RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 15


__ADS_3

Marvel POV..


Aku memang merasa lega mendengar Raina baik-baik saja. Tapi entah mengapa ada perasaan tidak enak di hatiku. Kenapa ini?


"Reinald, apakah Raina sudah pulang ke rumahnya?" tanya Marvel.


"Belum,Tuan. Tunggulah sebentar," jawab Reinald.


"Lama sekali!" ujar Marvel tak sabaran karena ia sudah sangat ingin bertemu Raina.


"Sabar, Tuan. Ku dengar mereka sudah lama tidak saling berkunjung. Apalagi perempuan jika sudah ngumpul pasti lama."


"Hmm," gumam Marvel.


"Antarkan aku ke toko buku sebentar. Aku ingin membelikan novel untuknya," perintah Marvel.


"Baik, Tuan."


Di mobil..


Reinald menyalakan mobilnya. Ia pun mulai menjalankan mobilnya.


"Bagaimana perusahaan?" tanya Marvel.


"Baik, Tuan. Semua terkendali," jawab Reinald.


"Bagus!"


"Kita sudah sampai, Tuan," kata Reinald sambil keluar dari mobil dan membukakan pintu Marvel.


Di toko buku..


Semua memusatkan perhatian pada Marvel. Memang siapa sih yang tidak terpikat dengan ketampanannya?


"Bisa-bisanya aku terpikir untuk pergi ke sini. Aku ingin membelikan Raina novel, tapi aku tidak tahu novel jenis apa yang ia sukai," ujar Marvel dalam hati.


"Reinald, novel apa yang disukai perempuan?" tanya Marvel menoleh ke arah Reinald.

__ADS_1


Reinald yang ditanya gelagapan, "maaf Tuan, saya juga tidak tahu."


"Ck, tidak bisa diandalkan," ujar Marvel berdecak.


"Sekali lagi maaf,Tuan."


"Tanyakan pada pemilik toko ini," suruh Marvel.


"Baik,Tuan."


Tidak lama kemudian ada 2 orang yang datang menghampiri mereka.


"Maaf Tuan, Anda ingin mencari apa ya?" tanya salah satu pelayan perempuan yang berbaju hitam dengan logo toko buku itu.


"Ehm saya ingin mencari buku yang disukai oleh perempuan," jawab Marvel dingin.


"Tuan Marvel, suatu kehormatan bagi saya, Anda ke sini," sapa pemilik toko buku itu.


"Hmm, aku tidak mau berlama-lama. Bisa kau siapkan sekarang semua novel untuk perempuan? Aku akan membelinya."


Setelah selesai..


"Apa Raina sudah pulang?" tanya Marvel di dalam mobil.


"Sudah, Tuan."


"Ke sana sekarang juga!" perintah Marvel tak terbantahkan.


Mobil melaju ke rumah Raina. Ralat kos nya Raina.


Raina POV.


"Lelahnya," Raina berujar pada dirinya sendiri.


TOK..TOK..TOK..


"Aduh kesel deh. Siapa lagi sih? Tidak bisa lihat orang sedang beristirahat saja!" Raina berdecak.

__ADS_1


Baru saja dia ingin istirahat di kasur sudah ada yang mengganggu.


Cklek. Pintu dibuka oleh Raina setengah.


"Siapa..."


Saat Raina melihat orang yang mengetuk pintunya. Raina kaget. Lalu suaranya seperti tercekat.


"Ehm hai," kata Marvel.


Situasi nya bisa dibilang canggung.


"Hai juga," jawab Raina sopan.


Raina tiba-tiba teringat suruhan orang bertopeng itu "Jauhi Marvel". Ia yang menyadari itu tidak ingin Marvel berlama-lama di kosnya. Untuk saat ini Raina tidak ingin berdekatan dengan Marvel dulu. Ia ingin mengikuti permainan orang bertopeng itu dulu. Raina berharap Marvel akan mengerti dan ia punya waktu untuk menjelaskannya dan meminta bantuan pada Marvel.


"Mau apa ke sini?" tanya Raina ketus.


Ku lihat Marvel seperti kaget dengan cara bicara Raina yang berubah.


"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu ini," kata Marvel sembari menyerahkan sesuatu, "semoga suka,kudengar kau menyukai novel bukan?"


Hah? Marvel membelikan Raina novel. Sebenarnya Raina ingin sekali untuk menerimanya. Tapi, bagaimana lagi? Di sana banyak mata-mata orang bertopeng itu. Bisa bahaya.


"Maaf Marvel. Maafkan aku menolak pemberiaanmu. Maafkan aku dengan kata-kata yang mungkin akan menyakiti hatimu," batin Raina.


"Kau tidak perlu repot-repot. Aku tidak memintanya," kata Raina ketus, " buatmu saja."


Raina mengembalikan bungkus yang berisi novel itu.


"Tapi ini aku belikan untuk.."


"Tidak perlu aku bilang. Kau balik saja. Aku ingin istirahat. Ku harap kau masih bisa mendengar ucapan ku ini," potong Raina.


Tanpa basa basi lagi, Raina menutup pintunya dengan kencang.


Marvel masih mematung tidak percaya di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2