
Setelah berlibur , mereka kembali ke penthouse.
"Maaf, Tuan saya mengganggu," ujar Reinald penuh hormat.
"Katakan!" perintah Marvel.
"Tuan, saya telah menyelidiki dan di perusahaan minyak Anda ada beberapa orang yang mengorupsi keuangan nya," jelas Rei.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah!"
"Baik, Tuan," ujar Reinald langsung menjalankan tugasnya.
"Ehm, maaf Marvel, bukan nya aku ingin tahu, tapi memang nya ada ruang bawah tanah? Kau mau apakan orang-orang yang disebut Reinald tadi?" tanya Raina sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak Raina tidak boleh mengetahuinya. Ini belum saatnya bagi Raina untuk mengetahui sisi kejamku," ujar Marvel dalam hatinya.
"Marvel?" panggil Raina ulang karena tidak mendengar jawaban dari Marvel.
"Eh maafkan aku, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menginterogasi mereka kenapa mereka melakukan korupsi. Tapi, kau tidak boleh sekali pun menginjak ruangan di bawah tanah itu atau aku akan marah sekali," peringat Marvel.
"Baiklah Marvel, aku tidak akan ke sana," patuh Raina.
"Pintar, di sini ada perpustakaan, ku dengar kau suka membaca buku atau novel."
"Aku sangat suka membaca! Aku baru tahu kalau di sini ada perpustakaan. Baiklah aku mau ke sana. Di mana letak perpustakaan nya?"
"Pelayan akan mengantarkan mu. Aku ada pekerjaan dulu sebentar."
"Baik Marvel, semangat."
"Hm," dehem Marvel sambil memakai jas nya.
"Kau ganteng sekali Marvel!" spontan Raina.
__ADS_1
"Eh maksudku jas itu cocok sekali dengan mu," ucap Raina gelagapan.
"Ahaha terima kasih, aku tahu aku memang ganteng dari lahir," kata Marvel terkekeh.
"Sombong sekali!"
Marvel pergi ke ruang bawah tanah.
Di ruang bawah tanah..
"Apakah mereka orang yang berani-beraninya korupsi di perusahaan minyak ku?" ucap Marvel dingin.
"Iya Tuan itulah mereka," ujar Reinald menunjuk ke arah orang yang diikat dan di tutup matanya.
"Buka penutup matanya!"
"Baik Tuan."
Penutup mata nya pun terbuka..
"Sepertinya perlu aku ingatkan bahwa aku tidak menyukai orang yang berteriak di hadapan ku!" ucap Marvel dingin.
"Ma...Maaf Tuan saya tidak sengaja. Ampuni saya Tuan," ucap nya memohon.
"Aku tidak suka berlama-lama, Reinald ambil suntikan B0C73 dan suntikkan ke urat leher nya!"
"Baik Tuan, saya laksanakan," kata Reinald sambil mengambil sebuah suntikan yang dimaksud dengan Tuan nya dan menyuntikan ke satu orang dari mereka.
"Akan aku jelaskan terlebih dahulu. Jika aku memulai menghitung, kau akan merasakan melayang seperti berada di kebahagiaan yang tak terbatas."
"Satu.."
"Dua.."
__ADS_1
Orang itu terlihat tersenyum bahagia, dia merasa diri nya sangat bahagia.
"Tiga.."
Tiba-tiba dia muntah darah dan urat-urat nya menonjol.
"Ap.. Apa yang kau lakukan? Kenapa jantung ku uhuk uhuk berdetak sangat cepat?"
"Akan aku jelaskan lagi, setelah membawa mu ke kebahagiaan, itu akan mempercepat kerja jantung mu."
"Bunuh saja aku! Jangan menyiksa ku seperti ini, Tuan. Ku mohon."
"Sayangnya aku lebih suka melihat kalian tersiksa seperti ini. Reinald suntikkan yang lain nya lagi dengan suntikkan yang berbeda."
"Baik, Tuan."
Kedua orang itu sudah ketakutan sekali.
"Jangan Tuan , maafkan kami," mereka memohon.
Tapi sayang, di kamus Marvel tidak ada kata memaafkan.
Orang yang tadi pertama di suntik sudah penuh dengan darah karena terus memuntahkan darah. Tapi dia belum mati.
Orang kedua yang di suntik kan merasa tubuhnya sangat panas. Paru-parunya seperti teremas hingga napas nya tersenggal-senggal.
"Hah..Hah..Hah.. Tuan tolong ini sangat menyiksa."
Orang ketiga yang di suntik kan merasa haus darah. Dia menjilati darah nya sendiri juga darah teman nya dan menggigitnya sedikit.
"Arg apa yang kau lakukan. Hentikan itu sangat menyakitkan," kata dia karena temannya menggigit tangan nya keras sehingga kulitnya terkoyak.
"Biarkan lah mereka, abis itu mereka akan merasa sangat ingin bunuh diri. Bereskan mereka jika sudah. Aku ingin menemui Raina ku," perintah Marvel.
__ADS_1
"Baik Tuan silahkan."
Jadi Marvel memang lebih menyukai membunuh dengan tidak mengotorkan tangannya.