
Raina hanya mampu menghabiskan buburnya setengah saja. Itupun Marvel sangat susah membujuknya.
"Sudah ya, aku kenyang banget," rengek Raina.
"Hambar banget lagi, ih ga suka!" batin Raina.
"Baru dikit, ayo lagi," bujuk Marvel yang masih menyuapi nya.
Raina mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Huft," hela Marvel.
Marvel pun menuruti Raina, ia berhenti menyuapinya dan meletakkan mangkok di meja.
"Istirahat lagi ya?" tanya Marvel halus.
"Bosen, aku juga tidak ngantuk," kata Raina.
Lagi-lagi Marvel menghela napasnya. Ia pun menawari Raina lagi, "mau nonton?"
"Mau," jawab Raina antusias.
Daripada bosen tiduran terus, lebih baik nonton aja. Marvel yang mendengar jawaban dari Raina pun langsung menyalakan TV dan menyetel siaran yang bagus.
Tiba-tiba pintu dibuka, terlihat dokter dan suster tengah berjalan menuju brankar Raina.
"Sudah sadar rupanya," kata Dokter itu seraya tersenyum.
"Iya dok," balas Raina ramah.
"Saya periksa dulu ya," kata Dokter itu sambil mulai memeriksa keadaan Raina.
__ADS_1
"Apa kondisinya sudah stabil?" tanya Marvel saat melihat dokter itu sudah selesai memeriksa Raina.
"Begini pak, kondisinya saat ini sudah membaik. Tapi tetap dia masih membutuhkan donor darah itu, karena jika tidak kondisinya bisa drop lagi," jelas Dokter itu.
Raina pun mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak salah dengar kan? Buat apa aku butuh donor darah? Memangnya separah itu kah?" Raina bertanya-tanya dalam hatinya.
Marvel yang sedari tadi melirik ke arah Raina pun mengerti apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Nanti aku jelaskan," ujar Marvel ke Raina seraya mengusap rambutnya pelan.
"Kalau gitu saya permisi ya," pamit Dokter dan suster itu.
"Iya, terima kasih dokter," kata Raina pelan.
Setelah dokter dan suster itu keluar dari ruangan, Raina pun langsung menuntut penjelasan dari Marvel.
"Matanya jangan melotot juga kali," kata Marvel pelan hampir menyerupai bisikan.
Marvel pun gelagapan, "orang daritadi aku diem kok."
"Kenapa tadi dokter itu bilang aku butuh donor darah?" tanya Raina penasaran.
"Ya jelas karena kamu kekurangan darahlah."
"Nyesel aku nanya sama kamu," ujar Raina.
"Kan waktu itu darah yang keluar dari pergelangan tangan kamu banyak, itu penyebabnya. Terus kamu golongan darahnya AB, itu langka. Di rumah sakit ini stoknya kosong," jelas Marvel sedetail-detailnya.
"Oh."
__ADS_1
Marvel membulatkan matanya. Ia sudah berbicara panjang lebar tapi hanya ditanggapi satu kata oleh gadis itu.
"Kamu donorin darah ke aku ya?" tanya Raina menebak-nebak.
"Kok bisa tahu?"
"Aku sering lihat di film-film atau novel. Biasanya kan gitu," kata Raina menyengir.
Marvel memutar bola matanya malas. Bagaimana bisa orang di depannya ini menyamakan kehidupan nyata dengan kehidupan film ataupun novel.
"Lupakan. Kau butuh sesuatu lagi?" Marvel mengalihkan topik.
"Keluar yuk, aku bosen di sini terus," ajak Raina.
"Tidak bisa! Kamu itu masih sakit, baru aja sadar sudah minta keluar," tolak Marvel.
"Ih, tapi aku kan bosen."
"Ini sudah malam, Raina. Mau keluar? Terserah sih kalau mau ketemu hantu," ujar Marvel santai.
Marvel berniat menakut-nakuti Raina agar Raina tidak mau merengek untuk pergi keluar terus.
Terlihat Raina yang langsung menegang saat mendengar kata hantu. Raut wajah nya berubah menjadi ngeri.
"Tidak mau! Aku mau di sini aja. Amit-amit aku ketemu hantu," kata Raina kencang.
Dalam hati, Marvel sudah tertawa melihat ekspresi Raina.
"Ya sudah, tidur saja lagi. Kalau kamu tidak tidur nanti ada yang gangguin loh," jahil Marvel lagi.
"Bener kayak gitu?" tanya Raina polos.
__ADS_1
"Iya. Sering kok yang digangguin di sini," ujar Marvel dengan wajah yang meyakinkan.
"Fine, aku tidur sekarang," ucap Raina takut sambil menarik selimutnya.