RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 58


__ADS_3

Kini Raina dan Marvel berada di mobil. Marvel menyetir dengan santainya. Ia lebih memilih menyetir sendiri agar hanya bisa berduaan dengan Raina saja.


Tadi sempat ada adu mulut antara Marvel, Raina, dan Shara.


Raina menatap orang di sampingnya dengan tatapan kesalnya.


Marvel yang merasa ditatapi langsung menatap balik orang yang menatapinya. Ia terkekeh melihat wajah kesal Raina yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Bukannya aku takut, tapi malah gemas. Wajahmu lucu sekali Raina," ujar Marvel geli dalam hatinya.


"Matamu mau ku colok?" tanya Raina galak. Raina sedari tadi melihat Marvel yang menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Ampun-ampun, nanti mataku tidak bisa melihat kamu yang kayak bidadari lagi," ujar Marvel sembari membalikkan tatapannya seperti semula yaitu menatap jalanan yang sepi.


Mobil itu membelah jalanan. Hari itu, entah mengapa jalanan sangat sepi. Hanya satu atau dua mobil yang lewat di sana.


"Halah kamu bisa saja sih! Kamu pikir aku akan luluh dengan ucapanmu?" tanya Raina yang semakin memperlihatkan raut wajah kesalnya.


"Sudah-sudah tidak perlu dibahas lagi. Lupakan saja. Bolehkah aku bertanya suatu hal yang mungkin sifatnya agak pribadi? Ya jika kamu tidak memperbolehkan, aku juga tidak masalah. Aku paham kok," ujar Marvel santai.


"Kamu mau nanya apa memangnya? Aku harus tahu dulu kamu mau nanya apa. Kalau semisal pertanyaan itu dapat ku jawab, aku pasti akan jawab. Tapi jika aku tidak dapat menjawab dan pertanyaanmu sangat privasi, aku tidak akan menjawabnya. Selesai kan gampang," kata Raina membalas perkataan Marvel.


"Ini menyangkut masa lalu mu, Raina."


"Masa lalu? Memangnya ada apa dengan masa laluku? Ku rasa kamu tidak mengetahui apa-apa juga tentang masa laluku," jawab Raina bingung.


"Maka dari itu aku ingin menanyakan padamu Raina," ucap Marvel gemas.

__ADS_1


"Ya sudah silahkan tanya saja," kata Raina santai. Memang kadang Raina ini membuat orang kesal dan gemas secara bersamaan.


"Sebelumnya aku ingin bertanya kamu itu anak dari orang tua angkatmu yang meninggal karena kecelakaan pesawat itu kan?" tanya Marvel seolah-olah tidak tahu. Padahal ia hanya basa-basi untuk mengorek info yang ingin dia dapatkan. Marvel ingin mengetahui lebih luas tentang Raina. Jika ia bisa bantu Raina untuk menemukan orang tua kandungnya, pasti ia sangat bangga pada dirinya sendiri. Rainanya juga itu pasti akan senang.


"Iya. Kok kamu tahu?" tanya Raina bingung.


"Tentu."


"Hanya itu yang kamu ingin tanyakan?"


"Cukup banyak yang ingin ku tanyakan padamu," jawab Marvel.


"Baiklah silahkan."


"Apa orang tua angkatmu yang meninggal karena kecelakaan itu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Marvel.


"Hmm.. Aku bisa saja menjawabnya, tapi aku tidak enak membicarakan orang yang sudah meninggal," ujar Raina.


"Terserahmu mau menjawab apa tidak. Sebelumnya aku sudah izin padamu untuk bertanya hal yang sifatnya pribadi. Aku pasti akan mengerti kalau ada beberapa yang mungkin sangat privasi yang tidak boleh sampai orang lain tahu.


"Aku akan menjawabnya. Aku percaya padamu," kata Raina tegas.


"Mereka memberiku apa yang aku butuhkan. Aku masih bisa makan, minum setiap harinya. Aku juga masih bisa tidur di tempat yang teduh. Ya kalau kamu bertanya apakah aku diperlakukan secara layak, jawabannya adalah aku tidak tahu. Yang pasti adalah aku kala itu hanya dianggap pembantu oleh mereka. Aku diperlakukan seperti pembantu juga. Tapi ku pikir itu wajar, karena aku juga menumpang pada mereka. Toh mereka tidak pernah meminta bayaran atas tempat tinggal dan kebutuhan lainnya," lanjut Raina.


"Pembantu? Aku sempat mengenal orang tua angkatmu itu dalam hal bisnis. Ku pikir mereka adalah orang yang penyayang. Aku juga mengira mereka tidak akan membeda-bedakan orang. Ternyata perkiraanku salah," kata Marvel sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya memang mereka adalah orang yang penyayang. Kalau aku boleh jujur, aku iri dengan anak kandungnya. Aku selalu dibedakan di sana. Tapi memang aku dan anak kandung orang tuaku itu sangat berbeda jauh. Dari segi fisik tubuh, sifat, dan masih banyak lagi," ujar Raina.

__ADS_1


"Iri itu wajar. Aku jika berada di posisi mu pasti merasakan hal yang sama juga. Lalu kau tahu tidak bahwa apakah kecelakaan pesawat itu juga merenggut anak kandung dari mereka?"


"Tidak.. Anaknya memang ikut dalam pesawat yang sama, tapi raganya tidak dapat ditemukan. Bahkan tidak tahu sekarang dia masih hidup atau tidak," jawab Raina.


"Jika dia masih hidup, apakah kamu mau membalas segala perbuatan jahat dia kepadamu? Aku mengetahui bahwa ia sangat jahat padamu. Ia pernah membully mu. Ia juga pernah menyakiti mu," ujar Marvel.


"Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah membalasnya. Aku sudah ikhlas akan perbuatannya. Lagi pula juga di sini kita tidak mengetahui dia masih hidup atau tidak. Jika dia sudah meninggal, tidak baik dendam dengan orang."


"Ya, benar katamu. Kamu sangat baik. Aku salut denganmu. Baiklah kita ganti pertanyaan. Untuk orang tua kandungmu, apakah kamu mengetahui sedikit pun tentangnya?" tanya Marvel dengan suara yang sedikit dipelankan. Marvel pun menyetel musik pada mobilnya. Ia menyetel lagu yang tersirat kesedihan di lagu itu.


"Tidak, aku tidak mengetahui satu pun fakta tentang keluarga kandungku," jujur Raina.


"Apa keluarga angkatmu tidak pernah sedikit pun menyinggung tentang keluarga kandungmu? Ku rasa mereka tidak mungkin menyimpan apa yang mereka tahu lama-lama," kata Marvel.


"Oh iya, aku ingat! Pernah nenek bercerita padaku bahwa aku ditemukan di belakang tong sampah dekat perumahan. Waktu itu katanya ada insiden penembakan dan juga kecelakaan lainnya. Pokoknya saat itu keadaan sekitaran perumahan itu sangat kacau. Kemudian kata nenek, aku itu ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri karena seperti dibius. Nah, saat aku sadar aku terus meneriaki mama dan papa. Aku juga jadi pemurung, walau pun umurku masih kecil. Entah apa yang kualami saat itu, yang pasti aku bisa tebak kalau aku mengalami hal yang buruk," ujar Raina sembari mengingat-ngingat perkataan dari nenek keluarga angkatnya.


"Katanya sih ya, aku tidak sengaja ketabrak mobil saat sedang depresi kecil. Lalu aku hilang ingatan dan memulai kehidupan yang baru," lanjut Raina.


"Maka dari itu kamu tidak mengingat apa pun tentang keluarga kandungmu? Apa sampai saat ini ingatanmu belum balik juga?" tanya Marvel.


"Benar sekali. Sampai kini ingatanku belum berangsur kembali. Kata dokter, kemungkinan aku ingat itu sangat kecil karena benturan yang sangat kuat itu menyebabkan aku mengalami hilang ingatan semi permanen. Padahal jika aku ingat wajah orang tuaku, pasti mudah untuk mencarinya," ujar Raina lesu.


"Setiap kali aku berusaha mengingatnya, aku pasti akan merasakan kepalaku seolah-olah terhantam oleh batu yang sangat berat."


Jangan lupa like, komen, vote, share, dan klik favorit yaa..


Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2