
Marvel mendengus kesal.
"Air mata palsu. Aku tidak akan tertipu," batin Marvel.
Cia menatap Marvel sejenak di tengah tangisannya.
"Kenapa dia hanya diam saja? Apa aku kurang kelihatan menyedihkan?" ucap Cia dalam hatinya.
"Tolong Marvel, pertimbangkan hal itu. Aku hanya ingin menjadi anak yang dibanggakan orang tuaku. Tidak ada yang lain," ujar Cia yang masih berusaha mendapatkan rasa kasihan dari Marvel.
Cia mengira bahwa Marvel akan luluh dengan segala tindakan dan perkataannya.
"Aku tidak peduli. Bahkan lain kali kau harus belajar lagi bagaimana caranya agar dapat membohongiku," ujar Marvel datar.
"Aku tidak berbohong. Lagi pula untuk apa aku berbohong tentang hal ini," ucap Cia gugup.
"Terserah, yang pasti aku tidak peduli. Aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku punya perempuan yang aku cintai. Jika kau tidak mendengarkanku dan terus berusaha mendapatkan cintaku, terserah. Selamat menikmati rasa sakit di hatimu," ujar Marvel panjang dengan nada yang datar.
"Lihat saja Marvel! Aku akan membuatmu dan perempuan itu menderita. Aku juga akan memastikan kamu jatuh ke pelukanku. Bahkan aku akan membuatmu berlutut di hadapanku," batin Cia.
Hening menyambut mereka. Hanya ada dentingan sendok dengan piring saja. Marvel menghentikan makannya.
"Sepertinya gadisku menunggu. Aku harus balik dulu. Bilang saja pada mereka, kalau aku pamit duluan," ucap Marvel seraya meninggalkan Cia yang masih memakan makanannya.
Cia membanting sendoknya saat melihat Marvel yang pergi begitu saja.
"Aku harus mencari info siapa gadis yang Marvel maksud itu!" putus Cia.
Cia pun bergegas ke dalam gedung lagi.
"Loh Marvelnya ke mana?" tanya Ayah Marvel.
"Sudah pulang, katanya dia ada urusan mendadak," jawab Cia sopan.
"Cih anak itu!"
"Bagaimana tadi kamu sama Marvel sayang? Sepertinya kalian sangat menikmati mengobrol dengan pemandangan yang romantis," ujar Mama Cia.
"Ya, kami sangat menikmatinya. Cia rasa hubungan Cia dengan Marvel semakin dekat. Tadi kami mengobrol dan bercerita banyak hal sembari bercanda tawa," dusta Cia.
"Tidak salah aku menjodohkanmu dengan Marvel," ucap Papa Cia.
Cia hanya mengangguk. Dipikirannya hanya tertuju pada gadis yang dicintai Marvel. Ia bertekad memisahkan Marvel dengan gadis itu.
Marvel keluar dari gedung itu terburu-buru. Jika ia lebih lama di sana, yakinlah bahwa Marvel akan melakukan hal yang tak terduga.
__ADS_1
"Sial!" ujar Marvel sambil memukul stir mobil kencang.
"Ternyata Ayah mengajakku ke sini untuk menjodohkanku. Lalu apa lagi rencana Ayah untuk selanjutnya? Menggunakan Rara sebagai umpan. Tapi tidak mungkin! Mereka terlihat menyayangi Rara sepenuhnya. Tapi yang dikatakan oleh pak satpam itu.."
"Arg! Ayah benar-benar. Jika ia berani menyakiti balita polos seperti Rara, aku tak segan-segan akan melawannya!" ujar Marvel emosi.
Tiba-tiba telepon Marvel berdering menandakan bahwa ada yang meneleponnya.
My Crystal is calling..
"Raina? Untuk apa dia telepon."
Marvel pun menggeser layar ke tombol hijau. Artinya ia mengangkat telepon dari Raina.
"Ada apa?" tanya Marvel sedikit khawatir.
Marvel khawatir karena ia menyuruh Raina menelepon jika terjadi sesuatu. Ia takut terjadi sesuatu di sana.
"Halo Raina?" tanya Marvel makin khawatir saat tidak mendapat jawaban dari Raina di sana.
"Raina?" panggil Marvel sekali lagi.
"Kenapa tidak ada suaranya?" tanya Marvel sendiri.
Marvel menghela napasnya lega.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Marvel menanyakan keadaan Raina.
"Iya aku baik-baik saja. Kamu masih lama pulangnya Marvel?" kata Raina.
"Aku lagi jalan ke sana. Sebentar lagi akan sampai," jawab Marvel.
"Baiklah hati-hati menyetirnya. Aku tadinya ingin menitip sesuatu tapi tidak jadi deh," ujar Raina.
"Mau apa? Aku bisa belikan dulu," kata Marvel.
"Aku hanya ingin menitip makanan berkuah. Kak Shara sepertinya harus makan makanan yang berkuah. Ia demam. Aku sudah mengompresnya, tapi demamnya belum turun. Aku sudah suruh Kak Shara makan tadi, malah dimuntahkan. Makanya aku ingin menitip makanan yang berkuah. Siapa tahu Kak Shara mau makan dan tidak memuntahkannya," ujar Raina panjang lebar.
"Baiklah aku akan membelinya, terima kasih telah menjaga dan merawatnya. Apakah obatnya sudah ada? Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Marvel cemas.
"Tidak perlu ke rumah sakit Marvel. Kita tunggu dulu, mungkin nanti demamnya akan turun setelah ada yang masuk ke perutnya. Obatnya sudah ada, tapi harus diminum setelah makan," jelas Raina.
"Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya."
"Iya Marvel."
__ADS_1
Marvel pun melajukan kembali mobilnya. Ia mengusap rambutnya kasar. Rasanya hari ini ia dibebani oleh pikiran dan belum lagi kakaknya yang sakit. Walau pun hanya demam, ia khawatir.
Beberapa lama kemudian, Marvel telah mendapatkan apa yang dititipkan oleh Raina. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesampainya di rumah Shara, ia langsung turun dari mobil tergesa-gesa. Tanpa mengetuk pintu, Marvel langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.
"Raina, bagaimana keadaannya?" tanya Marvel langsung.
"Eh sudah pulang toh. Demamnya belum turun. Mungkin karena belum makan dan juga minum obat. Kamu sudah belikan makanannya?" ujar Raina.
"Sudah," jawab Marvel sambil menyerahkan makanan berkuah itu.
"Terima kasih. Tadinya aku ingin memasak bubur atau sup, tapi ternyata tidak ada bahan masakan. Aku juga ingin keluar mencari makanan, tapi kamu melarangku untuk keluar," kata Raina panjang.
"Lebih baik aku yang membelikannya. Jangan pernah sekali-sekali keluar tanpa seizinku," ucap Marvel.
"Iya. Aku ke dalam dulu ya. Kasian Kak Sharanya nungguin," ujar Raina sembari membawa mangkok berisikan sup ayam dan sebelah tangannya lagi memegang gelas yang isinya air putih.
Marvel hanya mengangguk. Ia mengikuti Raina dari belakang.
"Kak Shara, makan dulu yuk!" ajak Raina seraya membantu Shara untuk duduk.
Shara ingin menjawab perkataan Raina. Tapi tidak bisa. Ia sungguh lemas tidak bertenaga. Semakin banyak ia berbicara, maka akan semakin banyak juga tenaga yang dikeluarkan.
Raina menyuapi Shara dengan telaten. Marvel melihat itu semua. Rasa bersalah kembali menghantuinya. Ia merasa gagal menjadi adik yang baik.
"Memang aku ini buruk. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejadian itu membuatku seperti ini," batin Marvel.
"Marvel, kamu sudah makan?" tanya Raina yang masih menyuapi Shara.
"Sudah," jawab Marvel singkat.
Raina diam tak menanggapi.
"Nah sudah habis, sekarang minum dulu ya kak," ucap Raina menyodorkan segelas air putih.
"Ini obatnya kak diminum agar demamnya cepat turun."
"Terima kasih Raina sudah mau merawatku," ujar Shara lemah.
"Iya kak sama-sama," balas Raina ramah.
"Maaf Raina, bukannya aku mengusirmu. Aku ingin berbicara dengan Marvel empat mata saja," kata Shara.
"Oh aku mengerti. Silahkan berbicaralah, aku akan membereskan piring-piring kotor. Nanti aku tunggu di kamar tamu saja," ujar Raina.
Raina pun keluar dengan membawa mangkok yang sudah kosong. Melihat Raina yang sudah pergi, Shara pun menyuruh Marvel duduk di sampingnya. Marvel menurut.
__ADS_1