
Di kediaman Ibu Ratih..
"Sampai kapan dek kamu kayak gini?" tanya Reno selaku kakaknya. Ia sangat sedih melihat adiknya yang setiap hari sering melamun dan menatap dengan tatapan kosongnya. Ia tidak ingin adiknya itu semakin terpuruk.
Ratih hanya diam. Ia menatap kosong ke arah jendela. Setiap hari seperti ini.
Reno menghela napasnya.
"Setidaknya sekarang kamu mengawasi perkembangan anakmu dari jauh, Ratih. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini lagi. Bangkitlah dari keterpurukanmu. Berusahalah membuang semua masa lalu yang buruk itu. Ingatlah kenangan yang bisa membuatmu bahagia saja. Raihlah kehidupan yang baru. Jangan seperti ini ku mohon," nasihat Reno.
"Aku tidak tahu harus apa kak. Aku hanya masih menyesali apa yang telah terjadi di masa laluku. Suram sekali," ujar Ratih pelan.
"Lupakan masa lalu mu yang suram itu. Ayolah mulai hidup yang baru. Tentunya yang lebih baik. Berusahalah mengambil hati anakmu lagi," bujuk Reno sembari menatap Ratih dengan tatapan sendunya. Ia tak tega dengan adiknya.
"Kamu juga yang bakal sakit. Kalau mogok makan gini, kapan lagi kamu bakal ketemu secara langsung dengan anakmu?" tanya Reno memancing agar Ratih mau makan. Sudah 2 hari, tidak ada satu pun makanan yang masuk ke perut Ratih.
Ratih pun mulai berpikir. Benar juga kata kakaknya itu. Jika ia sakit, dia akan semakin lama bertemu dengan Raina atau yang lebih parahnya dia tidak akan bertemu lagi dengan Raina. Ratih pun mulai mengambil makanan yang disediakan kakaknya. Lalu ia menyuapi sendok per sendok makanan itu ke mulutnya.
Reno tersenyum melihatnya. Setidaknya kali ini usaha membujuk adiknya itu berhasil.
"Aku sudah kenyang," kata Ratih sembari meletakkan kembali mangkok itu ke meja. Kira-kira ada 5 sampai 6 suap yang masuk ke perutnya.
"Minum dulu," suruh Reno.
Reno membantu Ratih untuk mengisikan gelas dengan air putih.
"Terus seperti ini, jaga kesehatan. Sekarang istirahat ya?" ujar Reno membujuk lagi agar Ratih mau istirahat.
Ratih menggeleng.
"Biarkan aku sendiri dulu kak. Aku pasti akan istirahat," kata Ratih dengan tatapan sayunya.
Reno mengangguk. Ia sangat paham kalau Ratih ini membutuhkan banyak waktu untuk sendiri. Ia pun memegang knop pintu untuk menuju ke luar.
Sebelum keluar ia membalikkan badannya dan berkata, "Jika ada apa-apa, langsung kasih tahu aku. Aku ada di luar."
Saat melihat Reno sudah keluar, Ratih langsung merenung kembali.
"Waktu itu, keluarga kami sangat bahagia. Walau pun aku sangat ingin mengulangi kebahagiaan itu, tapi aku sadar kalau itu tidak akan pernah terulang. Ya, tidak akan pernah," lirih Ratih.
Ia pun mengingat kenangannya dulu. Baik yang buruk mau pun yang baik.
Flashback..
__ADS_1
Hari itu, suatu kebahagiaan datang menyambut keluarga Ratih dan Raihan.
Akhirnya setelah mereka menikah 4 tahun lamanya, mereka dikarunia seorang anak.
Saat Raihan mengetahui bahwa Ratih kini sedang mengandung, ia langsung posesif terhadap Ratih. Apa pun ia lakukan agar Ratih bahagia dan tidak kelelahan. Bahkan urusan rumah tangga pun, Raihan yang kerjakan.
"Aduh sayang! Sudah aku bilang kan jangan masak lagi, biarin aku saja kalau tidak bibi," ujar Raihan menahan emosinya.
"Maaf, aku hanya ingin memasak. Aku bosan Raihan. Masa aku di kamar terus sih," rengek Ratih.
"Ih sayang kamu mah, ingat loh kamu tuh lagi ngandung anak aku. Anak kita. Aku tidak mau sampai anak yang kita tunggu-tunggu ini kenapa-napa," ucap Raihan memberi pengertian kepada Ratih.
"Hm iya deh. Kamu lagi sibuk banget ya kayaknya?" tanya Ratih mengalihkan topik pembicaraan.
Raihan mengacak-ngacak rambut istrinya gemas.
"Iya, urusan kantor banyak banget. Lagi ada masalah di kantor aku. Aku harus ikut turun tangan," kata Raihan.
"Masalah apa?" cemas Ratih.
"Tidak apa-apa kok, hanya masalah kecil. Kamu tidak usah pikirkan ya. Yuk, katanya kamu mau makan," ajak Raihan seraya menggenggam tangan Ratih.
Ratih tersenyum manis. Ini yang dia sukai dari suaminya. Selalu berperilaku manis dan tentunya lemah lembut. Rasanya membuat Ratih semakin cinta dengan Raihan.
"Tidur dulu yuk, besok lagi bisa kan kerjanya?" kata Ratih sembari melihati Raihan yang sedang berfokus pada laptopnya.
Raihan mengangguk. Ia memeluk istrinya dan mengusap rambut serta punggung istrinya itu secara bergantian agar cepat terlelap.
Beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran halus dari sang istri. Ia pun melepaskan perlahan tangan Ratih yang bertengger di pinggangnya. Untungnya, Ratih tak terganggu saat itu.
Raihan masuk ke ruang kerjanya yang kedap suara. Ia pun membanting vas bunga yang ada di situ.
"Sial!" umpat Raihan.
"Kenapa dia menghancurkan perusahaan ku? Bagaimana ini? Aku ingin menghidupi Ratih dan anakku. Tapi jika terlilit hutang seperti ini, yang ada hidup kami makin susah," ujar Raihan dengan emosinya yang meluap.
Kring..
Bunyi telepon Raihan di ruangan kerjanya berbunyi. Raihan dengan kasar membalas telepon itu. Ia mendekatkan telepon tersebut ke telingannya.
"Ada apa?" ujar Raihan dingin.
"Maaf pak, saya hanya ingin memberi tahu. Keuangan perusahaan kita makin menipis pak. Bagaimana ini pak? Kita tidak bisa bertahan jika terus seperti ini."
__ADS_1
"Nanti saya urus," ucap Raihan dan langsung menutup teleponnya dengan kasar.
Ia pun mendudukkan dirinya ke kursi dan mengacak rambutnya kasar.
"Sial!" umpatnya sekali lagi.
Pagi harinya, Ratih melihat Raihan yang sedang tidur di sampingnya. Ia tersenyum. Wajah Raihan sangatlah menenangkan.
"Natapin aku mulu, tidak bosan?" tanya Raihan dengan mata yang masih terpejam.
"Apaan sih, tidaklah. Mana ada aku ngelihatin kamu," gugup Ratih dengan semburat rona merah yang sudah hinggap di wajahnya.
"Gemesin banget sih, istri siapa ini?" tanya Raihan terkekeh.
"Istri dari orang di depanku ini," polos Ratih.
"Oh ya, bentar lagi kan aku lahiran. Boleh ya beli perlengkapan bayi? Kasihan nanti lahir tidak ada apa-apa," ujar Ratih memelas.
Raihan berpikir. Uang dari mana lagi. Sekarang saja keadaannya sudah susah. Memang sih Ratih tidak mengetahuinya.
"Iya, tapi dikit saja dulu ya?"
"Tenang saja, aku cuman mau beli perlengkapan bayi yang menurut aku sangat dibutuhkan," kata Ratih.
Raihan sangat beruntung mempunyai istri yang pengertian seperti Ratih. Untungnya istrinya ini tidak boros terhadap uang.
"Hm, kamu mau temenin aku nyari perlengkapan bayinya?" tanya Ratih dengan mata yang tersirat memohon.
"Maaf sayang, aku harus ke kantor hari ini," ujar Raihan merasa bersalah.
"Kan hari ini libur. Belakangan ini kamu ke kantor mulu loh," kata Ratih lagi.
"Iya aku harus menyelesaikan masalah kecil di kantor. Nanti kalau sudah selesai, kita jalan-jalan bersama ya?" bujuk Raihan.
"Iya."
Mulai terungkap kisah dahulu Ratih dan juga kenapa Ratih nanti akan berpisah dengan Raina.
Beberapa episode ini akan bahas tentang masa lalu atau flashback Ratih ya..
🌹Jangan lupa like, komen, rate, vote🌹
🌷Tunggu terus kelanjutannya🌷
__ADS_1