
Lihat lengkapnya di episode 12.
"Hari itu aku pulang ke kosan. Lalu saat aku ingin berbaring tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kencang. Aku bertanya siapa di sana, tapi tidak ada yang menjawab. Yang ada malahan gedoran pintu yang makin keras," kata Raina mulai menceritakan kejadian nya.
"Aku tidak tahu harus apa. Aku mulai ketakutan. Aku ingin menghubungi mu , tapi ternyata aku tidak mempunyai kontak mu. Aku akhirnya memutuskan untuk menghubungi sahabat ku Aileen," kata Raina masih menjelaskan.
"Lalu?" potong Marvel. Marvel sudah tak sabar mendengar ceritanya lebih lanjut.
"Telepon Aileen lama dijawabnya. Saat dia menjawab, aku langsung ingin memberitahu dan meminta bantuan nya. Tapi sangat disayangkan sebelum aku memberi tahunya, ada pemberitahuan bahwa pulsa ku habis. Otakku tak bisa berpikir saat itu."
"Siapa orang yang menggedor pintu mu itu?" tanya Marvel.
"Nah, akhirnya pintu berhasil terbuka dan menampakkan orang-orang bertopeng. Aku juga tidak tahu pasti itu siapa. Aku ketakutan. Mereka menyerahkan foto Aileen dan keluarganya."
"Untuk apa foto itu?" tanya Marvel memicing.
"Ternyata sebelum orang-orang bertopeng itu ke kosan ku, mereka terlebih dahulu ke rumah Aileen. Ibunya Aileen bahkan sampai syok. Untung nya mereka tidak apa-apa. Mereka bilang mereka akan menyakiti dan memperlakukan lebih dari itu kepada Aileen dan keluarganya jika aku tidak menjauhi mu."
Tanpa disadari, tangan Marvel sudah terkepal.
"Jadi kau diancam? JAWAB RAINA!"geram Marvel.
Marvel tidak bisa menahan emosi nya saat mendengar Raina yang diancam.
__ADS_1
"Iya," cicit nya pelan.
"Mana mau aku menjauhi mu tanpa alasan yang jelas."
"Lalu apa lagi kata mereka?" tanya Marvel berusaha mengatur emosi nya.
"Tidak ada, hanya menyuruhku untuk menjauhi mu. Sepertinya juga yang menyuruhku ke sini adalah mereka juga. Pokoknya alat ancaman mereka itu Aileen dan keluarganya. Aku tidak mau mereka tersakiti. Sudah banyak pertolongan Aileen dan keluarganya kepadaku."
"Bagaimana ciri-ciri orang itu?"
"Sudah ku bilang mereka bertopeng. Aku lupa tapi sepertinya mereka memakai pakaian hitam-hitam."
"Tidak salah lagi , itu pasti dia!" spontan Marvel.
"Kau mengenalnya?"
"Aku ke rumah Aileen saat itu untuk mengecek keadaan nya, juga untuk memberi tahu hal ini. Aku meminta sarannya. Lalu setelah kami berunding, aku memutuskan untuk menghindari mu terlebih dahulu dan jika ada waktu berusaha untuk memberi tahu mu."
"Lalu kenapa kau tidak memberi tahu ku. Itu hal yang sangat gampang. Waktu aku memberi mu hadiah novel, harusnya kau memberi tahu ku saat itu."
"Tidak bisa Marvel. Aku diawasi oleh mereka. Selalu diawasi."
"Kurang ajar, rupanya mereka ingin bermain-main denganku," geram Marvel.
__ADS_1
"Ya terlebih dia itu membenci mu. Dia pasti musuh mu. Aku heran kenapa aku kena juga.."
"Pasti saat membawa mu ke Chicago. Ada mata-mata rupanya. Maaf karena aku, kau juga ikut kena imbasnya," ucap Marvel tulus meminta maaf.
"Aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi aku sangat berterima kasih karena dengan ini , kamu jadi tahu alasan ku menghindari mu."
"Iya," kata Marvel pelan.
"Karena kau sudah tahu, kau harus menjaga ku dan menjaga Aileen serta keluarga nya. Aku tidak mau mereka kenapa-napa."
"Tentu Raina, tanpa kau bilang pun."
Tiba-tiba Raina mengingat sesuatu.
"Astaga!" teriaknya mendadak.
"Ada apa? Apa ada yang sakit? Atau kenapa?" tanya Marvel beruntun.
"Bukan itu Marvel, kau lihat," ucap Raina sambil menunjuk ke bawah (orang terikat yang pingsan), "kita melupakan nya. Aduh, cepat bawa dia ke rumah sakit!"
"Untuk apa?" kata Marvel polos.
"Ya untuk diobati lah. Oh ya, aku tidak suka ya perlakuan kejam seperti itu. Hal kayak gitu harus diubah. Sudah cepat bawa dia ke rumah sakit."
__ADS_1
Reinald yang peka akan situasi langsung menghampirinya.
"Saya yang akan membawanya, Nona Raina."