RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 38


__ADS_3

Sendirian boleh, kesepian jangan..


"Marvel, kamu nginep dulu kan di sini?" tanya Shara berharap Marvel mau menginap.


Marvel melirik Raina.


"Maaf, aku tidak bisa menginap di sini hari ini. Mungkin lain kali saja," jawab Marvel.


"Kenapa?" tanya Shara kecewa.


"Tidak apa-apa, aku ada urusan yang harus diselesaikan," balas Marvel santai.


Urusan yang dimaksud adalah Marvel ingin pergi ke rumah Ayahnya. Lebih tepatnya ia ingin mengunjungi keluarga baru Ayahnya. Sesungguhnya ia sungguh malas pergi ke sana. Bahkan dalam 1 tahun, bisa dihitung Marvel pergi ke sana berapa kali.


"Tapi ini sudah mau larut malam, akankah lebih baik kamu tidur di sini dulu," saran Shara.


Shara masih berusaha untuk membuat Marvel menginap di rumahnya. Ia masih sangat rindu dengan adiknya itu. Shara juga merasa kesepian dihari-harinya. Ia ingin rumahnya ramai sekali saja.


Raina hanya mendengarkan mereka berbicara. Ingin rasanya ia menyampaikan pendapatnya. Tapi, Raina merasa tidak pantas.


"Oh iya, Raina saja deh ya yang menginap di sini. Aku ingin lebih mengenal kamu lebih dekat Raina," ujar Shara.


"Ya sudah, malam ini aku dan Raina menginap di sini," potong Marvel sebelum Raina menjawab.


"Nah gitu dong, susah banget dari tadi."


Keheningan pun kembali menyambut mereka. Sebenarnya bukan karena tak ada topik, tapi karena mereka sedang makan. Prinsip mereka saat makan adalah diusahakan tidak berbicara. Beberapa menit setelahnya, mereka pun selesai makan.


"Ini Kak Shara yang masak semua kah? Enak banget sih," puji Raina.


"Iya, terima kasih pujiannya. Baru kali ini ada yang memuji masakanku," ujar Shara.


"Lain kali ajarin aku masaklah kak."


"Iya Raina, makanya rajin-rajin ke sini ya, nanti kakak yang ajarin," jawab Shara ramah.


Raina semakin suka dengan sifat dan karakter kakaknya Marvel ini. Selain ramah dan rajin tersenyum, ia juga jago masak.


"Beda banget ya kakak dan adik ini, yang satu dingin kayak kulkas berjalan, yang satu ramah banget," batin Raina.


"Raina tidurnya di kamar tamu saja ya. Apa mau bareng aku saja?" tanya Shara.


"Di kamar tamu saja, kak. Maaf ya kak merepotkan," ujar Raina tidak enak.


"Tidak usah merasa tidak enak. Kamu sama sekali tidak merepotkan kok. Ya sudah, tidur yuk. Jangan tidur terlalu larut malam," nasehat Shara.


"Iya kak, aku beresin dulu piring-piringnya. Kakak sama Marvel duluan saja, biar aku yang rapihin," ujar Raina.


"Biar kakak saja yang rapihkan. Kamu ini tamu loh. Masa tamu disuruh beres-beres."


"Ya sudah kak, kita berdua saja ya," kekeh Raina.

__ADS_1


Marvel pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, sedangkan Raina dan Shara melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk membereskan sisa-sisa peralatan makan tadi.


Matahari mulai menampakkan wajahnya.


"Hoam."


Raina bangun dan langsung bergegas ke luar kamar. Ia belum sadar sepenuhnya. Ia mengira itu adalah kosnya.


Raina mendengar suara berisik dari arah depannya. Lalu matanya memicing dan berkata dengan raut wajah kaget, "Marvel? Kamu ngapain di sini?"


Marvel yang dipanggil langsung membalikkan badannya.


"Kan tadi malam aku menginap di sini juga," jawab Marvel bingung akan pertanyaan Raina.


Raina berpikir sejenak. Ia baru ingat bahwa ini bukan di kosnya.


"Ya ampun! Ini kan di rumah Kak Shara," batin Raina.


Wajah Raina memerah menahan malu.


"Maaf aku lupa kalau ini di rumah Kak Shara. Aku ingatnya ini di kosku," ujar Raina polos.


"Kalian kok sudah bangun sih? Padahal masih pagi banget," heran Raina.


"Kita sudah terbiasa bangun pagi kok Raina. Sarapan dulu sana sudah aku siapkan. Aku dan Marvel sudah sarapan," ujar Shara lembut.


"Terima kasih, Kak."


Raina pun mengambil roti yang sudah dibuat oleh Shara. Ia pun duduk di samping Marvel.


Raina tampak berpikir.


"Sudah Raina di sini saja ya? Temenin aku," ucap Shara mengikuti percakapan.


"Iya deh. Marvel aku di sini saja sama Kak Shara," putus Raina.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa hubungi aku langsung ya," ucap Marvel sambil mengusap pelan rambut Raina.


Raina hanya mengangguk.


Marvel pun pamit pergi ke rumah keluarga Ayah barunya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Ia pun telah sampai di depan perumahan yang megah itu. Marvel menghela napasnya kasar. Ia pun terpaksa memasuki mobilnya ke area perumahan itu.


"Tuan Marvel, tumben ke sini," kata satpam yang berjaga di rumah itu.


Memang satpamnya sudah kenal dengan Marvel.


"Sekedar berkunjung," kata Marvel dingin.


"Silahkan masuk," ujar satpam itu sopan.


Tanpa mengucapkan satu dua kata, Marvel langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Pemandangan pertama yang Marvel lihat saat memasuki rumah itu adalah Ayahnya yang sedang bercanda tawa dengan keluarga barunya. Marvel geram melihatnya. Bukan karena iri atau apa, tapi ia tidak rela jika Ayahnya berbahagia dengan yang lain di atas penderitaan Ibunya dulu.


"Rupanya ada yang lagi senang-senang di sini," sindir Marvel datar.


Deg!


"Kak Malvel?" ucap anak perempuan yang umurnya sekitar 4 tahun dengan suara cadelnya.


Balita tersebut langsung turun dari pangkuan sang Ibu dan memeluk kaki Marvel.


"Lala kangen sama kakak Malvel," ucap balita itu cadel.


Namanya adalah Rara.


"Kakak juga kangen. Rara main dulu sana di kamar," ucap Marvel datar.


"Nanti kakak ke sana ya, main bareng Lala. Lala ke kamal dulu."


"Iya," jawab Marvel.


Saat melihat Rara sudah tidak ada, Marvel langsung memajukan langkahnya. Suasana mencekam.


"Masih ingat dengan anaknya?" tanya Marvel dingin pada Ayahnya.


"Ya masihlah, kamu ini ngomong apa. Kamu kali yang sudah tidak ingat dengan Ayahnya sendiri. Bahkan telepon pun tidak dibalas."


"Buat apa? Anda sendiri tidak peduli kan dengan saya," jawab Marvel dengan nada dingin.


"Marvel. Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Ngomong tinggal ngomong," jawab Marvel cuek.


"Ayolah Marvel, jangan bersikap seperti itu dengan Ayahmu. Sini duduk dulu."


Marvel pun duduk di sebelah Ayahnya.


"Ada apa? Saya tidak punya waktu banyak," ucap Marvel sambil berpura-pura melihat jam tangannya.


"Baiklah. Kau harus datang di acara nanti Marvel."


"Saya tidak bisa, saya punya kesibukan yang lain," jawab Marvel santai.


"Kesibukan apa? Kesibukan bersama cewek murahan itu?"


"Maksud Anda apa? Siapa yang Anda bilang cewek murahan?" geram Marvel.


"Raina Crystal Alvania. Nama yang bagus, tapi tidak sesuai dengan perilakunya."


"Sial, ternyata benar dugaanku. Ayah sudah mengetahui perihal Raina," batin Marvel.


"Dengar ini baik-baik. Jangan berani-beraninya mulutmu menghina Raina," ancam Marvel.

__ADS_1


"Wah! Kau berhasil membuat Ayah takut," kata Ayah Marvel berpura-pura ketakutan.


"Jika kau tidak datang di acara itu, siap-siap saja. Ayah akan membuat cewek murahan itu tidak bisa melihat dunia ini lagi."


__ADS_2