RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 41


__ADS_3

Mereka pun berbincang dan saling berbagi cerita. Bahkan tidak henti-hentinya juga air mata yang mereka keluarkan.


"Raina, apa Marvel belum pulang?" tanya Shara.


"Belum, katanya dia ada urusan lagi sehingga tidak bisa pulang," jawab Raina.


"Apa dia sudah ke rumah Ayah ya? Aku khawatir terjadi apa-apa di sana," batin Shara cemas.


"Kenapa kak?" tanya Raina saat melihat raut wajah Shara yang terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa kok. Oh iya, kenapa kita jadi di sini terus? Ayok ke dalam saja," ajak Shara mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya kak," balas Raina.


Mereka pun bergegas pergi ke dalam dan melanjutkan berbagi cerita bersama.


Di sisi lain..


"Bagaimana kak? Apakah kau sudah menemukan keberadaannya? Lalu bagaimana dengan keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bu Ratih beruntun.


"Aku sudah menemukannya. Anakmu itu berada di tempat yang aman. Aku tidak tahu siapa yang menjaganya, tapi yang jelas orang yang menjaganya itu bukan orang sembarangan. Aku melihat dari kejauhan rumah yang dikunjunginya dijaga ketat oleh orang-orang yang sepertinya suruhan," jelas Reno selaku kakak dari Bu Ratih.


"Siapa ya orang itu? Jika ada waktu, aku ingin berterima kasih dengannya," ujar Bu Ratih.


"Jangan terlalu khawatir dengan anakmu, Ratih. Sepertinya dia akan baik-baik saja. Aku juga melihat bahwa dia bahagia. Walau pun aku tak tahu isi hatinya bagaimana."


"Aku tidak bisa kak. Dia anakku. Apalagi aku sudah lama sekali tidak bertemu. Aku juga dihantui rasa bersalah. Tapi mungkin untuk saat ini aku hanya bisa menjaganya dari kejauhan karena rasanya tidak mungkin untuk aku menemuinya secara langsung. Belum saatnya. Hanya itu yang bisa kulakukan," lirih Bu Ratih.


"Belum lagi kalau Raina anakku tidak menerimaku sebagai Ibunya," batin Bu Ratih.


"Kalau begitu sabar, yakinlah bahwa kamu akan bisa bertemu dengan anakmu secepatnya. Selesaikan dulu masalahmu agar kalian cepat bertemu dan berbagi kasih sayang," nasehat Reno.


"Iya kak, terima kasih. Kau satu-satunya orang yang masih berada di pihakku dan selalu mendukungku."


"Tentu."


Malam hari pun tiba. Malam itu adalah malam paling tidak baik untuk Marvel. Marvel memukul stir mobilnya kencang dan mengacak-ngacak rambutnya kasar.


"Apa yang sebenarnya ia rencanakan?" teriak Marvel.


Tidak akan ada yang mendengarnya karena mobil Marvel kedap suara.


Marvel pun melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Kini ia tiba di suatu gedung yang sangat mewah. Marvel pun memarkirkan mobilnya dan memasuki gedung tersebut.


Ayah Marvel menyambut kehadirannya di depan gedung.

__ADS_1


"Rupanya kau benar-benar datang anakku. Kau memang yang terbaik," ujar Ayah Marvel.


"Tidak perlu banyak bicara. Mau apa tujuan Anda mengundang saya ke sini? Saya tidak punya banyak waktu," ujar Marvel dengan nada khasnya yaitu dingin.


"Ya ampun, baru saja aku memujimu. Aku sudah pernah bilang, janganlah buru-buru. Acaranya saja bahkan belum mulai," kata Ayahnya sambil terkekeh.


"Sebenarnya apa yang Anda rencanakan?" tanya Marvel datar.


"Tidak ada. Memangnya tidak boleh seorang Ayah mengadakan acara untuk anaknya?" tanya Ayahnya.


Marvel diam tak menjawab.


"Khusus hari ini saja, tolong jangan bersikap dingin dan berujar datar pada semua orang. Kita harus bersenang-senang saat ini!"


"Anda tidak berhak mengatur saya," ujar Marvel datar.


"Tentu aku berhak mengaturmu. Kau adalah anakku dan aku adalah Ayahmu. Bukankah juga tidak enak didengar jika kau memanggil Ayahmu ini dengan sebutan Anda?" tanya Ayah Marvel sembari tertawa kecil.


"Bahkan aku membawa Rara dan istriku tercinta ke sini. Demi siapa? Jelaslah demi kamu. Acara ini harus berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Maka dari itu aku memintamu untuk menghilangkan perilaku tidak baikmu itu dulu," lanjut Ayah Marvel dengan menekankan kata istri tercintanya.


Marvel geram mendengarnya. Ingin rasanya ia mencabik-cabik muka orang yang berada di depannya.


"Sudah-sudah, ayok masuk. Ikuti Ayah!" suruh Ayah Marvel.


Marvel hanya diam. Ia pun mengikuti Ayahnya masuk ke dalam.


"Sini duduk," ucap Ayah Marvel yang membuyarkan lamunannya.


"Hm."


"Kak Malvel emangnya ikut, Kakek?" tanya Rara dengan suara cadelnya.


"Ikut dong sayang. Rara main dulu ya di sana sama bibi," ucap Ayah Marvel lembut.


"Perlakuannya sama sekali berbeda dengan yang dibilang satpam itu. Benar dugaanku, pasti ada yang tidak beres," ujar Marvel dalam hatinya.


"Ya sudah, Lala mau ke sana dulu, dadah semua," kata Rara sambil berlari ke arah bibinya.


Suasana hening. Tiba-tiba datang satu keluarga yang menghampiri tempat duduk Marvel.


"Eh! Sudah datang, ayok duduk-duduk. Jangan sungkan," ujar Ayah Marvel ramah.


"Terima kasih pak."


"Jadi gimana mau langsung saja nih?" tanya Ayah Marvel semangat.


Marvel hanya diam menyimak. Dalam lubuk hatinya, ia sungguh penasaran.

__ADS_1


"Kita sambil minum aja ya, biar lebih santai," jawab wanita dari keluarga yang baru datang tersebut.


"Oh iya-iya, saya pesankan dulu."


"Pelayan! Tolong siapkan yang tadi saya bilang ya," perintah Ayah Marvel.


"Baik."


"Jadi gimana keadaan kalian? Sudah lama ya tidak berbincang-bincang seperti ini," kata lelaki seumuran dengan Ayah Marvel.


"Seperti yang kau lihat, kita baik-baik saja."


"Oh iya, anakmu yang mana?" tanya wanita itu.


"Saling kenalan dulu deh ya biar enak," kata Ayah Marvel.


Ayah Marvel menyenggol lengan Marvel. Marvel hanya menaikkan satu alisnya.


"Dasar," kata Ayah Marvel pelan yang hanya bisa didengar oleh Marvel sendiri.


"Ini anak saya, namanya Marvel Jonathan Arkanius. Panggil saja Marvel," katanya seraya memperkenalkan Marvel.


"Wah tampan sekali anakmu! Cukup miriplah dengan kamu saat muda. Sayang, ayok kenalkan diri kamu," ujar wanita itu pada anaknya.


"Salam kenal Marvel, nama aku Felicia. Panggil saja Feli atau Cia."


Marvel mengangguk saja. Ia tak berniat untuk menjawabnya.


"Gimana Marvel? Cantikkan anak tante?"


Marvel hanya tersenyum datar. Sudah dikatakan hatinya hanya untuk Raina.


"Eh kayaknya kami berdua tidak bisa lama-lama. Langsung saja ya ke intinya," kata pasangan suami istri itu.


"Jadi gini Marvel dan Cia, kita sudah sepakat buat menjodohkan kalian."


Deg!


Marvel hampir tersedak minumannya. Ia juga langsung menetralisirkan ekspresinya.


Sedangkan Cia hanya diam dan senyum-senyum sendiri.


Sebenarnya sejak pertama kali Cia menginjakkan kakinya ke gedung ini, pandangannya langsung tertuju pada Marvel. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Gimana kalian setuju kan? Walau pun mungkin kalian tidak setuju pun kita tetap menjodohkan kalian dan keluar dari sini status kalian adalah sebagai tunangan."


"Gila!" batin Marvel.

__ADS_1


"Kayaknya ini bakal jadi hari paling bahagia deh. Terima kasih mama dan papa, Cia seneng banget bisa dijodohin sama orang yang Cia sukain," batin Cia.


__ADS_2