
"Tuan, Anda sudah selesai mengobrol dengan tuan Andrew?" tanya Reinald sopan.
"Sudah," balas Marvel.
"Baiklah, apa Anda ingin mengikuti acaranya atau Anda ingin menunggu di mobil saja?" tanya Reinald lagi.
"Di sini saja," jawab Marvel.
"Baik, Tuan."
Di sisi lain..
Raina POV.
Pintu kos Raina diketuk. Raina membukakannya. Tapi saat ia lihat tidak ada siapa-siapa.
"Haduh, kenapa sih pada bikin deg-deg an aja. Eh ada surat. Surat dari siapa nih? Apa ya isinya? Ya sudah deh aku buka di dalam aja."
Raina kembali menutup pintunya dan tidak lupa menguncinya.
Rasa ingin tahu Raina meluap. Akhirnya, ia membuka surat itu.
Raina mulai membaca nya dari kata pertama , "Kau harus hadir ke gedung ***** jika tidak nyawa sahabatmu ancaman nya."
Itu adalah isi suratnya. Raina membeku di tempat. Iya mencerna isi surat itu.
"Apa lagi sih ini? Kenapa hidupku penuh ancaman deh? Aku harus cepat ke sana nih, kalau telat ntar Aileen bisa bahaya," panik Raina.
Dia langsung pergi ke pangkalan ojek dekat rumahnya.
"Bang! Tolong anterin ke sini ya. Cepet! Kalau perlu ngebut aja!" kata Raina tergesa-gesa sambil menaikkan diri nya ke motor salah satu ojek pangkalan itu.
"Siap neng," ujar ojek yang ditumpangi Raina.
__ADS_1
Jarak ke gedung yang dimaksud cukup jauh.
Marvel POV.
"Apakah masih lama?" tanya Marvel kepada Reinald.
"Sudah selesai, Tuan," jawab Reinald.
"Aku ingin mencobanya. Pergi ke tempat biasa. Kau sudah menyiapkannya bukan?"
"Sudah, Tuan."
"Ayo!" perintah Marvel.
Ya Marvel juga menuju gedung yang sama dengan Raina.
Tapi jarak Marvel dengan gedung itu lebih dekat. Jadi sudah bisa dipastikan Marvel duluan yang akan sampai ke gedung itu.
Sesampainya Marvel di gedung itu.
"Mana?"tanya Marvel tak sabaran.
"Di sana, Tuan," kata Reinald sambil menunjuk ke orang yang matanya di tutup kain hitam dan kaki serta tangannya diikat.
"Hmm, mana suntikan nya?" kata Marvel.
"Ini Tuan," ujar Reinald sambil menyerahkan nya pada Marvel.
"Aku melakukannya perlahan. Aku belum pernah mencobanya. Tapi sebelum itu aku tak mau kau mati dulu. Jadi tolong bertahan ya," ucap Marvel berbicara dengan orang yang diikat itu.
Marvel membuka penutup mata hitam orang itu.
Marvel tidak tahu kalau Raina sudah sampai dan bergegas masuk.
__ADS_1
"Ini baru permulaan, silahkan bersenang-senang dulu," kata Marvel menyeringai seram.
Bahkan Reinald menatap horror ke arah Marvel.
Tiba-tiba orang yang diikat itu batuk darah tapi seperti tertahan.
"Tolong ini sungguh sakit," katanya tercekat.
Raina POV.
"Kenapa aku disuruh ke sini ya? Kayaknya gedung tidak berpenghuni deh. Jangan-jangan aku dikerjain lagi."
"Masuk aja deh, siapa tahu ada sesuatu," kata Raina sambil melangkah masuk.
Deg!
"Marvel?" cicitnya pelan.
"Dia lagi ngapain?" tanya Raina berbisik pada dirinya sendiri, "kok bisa di sini juga ya? Jangan-jangan dia juga dikerjain kayak aku."
Tiba-tiba pandangan Raina jatuh pada orang yang terikat lalu batuk darah dan teriak memilukan.
"Hah.. Orang itu kenapa? Sepertinya sungguh kesakitan.."
Marvel mengeraskan suaranya, "aku sudah tidak sabar mencobanya! Silahkan menikmati penderitaanmu!"
Raina kaget. Dia tercengang.
"Silahkan menikmati penderitaanmu katanya? Apa Marvel gila? Dia menyiksa orang lain," batin Raina tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
Sebelum suntikan itu menancap ke arah orang yang diikat itu, Raina berteriak panik, "Marvel! Kau mau apa?"
DEG!
__ADS_1
Marvel kaget. Ia terlalu hafal dengan suara ini.
"Suara ini?" kata nya pelan, "Raina?"