel.


"Jadi bagaimana ini?" tanya wanita yang merupakan Ibu dari Cia.

__ADS_1


"Lanjutkan pertunangannya. Lalu beri mereka waktu untuk berdua," ujar Ayah Marvel.


Cia tersenyum lebar.


"Marvel, pakaikan cincin ini ke Cia. Dengan ini status kalian akan terikat menjadi tunangan."


Marvel hanya bisa pasrah. Bukannya ia tidak bisa melawan Ayahnya, tapi karena suatu hal Marvel harus menurut. Apalagi Ayahnya memgancam. Marvel tahu bahwa ancaman Ayahnya tak pernah main-main. Terutama dia lagi di luar meninggalkan Raina dan Shara. Orang-orang suruhannya tidak akan mampu melawan Ayahnya.


Marvel mengambil cincin itu dan memberinya ke Cia. Matanya seolah-olah mengisyaratkan Cia untuk memakai cincinnya sendiri.


Cia mendengus kesal.


"Tidak ada romantisnya sama sekali! Masa disuruh pakai sendiri sih, bukannya dia juga!" gerutu Cia dalam hatinya.


"Maaf semua, mungkin perjodohan ini membuat Marvel tertekan. Cia tidak bisa melanjutkannya. Percuma, Cia takut malah hal buruk yang menimpa Cia dan Marvel nantinya," ucap Cia dengan suara yang dibuat-buat. Ia sok sedih padahal di dalam hatinya, ia sangat senang bisa bertunangan dengan cowok dengan paras tampan itu.


"Cih, sandiwara!" batin Marvel tak suka.


"Tidak bisa gitu dong, sayang. Lama-kelamaan juga kamu dan Marvel pasti bakal saling mencintai. Mama yakin dengan itu. Kamu pernah dengerkan sayang kalau misalnya cinta tumbuh karena terbiasa, seiring jalannya waktu. Jadi jalankan saja dulu. Apalagi kalian itu cocok banget. Sama-sama cantik dan sama-sama ganteng," ujar Mamanya Cia meyakini anaknya.


"Tapi jika Marvel ingin menolaknya, Cia tidak masalah. Cia tidak mau terlihat memaksa di sini," katanya dengan raut wajah berpura-pura sedih.


"Tapi.."


"Sudahlah, Marvel cepat kamu pasangkan cincin itu pada jari Cia," suruh Ayahnya.


Marvel pun memasangkan cincinnya pada jari manis Cia. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat terpaksa. Orang-orang di sana tidak ingin kehilangan momen itu. Mereka memfoto Marvel dan Cia yang lagi bertukar cincin.


Cia tersenyum sembari melihat cincin itu. Dia juga senang banyak yang memfotonya.


"Sudah ku bilang, aku dan Marvel akan tetap bertunangan. Aku harap perempuan yang dicintai Marvel melihat kami yang bertunangan. Semoga dia sadar diri dan mundur," batin Cia.


"Selamat ya sayang! Mama seneng banget."


"Terima kasih, Ma."


"Marvel sana ngobrol berdua dulu sama Cia, biar makin deket," kata Ayah Marvel.

__ADS_1


"Kalau gitu Cia sama Marvel ke belakang dulu ya, kebetulan juga ada yang mau Cia omongin sama Marvel," kata Cia lembut.


Cia menarik tangan Marvel dan menggenggamnya. Marvel langsung ingin melepaskan genggaman tangan itu. Tapi, Cia malah makin menguatkan genggamannya. Akhirnya, Marvel ikut saja ke mana ia akan dibawa.


Kini mereka berdua telah sampai di belakang gedung. Ternyata di sana seperti sudah disiapkan untuk mereka dinner berdua.


Candle light dinner romantis. Marvel tidak menyukainya.


"Apa-apaan ini? Aku tidak sudi dinner dengannya," batin Marvel.


"Ya ampun untung disediain kayak gini, bahagianya aku bisa candle light dinner bareng Marvel," batin Cia.


"Kita duduk di sana yuk, dinner sambil ngobrol kayaknya asik," ajak Cia.


"Duluan saja," jawab Marvel datar.


Tanpa membalas ucapan Marvel, Cia langsung menarik Marvel ke tempat duduk yang sudah disediakan.


"Marvel, aku mau ngomong sama kamu."


"Tinggal bicara saja. Langsung intinya, aku tidak suka bertele-tele," ucap Marvel.


"Baiklah. Aku hanya ingin meminta tolong. Tolong sekali kamu menganggapku sebagai tunanganmu, juga perilakumu. Aku ingin kita bahagia, seperti orang-orang yang sudah bertunangan pada umumnya," ucap Cia memohon.


"Tidak! Aku sudah bilang padamu bahwa aku mempunyai perempuan yang kucintai. Aku pun hanya ingin bertunangan dengannya!" jawab Marvel.


"Tolong Marvel. Setidaknya demi keluarga kita juga. Aku tidak mau mengecewakan keluargaku dan tentunya kamu juga tidak mau."


Sebenarnya ini hanya alasan Cia agar Marvel mau dekat dengannya dan tentunya perlahan Cia akan berusaha menumbuhkan rasa cinta di hati Marvel.


"Sekali tidak tetap tidak! Aku tidak peduli jika keluargaku kecewa," kata Marvel tegas.


"Aku tidak boleh menyerah!" batin Cia.


"Kalau aku bisa menolak perjodohan ini, pasti akan kutolak Marvel. Aku sama denganmu. Aku juga punya lelaki yang kucintai. Tapi demi kebaikan kita semua, aku rela melepaskan lelaki itu. Aku berharap kamu akan melakukan hal yang sama Marvel. Jika seperti itu, aku yakin hidup kita semua lebih bahagia."


"Lebih baik kau tidak usah membahasnya lagi, aku muak mendengarnya!" kata Marvel datar.

__ADS_1


"Sebenarnya apa sih keunggulan perempuan itu di matamu? Tolong Marvel. Jika kamu ingin aku menjadi dia, aku akan turuti. Kita harus mengesampingkan ego kita dulu. Kalau perjodohan ini gagal, aku rasa mamaku akan sedih sekali. Kau tak lihat tadi raut wajahnya begitu senang setelah kita bertunangan? Tolong jangan menghancurkan semuanya. Jangan hancurkan impianku untuk membanggakan kedua orang tuaku," ucap Cia mengeluarkan air matanya.


Tentu itu hanyalah air mata palsu.


__ADS_2