
Marvel POV..
"REINALD!" teriak Marvel.
Reinald buru-buru menghampiri Marvel dan berkata, "ada apa, Tuan?"
"Jadi di mana keberadaan Raina sekarang?" tanya Marvel.
"Info yang saya dapatkan nona Raina sedang berada di rumah sahabatnya yaitu Aileen," jelas Reinald.
Terdengar helaan lega dari Marvel.
"Suruh orang untuk mengawasi nya. Jangan sampai terjadi apa-apa. Jika dia sudah sampai rumah beritahu aku. Aku ingin menemuinya," perintah Marvel.
"Baik Tuan, sebelumnya saya ingin memberi tahu bahwa ada rapat penting yang harus Anda datangi."
"Tolak semuanya. Aku tidak peduli. Mau mereka membatalkan kerja sama denganku pun aku tidak peduli."
"Tapi Tuan.."
"Kau ingin membantah ku?" geram Marvel.
"Tidak Tuan, saya minta maaf. Saya permisi Tuan," pamit Reinald ketakutan.
"Hmm," gumam Marvel.
Di sisi lain..
Terlihat banyak orang bertopeng di sana.
"Bagaimana?" tanya salah satu orang bertopeng itu membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Sepertinya Marvel menyuruh orang untuk mengawasinya," balas temannya.
"Bagus, kita lihat saja. Apakah gadis itu menuruti kita atau tidak."
"Sekarang posisi gadis itu berada di rumah sahabatnya itu. Saya pikir dia akan menuruti perintah kita karena dia sangat sayang dengan sahabatnya itu."
"Hmm, sebenarnya aku lumayan tertarik dengan gadis itu. Tapi sayang, gadis itu berhubungan dengan Marvel."
"SIAPAPUN YANG BERHUBUNGAN DENGAN MARVEL HARUS BERMAIN DENGAN KU!" ujar orang bertopeng misterius itu disertai dengan seringaian.
Di kamar Aileen..
"Aileen, aku mau tanya.."
"Kenapa Raina? Tanya tinggal tanya kali tidak usah minta izin."
"Bolehkan beberapa hari ini kau tidak usah mendekati ku dulu?" tanya Raina pelan.
"Uhm, bisa kah kau pelan kan suaramu itu? Aku akan menjelaskannya padamu tapi kau jangan marah yaa."
"Raina, kamu itu sahabat aku. Masa sih permintaan kamu kayak gitu."
"Aileen dengerin aku dulu," kata Raina.
"Apa yang mau kau jelaskan?" sarkas Aileen.
"Aku takut Aileen, sungguh aku takut," lirih Raina.
"Kau kenapa? Hey! Kau kenapa? Ada yang mengganggu mu? Bilang saja padaku, biar ku pukul mereka!" ucap Aileen kesal karena ia pikir ada yang mengganggu sahabatnya itu.
"Bukan Aileen. Bukan itu."
__ADS_1
"Lalu apa. Kau jelaskan jangan satu-satu dong."
"Jadi gini, aku tanya padamu malam itu kau diserang oleh orang bertopeng kan?"
"Iya kan kau memang sudah tahu, pakai nanya. Gimana sih?"
"Aku takut jika aku terus berada dekatmu, kau jadi imbasnya."
"Kenapa bisa begitu?"
Raina menjelaskan, "malam itu aku ingin tidur, tapi ada yang mengetuk pintu dengan kencang. Ralat bukan mengetuk itu seperti menggedor-gedor. Aku kaget lalu aku bertanya siapa tapi tidak ada yang menyaut. Aku berusaha meneleponku untuk minta bantuan. Aku sangat takut saat itu."
"Kau! Kau juga diganggu oleh orang-orang bertopeng itu? Siapa mereka sebenarnya?" lirih Aileen.
"Aku juga tidak tahu Aileen. Waktu aku meminta bantuan mu pulsa ku habis. Aku tidak tahu kau diganggu juga saat itu. Lalu orang-orang bertopeng itu berhasil mendobrak pintu kamar ku dan mengancam ku. Ia bilang aku harus menjauhi Marvel, jika tidak keluargamu akan bahaya Aileen," jelas Raina sambil menitikkan air matanya.
"Kau diancam? Marvel? Siapa dia?"
"Lelaki yang waktu itu aku ceritakan Aileen. Lelaki yang aku tabrak di cafe."
Aileen terlihat berusaha mengingat-ingat orang yang diceritakan Raina.
"Tunggu, berarti bisa jadi orang-orang bertopeng itu adalah orang-orang yang benci dengan Marvel. Karena diketahui kau dekat mungkin dengannya, maka kau dijadikan target Raina. Iya benar tidak salah lagi pasti begitu," argumen Aileen.
"Hmm, kau benar Aileen. Sepertinya memang begitu. Itu logis. Tapi aku bingung aku harus ngapain sekarang ini. Hidupku tidak tenang jika penuh dengan ancaman."
"Tenang Raina. Aku sarankan jalankan dulu yang dia mau. Tapi berusahalah untuk meminta bantuan ke Marvel secara diam-diam. Aku yakin kau pasti diawasi oleh anak buah orang-orang bertopeng itu."
"Bagaimana caranya?" tanya Raina bingung.
"Aku akan membantumu Raina!"
__ADS_1
"Makasih Aileen. Aku sungguh beruntung punya sahabat sepertimu. Aku juga akan memikirkan caranya," ujar Raina semangat.