
"Oh iya nama kamu siapa? Dari tadi aku belum tahu nama kamu," ujar Raina sambil terkekeh. Maklum lupa nanya nama karena saking paniknya dan yang ada dipikiran cuman cara keluar dari tempat yang menyeramkan itu.
"Aku Shania. Panggil saja Nia jika kepanjangan," jawabnya ramah.
"Baiklah Nia, ayok masuk ke rumahku," ajak Ratih seraya menunjukkan rumahnya yang minimalis.
Nia dan Ratih pun memasuki rumah. Keadaan rumah sangatlah sepi. Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Apa memang sepi seperti ini?" tanya Nia bingung.
"Mungkin anakku sedang tidur. Temanku pasti kewalahan menjaga anakku itu. Dia sungguh rewel dan lagi berada pada masa di mana anak sungguh aktif-aktifnya. Aku saja kewalahan menjaganya," ujar Ratih curhat.
"Hm memang melelahkan menjaga anak saat lagi aktif-aktifnya. Tapi sayangnya aku hanya bisa melihat perkembangan Shara doang. Aku sudah dikurung sejak Marvel lahir," lirih Nia.
"Sabar ya," ucap Ratih menenangkan.
Ratih pun membuka pintu kamar. Hal yang pertama kali ia lihat adalah anaknya yang sedang tidur di atas temannya yang sudah terlelap di alam mimpinya. Nampaknya temannya itu habis menidurkan Raina, sampai-sampai ia masih memegang buku cerita dalam tidurnya.
Ratih tersenyum melihat anaknya yang sangat menggemaskan dan cantik saat tidur.
"Benar dugaanku mereka tidur," ucap Ratih pada Nia.
"Ya sudah aku keluar saja dulu, aku takut mengganggu tidur mereka berdua," kata Nia.
Ratih menyusul Nia keluar. Mereka pun duduk bersama di sofa besar di tengah ruangan.
"Maaf kalau aku lancang, tapi aku sungguh penasaran ceritamu dengan Nathan. Bagaimana bisa kalian menikah dan bagaimana bisa juga Nathan mengurungmu selama itu di tempat yang menurutku sangat tidak layak untuk dihuni," kata Ratih bertanya dengan suara yang pelan. Ia takut itu menyinggung perasaan Nia. Ia hanya berusaha berhati-hati dalam berbicara.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ratih. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Kamu benar-benar malaikat yang dikirim untukku. Kamu dapat membebaskanku dari kehidupan yang kelam itu. Walau aku tahu itu hanya dalam jangka waktu yang pendek," jawab Nia.
"Pertemuan pertama kali ku dengan Nathan adalah saat Nathan tidak sengaja menabrakku di sebuah restoran. Lalu kami berlalu begitu saja. Beberapa hari kemudian, orang tuaku menyuruhku untuk datang ke sebuah gedung yang mewah. Aku menurutinya. Entah mengapa aku heran orang tua ku itu menyuruhku untuk berdandan cantik. Biasanya tidak pernah. Saat aku datang ke sana, aku terkejut melihat Nathan. Lebih tepatnya aku mengenalnya sebagai orang yang menabrakku saat itu," lanjut Nia.
"Kejadiannya mirip dengan pertemuan pertama kali ku dengan Nathan juga. Aku ditabrak dia saat membeli perlengkapan bayi. Tapi ia malah mengajakku untuk makan bersamanya," balas Ratih.
"Ya, sepertinya semua orang yang ada sangkut pautnya dengan Nathan pasti pernah ditabrak olehnya," kata Nia terkekeh. "Kemudian yang tak pernah aku sangka, kedua orang tuaku ternyata sudah sepakat untuk menjodohkanku dengan Nathan. Aku tidak mau. Tapi akhirnya, perjodohan itu ku terima karena paksaan. Akhirnya kami menikah. Awalnya Nathan bersikap acuh tetapi masih menerima keberadaanku. Hingga aku mengandung anak pertama dan lahirlah Shara."
"Nathan acuh padamu? Tapi bagaimana bisa kamu hamil?" tanya Raina pelan.
"Pada suatu malam, ia meminta haknya untuk menjadikanku menjadi wanita seutuhnya. Aku bersedia karena ku pikir tidak baik menolak permintaan suami. Setelah Shara lahir, Nathan sangat dingin denganku. Tapi ia selalu memenuhi keperluan dan kebutuhanku dengan Shara. Nah malam seperti itu terjadi lagi, tapi bedanya Nathan dalam keadaan mabuk kali ini. Ia tidak sadar melakukan itu denganku. Aku sungguh sedih sebenarnya. Tapi mau diapakan lagi. Ternyata itu berbuah hasil. Aku mengandung kembali anak keduaku yaitu Marvel," terang Nia.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar atau mabuk," geram Ratih saat mendengar cerita dari Nia.
"Hm. Aku juga terpuruk saat itu. Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan Marvel. Saat sudah balik dari rumah sakit, Nathan memisahkan Marvel dari tanganku. Ia menggendong Marvel dan memberikannya pada pembantu di situ. Lalu Nathan menyeretku ke ruangan tersebut. Ruangan di mana aku huni selama bertahun-tahun. Dia selalu menyiksaku tiap harinya. Bahkan aku tidak diberi kesempatan lagi untuk melihat indahnya matahari. Aku juga tidak diberi kesempatan untuk melihat perkembangan anak-anakku. Apalagi Marvel, saat itu dia pasti membutuhkan ASI."
"Makin kurang ajar! Aku emosi mendengarnya. Ternyata ada orang yang seperti itu di dunia ini. Sungguh aku tak habis pikir, bisa-bisanya aku sempat terbuai dengannya. Habislah Raina jika aku sampai jadi dengannya," kata Ratih menggebu-gebu.
"Mama? Mama sudah pulang? Laina lapal mama, tapi Laina masih ngantuk," ujar Raina dengan suara cadelnya.
"Ini anakmu Ratih? Sungguh sangat cantik dan lucu," kata Nia antusias.
"Iya ini anakku. Sini Raina sayang," suruh Ratih.
Raina mengangguk, ia kemudian melangkahkan kaki kecilnya menuju ke pelukan mamanya. Lalu ia mengalungkan tangannya ke leher dan menyederkan kepalanya pada pundak mamanya itu.
"Loh katanya lapar? Kok gini sih? Jadi Raina maunya apa?" kata Ratih heran.
__ADS_1
"Mau bobo lagi. Laina ngantuk mama. Laina mau digendong saja sama mama," kata Raina manja.
"Ih anak mama lagi manja banget. Itu kok temennya mama dibiarin sendiri di kamar? Raina tidak mau tidur di kamar saja? Lihat loh di sini ada teman mama juga. Mama mau nemenin temen mama dulu. Raina tidur lagi ya di kamar?" kata Ratih lembut.
"Tidak mau mama," balas Raina menggelengkan kepalanya lucu.
"Laina hanya mau sama mama. Lagian teman mama tidak plotes," kata Raina membantah dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf ya, Nia. Raina memang suka seperti ini. Biasa kalau sifat manjanya lagi keluar," kata Ratih tidak enak.
"Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf di sini. Aku yang mengganggu kalian," jawab Nia.
Tak lama kemudian, pintu diketuk oleh seseorang. Ternyata itu adalah Raihan. Ratih dan Nia menghela napasnya lega. Mereka kir itu Nathan.
"PAPA!" teriak Raina langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke arah papanya.
"Halo sayang. Aduh jangan lari-lari dong, nanti jatuh," peringat Raihan. Raihan ini sungguh posesif dengan anaknya. Visi nya adalah Raina tidak boleh terluka sedikit pun.
"Iya papa, Laina lali kalena Laina kangen dengan papa," kata Raina dengan cadel. Itu membuat Raihan terkikik mendengarnya.
"Katanya kamu ngantuk. Tadi papa denger loh. Tidur yuk, papa temenin," ujar Raihan lembut.
"Ayuk," ajak Raina antusias.
Lalu Raihan pergi menidurkan Raina. Setelah Raina tidur, ia ke depan dan duduk di samping Ratih.
"Siapa ini?" tanya Raihan bingung saat melihat ke arah Nia.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit.
Ditunggu terus ya kelanjutannya.