RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 49


__ADS_3

"Aku juga sudah punya istri, Ratih."


Deg!


Ratih sungguh terkejut mendengarnya. Ia sampai melototkan matanya saking terkejutnya. Entah mengapa juga bianglala yang mereka naiki dari tadi berhenti tepat di atas.


"Kamu," ujar Ratih terbata-bata.


"Tidak apa-apa. Kalau kamu mau marah silahkan. Aku ikhlas. Maafkan aku telah berbohong. Aku ingin menjelaskan kepadamu sekarang. Aku telah mempunyai istri dan dua anak. Tapi, aku sama sepertimu. Istriku kelakuannya berubah. Sekarang aku mencintaimu, bukan istriku. Kamu mungkin tak terima dengan kejujuranku kali ini. Tapi aku terima jika kamu mau menjauhiku," ujar Nathan sendu.


"Tidak Nathan. Kisah kita sama. Aku ingin menjalani hubungan dengamu secara diam-diam," balas Ratih tanpa sadar.


Nathan tersenyum manis.


"Aku mau Ratih. Kita akan diam-diam seperti ini. Untuk masalah anak, biarkan saja. Di sini yang terpenting adalah kita," kata Nathan.


Dengan bodohnya, Ratih mengiyakan. Seharusnya ia memikirkan nasib anaknya kelak.


Hubungan Ratih dan Raihan kini semakin renggang. Ratih yang sekarang jarang berada di rumah lagi melainkan menghabiskan waktu berduaan bersama Nathan.


Beberapa minggu kemudian..


Ini adalah hari-hari di mana Ratih akan melahirkan anaknya yang ia tunggu sedari dulu. Ya, hasil buah cintanya bersama Raihan.


Ratih memegang erat pinggiran kasur disertai dengan ringisan yang keluar dari mulutnya. Ia juga mengeluarkan keringat dingin.


"Huh.. Huh.. Sakit banget!" ujar Ratih meringis tak tahan dengan rasa sakit yang menjalar di perutnya.


Raihan baru pulang dari kerjanya. Ia mendengar ringisan Ratih. Sudah lama rasanya Raihan tak mendengar suara Ratih. Ya, sejak itu mereka tidak pernah berbicara satu sama lain.


Raihan berlari ke arah kamar Ratih. Sejak itu juga mereka pisah kamar. Saat ia membuka pintu kamar, ia sungguh terkejut.


"Astaga Ratih! Kau tidak apa-apa?" tanya Raihan khawatir.


"Tidak apa-apa bagaimana? Anakku mau lahir," ujar Ratih menjawab dengan napasnya yang terbata-bata.


"APA?" teriak Raihan terkejut.


Raihan tidak bisa berpikir kali ini. Dia terlihat seperti orang bodoh saja.


"Aku harus gimana?" tanya Raihan pelan kepada dirinya sendiri.


"Bodoh," umpat Ratih.


"Cepat bawa aku ke rumah sakit. Aku sudak tidak tahan. Air ketubanku sudah pecah," ujar Ratih terbata-bata.


Tanpa basa-basi, Raihan langsung menggendong Ratih dan membawa Ratih ke mobilnya.


"Tahan ya," ujar Raihan khawatir. Tangan satunya ia gunakan untuk menyetir dan tangan satunya ia gunakan untuk memegang perut Ratih.


Sesampainya di rumah sakit, Raihan tergesa-gesa menggendong Ratih untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Dokter dan para suster lainnya membantu Ratih untuk menyiapkan persalinannya.


"Sudah akan melahirkan, Pak. Tunggu di luar ya," kata Suster itu sembari ingin menutup pintu ruang persalinan.


Raihan makin khawatir. Dia takut terjadi apa-apa.


Beberapa jam menunggu, akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Perasaan Raihan tak karuan. Ia sungguh senang. Ia tak sabar ingin melihat anaknya.


Seorang dokter keluar dari ruang persalinan.


"Dok gimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Raihan tak sabaran.


"Baik kok, Pak. Hanya saja istri bapak sekarang sedang istirahat. Mari masuk jika mau melihat putrinya," ucap Dokter itu tersenyum ramah.


"Putri?" bingung Raihan.


"Iya anak bapak berjenis kelamin perempuan. Bukannya Bu Ratih sama Bapak sudah ke sini waktu itu untuk mengecek jenis kelaminnya?" tanya Dokter.


"Saya belum pernah tahu kalau anak saya perempuan, Dok."


"Wah padahal saya kira yang kemarin itu suaminya," kata Dokter itu.


"Bukan," ujar Raihan pelan.


"Siapa laki-laki yang dimaksud dokter itu? Apakah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang ada di foto?" batin Raihan.


Raihan berusaha menghilangkan segala pikirannya dulu. Ia beranjak ke dalam untuk melihat anaknya.


"Eh, bapak mau gendong anaknya?" tanya Suster yang sedang menyelimuti bayi kecil itu.


"Boleh, Sus?" tanya Raihan.


"Tentu, Pak. Sini saya ajarkan," ucap Suster itu menjalankan tugasnya.


Bayi mungil itu kini sudah berpindah tangan ke Raihan.


"Cantik sekali mirip dengan Ratih," ucap Raihan dalam hatinya.


"Anak papa lagi bobo ya? Nyenyak banget kayaknya. Cantik kamu, Nak. Kesayangan papa," ujar Raihan sembari mencium pipi gembul bayi mungilnya.


Besokkan harinya..


"Ratih!" panggil Raihan saat melihat Ratih sedang menyusui anak mereka.


"Ada apa?" tanya Ratih.


"Kamu sudah punya nama untuk anak kita?"


"Belum. Aku tak sempat memikirkannya," ujar Ratih datar.


Itu mengiris hati Raihan. Apakah benar hati Ratih sudah berpindah ke orang lain? Apakah benar cinta Ratih sudah tidak ada untuk Raihan? Bahkan sekarang Ratih berujar datar dan tidak menyempatkan waktu hanya untuk sekedar memberi nama buat anak mereka.

__ADS_1


"Ratih jika kamu marah denganku, silahkan! Aku tidak melarangmu. Tapi tolong jangan lampiaskan ke anak kita. Anak yang kita tunggu-tunggu," ujar Raihan lirih.


Ratih hanya diam tak menjawab. Ia sibuk memandangi wajah anaknya.


"Raina Crystal Alvania. Itu nama yang aku pikirkan jauh-jauh hari. Apa kamu setuju, Ratih?" tanya Raihan sembari mengusap pipi anaknya yang sedang menyusu.


"Setuju. Namanya bagus. Aku suka," ujar Ratih sambil tersenyum.


Bagaimana pun Ratih masih menyayangi anaknya. Ia sangat senang telah menjadi seorang Ibu sekarang.


"Aduh anak papa, haus banget ya?" kata Raihan yang melihat anaknya menyusu tanpa terusik.


"Iya mas. Aku mau pulang secepatnya ya," ujar Ratih tiba-tiba.


"Nanti aku tanyakan ke dokternya ya," balas Raihan.


Akhirnya Ratih pulang ke rumahnya.


"Aduh anak mama makin cantik deh, aduh harum banget lagi," ujar Ratih gemas sembari mencubit pelan pipi Raina, si bayi mungilnya.


Selama di rumah sakit, Raihan selalu menemaninya. Tapi saat kembali ke rumah, Raihan pun kembali bekerja.


"Sayang kamu temenin mama ya ketemu sama seseorang?" tanya Ratih ke Raina yang belum mengerti apa-apa.


Dengan lucunya, bayi itu seperti mengangguk setuju.


"Ih pinter banget sih. Ya sudah, yuk kita jalan!" kata Ratih dengan menggendong Raina.


Ya, Ratih akan bertemu dengan Nathan. Seperti biasanya.


Sesampainya Ratih di tempat yang mereka sudah janjian, Ratih langsung menghampiri Nathan.


"Hey!" sapa Ratih.


"Wah ini anakmu? Cantik sekali," ujar Nathan.


"Iya, kamu sudah lama menunggu?" tanya Ratih.


"Tidak kok. Baru saja aku sampai," balas Nathan.


"Siapa nama kamu bayi cantik?" tanya Nathan sembari mengambil alih Raina dari gendongan Ratih.


"Namanya Raina Crystal Alvania. Panggilannya Raina om," ucap Ratih dengan suara dibuat-buat seperti anak kecil.


"Kok om sih? Raina panggil Ayah aja ya? Kan tidak malu juga punya Ayah ganteng kayak aku," ujar Nathan lalu menciumi pipi Raina. Raina hanya menggeliat di gendongan Nathan.


"Wah cocok tuh Ayah muda," kata Ratih sembari tertawa.


Wah akhirnya, lahir juga anaknya Ratih dan Raihan yaitu Raina. Tapi, hubungan Ratih sama Nathan semakin dekat juga.


Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit ya.

__ADS_1


Ditunggu terus kelanjutannya.


__ADS_2