
"Ya sudah, aku mau ke sana." Akhirnya Raina memutuskan untuk menemani Cia ke rumah hantu itu. Raina menengok ke arah Marvel.
"Kamu juga ikut ya? Biar rame," lanjut Raina bertanya pada Marvel.
"Iya," jawab Marvel singkat.
Mereka pun pergi ke rumah hantu yang dimaksud Cia. Ketika mereka sampai di depan tempat tersebut, Raina langsung bergidik ngeri melihatnya.
"Aku takut banget sama yang berbau hantu gini, walau tidak sungguhan tapi tetap saja namanya rumah hantu pasti menyeramkan. Aduh bisa pingsan aku di dalam!" batin Raina panik dan merinding. Bahkan belum saja masuk, bulu kuduknya sudah naik.
"Ayo kita masuk!" ajak Cia setengah berteriak karena saking semangatnya.
Marvel hanya diam menatap interaksi mereka berdua.
"Cobaan apa lagi ini? Kenapa mereka jadi deket ya ampun," ujar Marvel gelisah dalam hatinya.
"Ya.. Ya.. Ayo masuk!" ajak Raina.
Mereka pun memasuki arena rumah hantu. Raina sudah mengeluarkan keringat dingin. Sedangkan Cia sudah sangat bersemangat.
Baru saja mereka memasukinya, langsung muncul hantu jadi-jadian yang menyamar menjadi kuntilanak. Penampilan hantu itu adalah memakai gaun putih panjang yang menjuntai ke lantai, rambut yang panjang menutup mukanya. Hantu itu mengeluarkan suara yang menyeramkan.
"AAA!" teriak Raina kaget dan takut. Marvel sebenarnya tidak kaget. Ia biasa saja saat melihat hantu jadi-jadian itu. Tapi ia justru kaget karena teriakan Raina yang begitu menggelegar.
Cia tidak takut sama sekali. Ia malah senang. Ia pun melanjutkan langkahnya melewatkan hantu itu begitu saja.
Raina menghela napasnya kasar. Baru saja pertama masuk, sudah diginiin. Raina jadi tidak yakin apakah ia bisa melanjutkan menelusuri arena itu sampai akhir atau tidak.
Beberapa kali Raina berteriak. Marvel hanya berusaha menenangkan telinganya yang sangat pengang karena teriakan dari Raina. Sedangkan Cia sudah tidak tahu ke mana, yang pasti Cia sudah jalan duluan.
Saat mendekati akhir dari rumah hantu itu, Raina kembali dikejutkan dengan hantu yang berjubah merah serta berdandan seolah-olah mukanya hanya setengah. Hantu itu muncul tepat di depan Raina. Itu membuat Raina seperti mendapatkan serangan jantung dadakan. Rasanya Raina ingin pingsan saat itu juga.
Raina berteriak sangat kencang bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Marvel langsung kaget saat mendengar isakan dari mulut Raina. Marvel dengan reflek langsung menendang hantu jadi-jadian itu dan menyebabkan hantu itu terhempas ke tembok.
"Uhuk.." Hantu itu terbatuk-batuk saat Marvel menendangnya dengan begitu keras.
__ADS_1
"Buset di sini aku kan memang ditugaskan buat nakut-nakutin orang. Biasanya yang lain responnya tidak berlebihan seperti ini. Kayaknya tulang punggungku sudah retak dan akan patah. Dasar pengunjung setan!" batin hantu jadi-jadian itu kesal dan meninggalkan Raina dan Marvel di sana.
Marvel memegang pundak Raina dan mengelusnya pelan. Ia berusaha menenangkan dan memberhentikan tangisan Raina. Sungguh rasanya Marvel sangat ingin mengubrak-abrik wajah hantu tersebut. Berani-beraninya dia membuat Rainanya itu menangis.
"Hey! Napas sayang, nanti sakit loh. Hantunya sudah aku usir pergi. Sekarang kamu tidak perlu takut lagi. Sudah ya berhenti nangisnya?" bujuk Marvel.
Raina masih diam dan menangis tambah keras. Hantu tersebut masih ada dibayang-bayang pikiran Raina. Walau hanya bohongan, tapi Raina benar-benar kaget dan takut.
Marvel pun membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Marvel memeluk Raina dengan erat dan menyalurkan kehangatan pada tubuh Raina.
"Please, berhentilah menangis. Aku paling tidak suka melihatmu menangis. Itu rasanya seperti mengiris-iris hatiku. Satu tetes air matamu itu membuat hatiku tertusuk-tusuk beribu-ribu kali. Aku sesak melihatmu menangis seperti ini," kata Marvel dengan nada yang pelan di dekat telinga Raina.
"Takut Marvel! Aku takut!" ujar Raina membuka suara. Bahkan sekarang suara Raina sudah serak karena menangis.
"Ya aku tahu kamu takut. Tapi tidak perlu takut lagi sekarang. Hantu nya sudah tidak ada. Ayo buka matamu," balas Marvel lembut.
Kemudian Raina mulai mendorong Marvel pelan dan mencondongkan wajahnya ke arah Marvel. Lalu Marvel dan Raina saling tatap- menatap.
Marvel sangat tidak suka melihat mata yang sangat ia sukai itu ditutupi oleh cairan bening yang merupakan sisa air mata Raina.
"Jangan pernah menangis lagi di depanku! Ini perintah bukan permohonan," ujar Marvel penuh penekanan dan terus menatap Raina penuh kasih sayang.
Tanpa mereka sadari, dari tadi ada sepasang mata yang mengamati mereka dengan penuh luka.
Cia POV..
Aku mendengar teriakan Raina yang menggelegar sejak awal masuk ke rumah hantu ini.
"Raina.. Raina.. Kalau takut mah tidak usah sok-sokan. Baru awal saja sudah ketakutan gitu, gimana nanti," gerutu Cia.
"Sudahlah aku sendiri saja maju ke depan duluan. Mereka lama sekali. Padahal cuman hantu jadi-jadian kayak gini," ujar Cia kesal dan melangkahkan kakinya menjauh ke depan dari Raina dan Marvel.
Kemudian setelah sampai hampir di akhir arena itu, aku mendengar teriakan yang sangat keras. Telingaku yang jangkauannya jauh saja pengang mendengar teriakannya. Tapi aku yakin, kalau orang yang berteriak itu adalah Raina.
"Astaga Raina! Gila teriakannya. Ternyata dia penakut banget!" ujar Cia sembari menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lalu aku memutuskan untuk kembali ke belakang menghampiri Raina dan Marvel. Aku pun melangkahkan kakiku ke arah mereka. Saat aku ingin memanggil dan menanyakan keadaan Raina, langkahku langsung berhenti ketika melihat pemandangan di depanku.
Aku menatap mereka dengan tatapan yang penuh luka dan tersirat kesedihan di dalamnya.
Pemandangan yang ku lihat adalah Marvel yang sedang memeluk Raina di dalam dekapannya. Aku melihat semuanya. Dari Marvel yang menenangkan Raina, mendekapnya, membujuknya, dan berujar begitu halus serta mengeluarkan kata-kata yang menurutku sangat perhatian.
"Sebatas adik?" tanya aku pada diriku sendiri dengan senyum meremehkan, tapi tidak bisa dibohongi kalau perasaanku sungguh sedih.
"Bahkan kamu tidak pernah bersikap dan berujar seperti itu padaku, Marvel. Apa perlu aku memohon untuk menjadi adikmu supaya aku mendapatkan perhatian darimu?" ujar aku miris.
Aku pun melangkahkan kakiku keluar. Tak bisa dipungkiri, satu persatu air mataku menetes. Aku pun menghapus air mataku dengan kasar.
Cia POV end..
"Ih Marvel geli tahu," ujar Raina sebal karena Marvel masih menciumi matanya.
"Makanya jangan nangis lagi," jawab Marvel santai.
"Iya-iya aku tidak nangis lagi, ayo keluar! Aku takut tahu," kata Raina merengek.
Mereka berdua pun keluar dari arena itu.
"Cia ke mana ya? Bukannya harusnya dia sudah keluar duluan? Masa sih Cia ninggalin kita, padahal dia yang ngajak kita ke sini," ucap Raina heran.
"Tidak tahu. Nanti kita cari. Sekarang beli minum dulu ya, kamu pasti haus," kata Marvel lembut.
Terima kasih buat yang sudah mau menunggu RAINVEL update..
Sebelumnya aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa update kemarin-kemarin dikarenakan aku kehujanan dan sering bergadang yang menyebabkan aku sakit.
Aku pengen banget update kemarin-kemarin, tapi kalau aku sakit tuh jadi tidak bisa mikir dan tidak fokus. Makanya aku tunda dulu nulis kelanjutannya.
Pesan aku, jaga kesehatan. Jangan lupa istirahat yang cukup.
Semangat selalu.. Like, komen, vote, dan klik favorit yaa..
__ADS_1
Ditunggu terus up dari aku.. Love you all..