RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 37


__ADS_3

Di sisi lain..


Nampak Bu Ratih yang sedang duduk di dekat jendela. Mengamati hujan yang baru saja turun mengguyur permukaan tanah. Matanya sayu.


"Penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika dulu aku tidak bodoh, mungkin saat ini kami bisa menjadi keluarga yang bahagia. Bahkan aku mungkin masih bisa merawat dan melihat perkembangan anakku sendiri," batin Bu Ratih menyesal.


Bu Ratih menitikkan air matanya beriringan dengan hujan. Hujan seolah merestui hati untuk merasakan kepedihan dan kesedihan.


"Sampai kapan kau akan bersedih terus. Bagaimana pun, kamu juga butuh istirahat. Sejak kau ke rumah sakit itu, kau bahkan belum tidur," ujar Kakak dari Bu Ratih yang bernama Reno.


"Aku tidak bisa, Kak. Aku merasa sangat bersalah. Aku gagal melindunginya. Selama ini aku mencarinya. Aku baru menemukannya sekarang. Mutiara hatiku yang pernah hilang. Bahkan jika dia tahu, aku takut dia tidak mau mengakuiku sebagai Ibunya."


"Semua ada waktunya. Bisa jadi dia tumbuh sebagai anak yang baik. Berpikirlah positif. Pasti dia lambat laun akan menerimamu sebagai Ibunya," ujar Reno sambil melihat ke arah hujan.


"Tolong Kak, pergi dari sini dulu. Aku ingin sendiri," lirih Bu Ratih.


"Baiklah, ingat untuk istirahat," ujar Reno sambil menepuk pelan pundak Bu Ratih dan mulai melangkahkan kakinya ke luar.


Tetes air yang turun dari langit makin deras. Kita tidak bisa untuk menghentikannya. Begitu juga air yang turun dari mata Bu Ratih.


"Setiap kali hujan turun, aku selalu mengingat kenangan yang pahit itu," batin Bu Ratih.


Di tengah hujan yang deras itu, ada satu keluarga datang. Mereka nampak bahagia. Mereka bermain hujan bersama dan tertawa. Bu Ratih iri dengan pemandangan itu. Ia hanya bisa meringis.


"Andai saja keluargaku akan seperti itu. Aku pasti sangat bahagia sekarang. Bukan kenangan buruk yang ku ingat, tapi kenangan yang bahagia. Aku hanya bisa berdoa. Semoga kesalahanku ini bisa ditebus," ujar Bu Ratih dalam hatinya. Ia pun memejamkan matanya menikmati lantunan suara hujan.


Di taman tempat Raina dan Marvel berada..


Belum sempat mereka kembali ke rumah Shara, tiba-tiba hujan mengguyur deras. Itu membuat mereka harus berteduh dulu sekarang.


"Dingin sekali. Aku heran. Tadi sangat panas, tapi kenapa tiba-tiba hujan?" heran Raina.


"Aku juga tidah tahu," ujar Marvel sembari melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Raina.


"Tidak perlu, nanti kau akan kedinginan," tolak Raina.


"Jangan membantah."


"Bagaimana kalau kita main hujan saja? Sudah lama aku tidak bermain hujan!" ucap Raina dengan suara yang keras agar dapat didengar oleh Marvel.


"Main hujan? Bagaimana caranya?" tanya Marvel bingung.


Tanpa berkata-kata lagi, Raina langsung menarik tangan Marvel ke luar dari tempat berteduhnya itu. Jaket yang Marvel pakaikan langsung basah.


"Eh nanti kamu sakit!" panik Marvel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku sudah lama ingin bermain hujan lagi. Aku bahkan sudah tidak ingat dulu kapan aku terakhir kalinya main hujan!" balas Raina.


Di taman itu hanya ada Raina dan Marvel. Tidak ada orang lain. Semua sudah balik ke rumahnya masing-masing saat mengetahui hujan turun.


"Kau dari tadi terlihat murung Marvel! Tidak seperti biasanya. Apa kau ada masalah?" tanya Raina di bawah guyuran hujan.


Marvel hanya menjawab dengan gelengan saja. Sesungguhnya memang dia masih memikirkan perihal curhatan hati kakaknya itu. Dia merasa menjadi adik yang gagal. Padahal kakaknya tidak bersalah, tapi ia malah menjauhinya.


"Mungkin! Aku pun tidak tahu ini dapat dibilang masalah atau tidak!" balas Marvel.


"Maka luapkanlah! Itu akan membuatmu lebih lega," suruh Raina.


"Apa kau pernah mendengar ada orang yang berkata setelah mendung dan gelap, maka turunlah hujan. Setelah masalah yang mendera, maka turunlah keberkahan. Percayalah Marvel semua masalah akan cepat terselesaikan."


Marvel berusaha meluapkannya. Ia berteriak kencang di bawah guyuran hujan yang makin deras. Raina hanya tersenyum melihatnya.


Marvel berusaha mengesampingkan dulu masalahnya. Ia ingin mencoba berbahagia dulu. Ia ikut tersenyum melihat Raina yang tersenyum.


"Ternyata main hujan yang dimaksud Raina seperti ini. Berusaha untuk melupakan masalah dan menggantinya dengan kegembiraan," ujar Marvel dalam hatinya.


Mereka pun sama-sama meluapkan isi hatinya. Mereka bergandengan tangan dan menari-nari diiringi dengan lantunan hujan.


Setelah cukup lama bermain, hujan pun reda bahkan berhenti. Hanya ada suara tetes air yang tersisa.


"Makasih Raina. Kamu selalu buat hidupku penuh dengan warna," ucap Marvel tulus dari hatinya.


"Kita balik ya? Pasti kakakmu sangat mengkhawatirkanmu!"


"Baiklah."


Mereka pun kembali ke rumah Shara. Ya benar, Shara langsung keluar dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Kalian kenapa bisa basah kuyup gini? Astaga kalian ini pasti hujan-hujanan. Nanti kalau sakit gimana?" cemas Shara.


"Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja kok, Kak. Tidak perlu mencemaskan keadaan aku dan juga Marvel," balas Raina.


"Pokoknya hari ini kalian menginap di sini dulu. Tak ada penolakan. Marvel, kamarmu juga tidak ku ubah. Masih sama dengan dulu. Bahkan barang-barang mu masih ada. Pergilah ganti baju dan mandi dulu. Untuk Raina, ikut aku. Aku akan meminjamkanmu baju," suruh Shara.


"Itu akan merepotkanmu, Kak. Aku tidak enak jadinya," ujar Raina.


"Tidak ada yang merepotkan bagiku. Aku hanya tidak ingin kalian sakit. Jadi tolong mengertilah," ucap Shara peduli.


Marvel langsung mengangguk dan berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan di sisi lain, Raina mengikuti arah ke mana Shara pergi.


Marvel POV.

__ADS_1


"Tidak ada yang beda dari kamar ini. Bahkan sampai saat ini masih terawat," batin Marvel sambil menelusuri isi kamarnya.


Hal itu membuat hati Marvel sedikit tergores. Apa Shara selaku kakaknya selalu menunggu kehadirannya? Marvel kembali merasa sangat bersalah. Harusnya sebagaimana pun, dia tetap mengunjungi, menjaga, serta merawat Shara.


"Aku akan berusaha untuk menjagamu selalu, Kak. Kali ini tujuanku hidup adalah karena dirimu dan Raina," ujar Marvel.


Raina POV..


"Kak, maaf mungkin terdengarnya lancang. Kenapa kalian tidak satu rumah saja?" tanya Raina.


Sesungguhnya masih banyak yang Raina ingin tanyakan. Rasa penasarannya sungguh besar.


"Tidak bisa. Itu karena sesuatu. Aku belum bisa menjelaskannya. Maaf," jawab Shara.


"Tidak apa-apa kak. Maafkan aku juga, sepertinya aku terlalu lancang untuk menanyakan perihal itu."


"Wajar kok kalau kamu nanya," kata Shara.


"Kamu suka sama Marvel ya?" tanya Shara tiba-tiba.


Raina yang sedang minum teh hangat langsung tersedak.


"Eh astaga. Pelan-pelan dong minumnya, kesedakkan," panik Shara.


"Makasih kak. Lagian kakak sih mendadak nanya kayak gitu, aku jadi kaget," ujar Raina.


"Iya maaf-maaf. Aku lagian penasaran. Kamu tuh suka sama Marvel apa tidak. Soalnya baru pertama kali Marvel dekat sama cewek tahu," ucap Shara.


"Aku..."


"Aku sendiri masih bingung perasaanku dengan Marvel bagaimana. Apa jangan-jangan aku sudah mencintainya ya?" batin Raina.


"Aku apa?" tanya Shara tak sabaran.


"Aku tidak tahu," ujar Shara pelan.


Shara menghela napas dan berkata, "kalau dekat Marvel, apa yang kamu rasa?"


"Jantung aku kayak penyakitan. Berdetaknya kenceng banget," ujar Raina polos.


"Itu artinya kamu sudah suka sayang," gemas Shara.


"Tapi aku tidak tahu," ragu Raina.


"Sudah-sudah. Kita ke ruang bawah aja makan dulu," ucap Shara mengakhiri topik pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2