RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 31


__ADS_3

Raina daritadi cemberut. Ia ingin lebih lama di suasana luar. Tapi, Marvel tidak mengizinkannya dan menyuruhnya untuk istirahat kembali. Seperti sekarang, Raina kembali berbaring lagi di brankarnya.


"Bagaimana nasib anak tadi ya? Semoga dia baik-baik saja deh," harap Raina di lubuk hatinya.


Marvel melihat Raina seperti memikirkan sesuatu. Ia pun bertanya, "kamu mikirin apa?"


"Tidak ada," jawab Raina bohong.


"Ya sudah, mau tidur lagi?" tanya Marvel sambil membenarkan selimut dan bantal Raina.


"Tidak mau, aku capek tidur terus," cicit Raina.


"Baru tahu aku ada orang yang capek karena tidur terus," kekeh Marvel.


"Iyalah," balas Raina sambil mengerucutkan bibirnya.


Marvel melihat itu dan ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia ingin mencium bibir itu.


Tiba-tiba handphone Marvel berbunyi. Marvel sangat kesal.


"Siapa sih yang nelepon? Lihat saja nanti, siapapun yang mengganggu akan mendapatkan hukuman," kesal Marvel dalam hatinya.


Marvel pun merogoh sakunya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Nama yang tertera di layar handphone Marvel adalah Reinald.

__ADS_1


Ingin rasanya Marvel mengutuk Reinald karena mengganggu momentnya bersama Raina.


"Siapa?" tanya Raina penasaran.


"Reinald," jawab Marvel singkat.


"Aku keluar dulu, kalau ada apa-apa langsung panggil aja ya," pamit Marvel sambil mengusap pelan rambut Raina dan beranjak keluar dari kamar inap Raina.


Sesampainya Marvel di luar, ia langsung mengangkat handphonenya ke telinganya.


"Ada apa?" kesal Marvel.


Marvel masih sangat kesal dengan Reinald yang mengganggunya.


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud untuk mengganggu Anda. Saya hanya ingin memberi tahu, sudah ratusan rumah sakit bahkan hampir seluruh Indonesia yang saya cari. Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang masih mempunyai stok darah AB. Semuanya habis," jelas Reinald.


Reinald di sana hanya menghela napasnya kasar. Bagaimana bisa dia menemukan darah itu sedangkan hampir seluruh rumah sakit sudah ia kunjungi.


Marvel pun memasuki kamar inap Raina lagi.


"Sudah selesai?" tanya Raina saat melihat Marvel yang masuk dari luar.


"Sudah," balas Marvel.


Sebenarnya Marvel masih memikirkan penjelasan Reinald tadi.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus turun tangan mencari donor darah untuk Raina. Aku tidak ingin keadaan Raina drop lagi," batin Marvel.


"Tapi siapa yang akan menjaganya jika aku juga pergi? Walaupun mungkin aku akan menyuruh banyak bodyguard nantinya, tapi tetap saja aku tidak dapat mempercayai mereka sepenuhnya. Aku takut kejadian ini malah terulang lagi. Kepergianku pasti menjadi kesempatan bagi para musuhku untuk mencelakai Raina," lanjut Marvel dalam hatinya.


Raina melihat Marvel yang melamun.


"Marvel?" panggil Raina.


Tidak ada respon.


"Marvel?" panggil Raina sekali lagi dengan suara yang agak ditinggikan.


Lagi-lagi tidak ada respon dari Marvel.


"Ih Marvel! Aku manggil tahu! Capek nih teriak," lirih Raina sambil memukul pelan lengan Marvel.


Marvel langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh? Kamu butuh sesuatu? Apa ada yang sakit? Aku panggilin dokter dulu ya?" tanya Marvel beruntun.


Raina hanya mendengus kesal mendengarnya.


"Daritadi aku manggil kamu diem aja. Aku tidak apa-apa kok. Jangan panggil dokter," kesal Raina.


"Maaf, aku hanya lagi memikirkan sesuatu," sesal Marvel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kau lagi banyak pikiran ya? Sini berbagi cerita ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu kamu nyelesaikan masalah yang mengganggu pikiran kamu," ujar Raina.


"Tidak perlu, aku hanya memikirkan hal yang tidak penting. Lupakan saja,"ucap Marvel.


__ADS_2