RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 17


__ADS_3

Marvel POV..


"Tuan, ini sudah waktu nya kita pergi," kata Reinald mengawali.


"Siapkan mobil!" perintah Marvel.


"Baik, Tuan," jawab Reinald.


Mobil melaju ke suatu tempat. Selama perjalananan, hanya keheningan yang ada. Tidak ada satu pun yang memulai percakapan.


Sesampainya di sana..


"Sudah sampai, Tuan. Silahkan," ujar Reinald sopan sambil membukakan pintu mobil.


Marvel pun keluar dari mobil dan membenarkan bajunya. Ia terlihat sangat gagah dan tampan.


Semua orang tunduk takut saat Marvel masuk ke gedung itu.


"Hai bro! Apa kabar? Sudah lama kau tidak ke sini," sapa salah satu lelaki di sana.


Lelaki itu adalah teman Marvel bernama Andrew.


"Kabar ku baik. Bagaimana kabarmu?" tanya Marvel dingin.


Ke temannya pun Marvel tidak mengubah cara bicaranya. Tetap saja dingin. Secara tidak sadar, dia hanya berbicara lembut dengan Raina seorang saja.

__ADS_1


"Kau masih saja seperti dulu. Tidak ada bedanya," kata Andrew terkekeh, "kabar ku juga baik. Hm kutebak kau pasti mau membeli sebuah suntikan yang baru rilis itu ya?"


"Ya benar," jawab Marvel.


"Sudah ku duga. Ayo masuk dan berbincang sebentar," ajak Andrew.


Mereka pun masuk ke sebuah ruangan VIP. Mereka berbincang-bincang karena sudah lama tidak bertemu.


"Bagaimana perkembangan bisnismu? Walaupun aku sudah tahu sih bisnismu itu melaju pesat," ujar Andrew terkekeh.


"Sudah tahu ngapain bertanya," kata Marvel sembari menyeruput minumannya, "bisnis ku baik dan yang seperti kau bilang bisnis ku melaju pesat saat ini. Bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kau lihat aku masih seperti ini. Ya aku di sini saja juga sudah banyak penghasilan. Rencana aku mau mengembangkannya lagi ke seluruh dunia. Tapi kurasa pelan-pelan saja."


"Hmm."


"Belum semuanya. Aku lagi tidak fokus hal itu," jawab Marvel.


"Ya, karena saat ini pikiranku hanya ke Raina. Aku terlalu khawatir dan memikirkan hal hari itu. Aku masih bertanya-tanya kenapa Raina seperti itu dan apa penyebabnya," batin Marvel.


"Hey, kau melamun!"


"Ada apa?" tanya Marvel sambil menggelengkan kepalanya berusaha melupakan Raina dulu.


"Harusnya aku yang bertanya kau ini kenapa?Oh ya, kau masih sendiri saja. Kapan temanku ini membawa seorang perempuan?"

__ADS_1


"Hm, sebenarnya aku sudah tertarik dan mulai menyukai seorang gadis," kata Marvel tenang.


Marvel tidak tahu bahwa perkataannya itu membuat Andrew terkejut setengah mati. Pasalnya Marvel itu tidak pernah dekat dengan perempuan.


"APAA? SUNGGUH? OH, AKHIRNYA TEMANKU INI BISA TERTARIK DENGAN PEREMPUAN. KU KIRA KAU TIDAK NORMAL!" ujar Andrew dengan suara tinggi.


"Pelankan suara mu, Andrew. Atau aku akan berhenti menceritakannya padamu."


"Baik-baik. Lalu bagaimana perkembangannya dengan perempuan itu?


"Menurutmu gimana?"


"Hah? Maksudnya?" tanya Andrew tidak mengerti.


"Aku pernah membawanya ke Chicago. Aku juga membawanya menginap ke mansion ku. Rasanya aku tidak ingin dia balik saat itu. Tapi karena gengsi.."


"Kau memang, bukannya diperjuangkan," potong Andrew.


"Anehnya kau tahu apa? Waktu aku ke rumahnya, dia bersikap acuh dan aneh. Bahkan sangat aneh. Seperti menjauhiku tapi dari matanya tersirat kebohongan. Aku bingung.."


"Kau curhat ya," kata Andrew sambil tertawa kecil, "baiklah mungkin kau tidak boleh menyimpulkannya cepat. Cari tahu dulu. Mungkin semacam ada yang mengancamnya? Atau kau berusaha cari waktu untuk bertanya dengannya?"


"Kau benar Andrew. Aku harus mencobanya."


"Semangat berjuang, Marvel. Jarang-jarang kau curhat seperti tadi. Sepertinya kau benar-benar menyanyanginya."

__ADS_1


"Hm," jawab Marvel dengan gumaman.


__ADS_2