RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 59


__ADS_3

"Maaf, aku mungkin mengingatkanmu pada hal-hal yang tidak ingin untuk kamu ingat kembali. Lalu apakah kamu tidak ingin untuk mendapatkan kembali ingatanmu yang hilang saat kecil? Mungkin dengan itu kamu bisa mencari keberadaan orang tua kandung kamu," saran Marvel sembari membelokkan stir mobil.


"Mungkin aku tidak ada niatan untuk mengingat kembali masa-masa itu. Aku sudah pasrah dengan takdir," ujar Raina dengan menatap kosong ke arah jendela mobil.


"Kenapa harus pasrah? Sangat disayangkan, di sini kita sama-sama tidak tahu bagaimana keadaan orang tua kandung kamu. Siapa tahu kamu bisa bertemu lagi," ujar Marvel.


"Ku rasa kita tidak akan bertemu lagi. Jika pun mereka masih hidup, mungkin mereka juga tidak menganggap ku ada lagi di dunia ini. Buktinya mereka tidak mencariku. Menurut aku juga wajahku tidak terlalu berbeda dengan aku waktu kecil. Bukankah itu akan mudah untuk mencariku seharusnya?" kata Raina miris.


"Ya tapi beda lagi urusannya jika orang tuaku memang tidak menginkanku hadir di kehidupan mereka," lanjut Raina.


"Tidak boleh berpikiran seperti itu dulu, Raina. Bisa saja kan orang tuamu mencarimu ke mana-mana? Tapi memang belum waktunya kalian bertemu. Aku yakin mereka mencarimu dan merindukanmu. Siapa sih orang tua yang tidak merindukan anaknya yang hilang?" ujar Marvel meyakinkan Raina.


"Ya, hanya aku yang tidak pernah dirindukan oleh orang tuaku. Bahkan Ayahku saja tidak pernah menganggap ku ada. Ibuku sudah..," batin Marvel miris terhadap nasibnya. Ia tidak dapat melanjutkan perkataannya dalam hati karena ia kembali sedih mengingat apa yang terjadi.


"Banyak yang bilang bahwa dunia ini kecil. Lantas kenapa mereka tidak pernah menemukanku jika mereka mencariku? Ya salah satu kemungkinan terbesar adalah aku tidak dicari mereka," ucap Raina.


"Baiklah jika itu argumenmu. Aku hanya menyarankan untuk jangan berpikir macam-macam terlebih dahulu jika tidak tahu kebenarannya. Aku juga merasa jangan hanya orang tua kamu yang berjuang, tapi kamu juga harus berjuang dan membuktikan bahwa kamu juga mencari dan membutuhkan mereka. Kamu berusaha untuk mendapatkan fakta-fakta dan bukti-bukti tentang diri kamu di masa lalu. Kamu juga harus berusaha menemukan ingatan kamu pada masa kecil. Aku yakin jika sama-sama berusaha pasti kalian bisa bersatu kembali," kata Marvel panjang lebar.


Jarang-jarang kan Marvel mau menasihati orang..


"Ucapan mu ada benarnya juga Marvel. Mungkin di sini aku juga kurang berusaha untuk menemukan mereka. Terima kasih telah menyadarkanku. Aku berharap bisa bersatu kembali. Aku berharap juga mereka masih ada di dunia ini dan tidak meninggalkan ku sendirian," ujar Raina tersenyum.


"Nah gitu dong senyum. Maaf ya sudah membuat kamu sedih. Aku tidak bermaksud. Aku tidak tahu kalau kehidupan kamu ternyata susah," kata Marvel tidak enak.


Selama bersama Raina, Marvel memang belajar banyak. Di mana Marvel belajar tentang kepedulian terhadap sesama, cara mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan permintaan maaf jika ia berbuat salah. Memang Raina ini adalah pembawa hawa positif bagi Marvel.


"Kamu sudah meminta izin tadi, tidak perlu minta maaf. Lagi pula aku menjawabnya, itu artinya kamu tidak salah. Hm, sudahlah jangan omongin tentang ini lagi. Kita ganti topik saja. Ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tanya Raina dengan mata mengarah ke lawan bicaranya, Marvel.


"Aku ingin bertanya tentang.."


Ucapan Marvel terputus kala ada yang meneleponnya. Bunyi nyaring notif telepon Marvel sangat mengganggu.


"Sebentar," ujar Marvel.


Raina mengangguk.


Marvel melihat nama yang tertera di teleponnya, ia tidak berniat menjawab karena yang meneleponnya adalah Cia si pengganggu.

__ADS_1


Marvel meletakkan teleponnya dan kembali menyetir.


Telepon itu terus berbunyi. Sepertinya akan terus berbunyi sampai Marvel mengangkatnya.


"Kenapa tidak dijawab? Itu dia telepon mulu lho. Siapa tahu penting," ujar Raina lembut.


"Tidak penting. Mungkin orang asing, aku tidak kenal," bohong Marvel.


"Ckck ganggu saja kamu Cia!" risih Marvel dalam hatinya.


Saat Marvel ingin mematikan teleponnya, ia melihat sederet pesan yang Cia kirimkan padanya.


Cia : Marvel!


Cia : Jawab telepon aku, Marvel!


Cia : Ih kamu tuh lagi ke mana sih?


Cia : Bener-bener kamu, Marvel!


Cia : Ih beneran kamu masa tidak mau jawab telepon aku sih!


Cia : Baiklah kalau begitu, aku aduin saja ke papa kamu kalau kamu lagi berduaan sama perempuan lain dan tidak mau menjawab telepin dariku.


Cia : Ingat ya Marvel. Aku tidak pernah main-main.


Marvel kesal melihat sederet pesan yang dikirimkan Cia.


"Selalu saja menggunakannya sebagai ancaman. Sialan kau, Cia! Kali ini kamu yang menang, tapi lain kali aku tidak akan mau diperintah olehmu," batin Marvel.


Raina sedari tadi memperhatikan raut wajah Marvel yang berubah-ubah. Raina heran sebenarnya siapa yang mengiriminya pesan dan siapa yang meneleponinya terus menerus.


Marvel pun mengangkat teleponnya.


"Ada apa? Aku sibuk, cepat katakan apa maumu?" sarkas Marvel cepat.


"Aduh sayang! Kamu kok galak banget sih sama aku. Aku ini tunangan kamu lho, kalau kamu lupa. Mau kamu aku aduin sama Ayah?" ujar Cia di telepon dengan nada mengancamnya.

__ADS_1


"Ada apa?" ucap Marvel penuh penekanan dan berpura-pura lembut.


"Aku cuman mau bilang awas saja kalau kamu masih sering bareng sama cewek yang katanya kamu cintai itu. Ingat ya, Marvel! Sekarang kamu itu milik aku dan selamanya akan seperti itu. Jadi jangan berani-berani kamu masih main di belakang aku," ujar Cia panjang.


"Hm."


"Hm mulu saja! Jawab dengan benar Marvel," kesal Cia.


"Iya puas? Kamu neleponin aku cuman gara-gara mau ngingetin itu doang?" ujar Marvel jengah.


"Oh tentunya tidak. Aku mau bilang pokoknya besok kamu harus temenin aku jalan-jalan. Jemput aku di rumah nanti. Jangan sampai telat, awas aja!" kata Cia.


"Ya.. Ya.. Besok aku usahakan kalau aku tidak sibuk," jawab Marvel.


"Pokoknya harus titik. Aku tidak mau tahu urusan kamu, mau kamu sibuk atau apa pun. Ok sayang, terima kasih ya. Sampai bertemu besok. Aku sangat merindukanmu. Love you," ujar Cia dengan nada yang menjijikan di pendengaran Marvel.


Marvel tidak menjawab. Ia langsung mematikan teleponnya.


"Siapa sih?" tanya Raina penasaran. Sesungguhnya ia ingin tahu apa yang mereka bicarakan.


"Bukan siapa-siapa. Hanya teman bisnis yang tidak penting," balas Marvel.


"Oh.. Besok kamu mau pergi ya?" tanya Raina lagi.


"Iya ada yang perlu ku urus."


"Dengan perempuan?" kata Raina tanpa sadar.


"Memangnya kenapa kalau aku pergi dengan perempuan lain? Kamu cemburu ya," kekeh Marvel.


"Mana ada! Aku tidak cemburu," ujar Raina sembari mengalihkan kepalanya ke arah kaca mobil. Ia sungguh malu. Kini pipinya pun sudah merona.


Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit.


Maaf ya kemarin tidak up karena sibuk di real life..


Ditunggu terus yaa kelanjutannya. Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2