
"Selalu saja seperti ini, makanya aku malas datang ke sini," batin Marvel geram.
"Terserah Anda!" kata Marvel datar.
Marvel berusaha agar emosinya tidak terpancing. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Ayahnya itu.
"Ayah tidak pernah main-main, Marvel. Kamu jangan berani-beraninya menantang Ayah."
Marvel hanya diam tidak merespon.
"Bukankah kedua orang ini adalah mutiara yang harus kamu jaga? Bagaimana ya jika Ayah bermain dan mengobrol sebentar dengan mereka?" ujar Ayah Marvel santai sambil menunjukkan foto Raina dan Shara yang sedang bercanda tawa di taman sebelah rumah Shara.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh mereka sedikit pun!" geram Marvel.
"Memangnya kenapa?" tanya Ayahnya pura-pura polos.
Marvel ingin rasanya melawan orang yang ada di sebelahnya saat ini. Tapi iya tidak bisa. Ia harus menahan terlebih dahulu. Ada alasan kenapa Marvel harus menahannya.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan ikut ke acara tersebut," ucap Marvel dingin.
Ayahnya tertawa kencang.
"Sepertinya benar ya mereka kelemahanmu," kata Ayah Marvel yang masih tertawa kencang.
Suasana mencekam. Tangan Marvel sudah terkepal dan terlihat urat-urat yang menonjol. Artinya Marvel sudah marah sekali.
Tiba-tiba Rara datang sembari membawa bonekanya.
"Kak Malvel, kenapa lama sekali? Lala sudah mengantuk kalena menunggu Kak Malvel," kata Rara dengan suara cadelnya.
Marvel segera merubah raut wajahnya. Ia tidak ingin Rara merasa ketakutan.
"Bentar. Kakak lagi ngomong sama Ayah," jawab Marvel datar.
Rara melangkahkan kakinya dan memeluk perut Ayah Marvel.
"Ih Lala ngantuk kakek, Lala ingin tidul. Tapi, Lala juga ingin main," manja Rara pada Ayah Marvel.
Ayah Marvel adalah kakek dari Rara. Di mana Ayah Marvel menikah lagi dengan seorang janda yang sudah mempunyai anak laki-laki yang dewasa.
__ADS_1
Anak laki-laki dari istri baru Ayah Marvel itu mempunyai anak yaitu Rara. Tapi sayangnya saat melahirkan Rara, Ibu dan Ayah kandungnya itu menghilang. Kini yang merawat Rara adalah Ayah Marvel dan istri barunya.
"Sini mau digendong sama Kakek aja?" tanya Ayah Marvel lembut.
Sebenarnya ada rasa iri di lubuk hati Marvel yang terdalam. Ia dan Shara sedari kecil tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Ayahnya sendiri. Marvel dan kakaknya itu selalu mendapat perlakuan yang buruk dan tekanan batin dari Ayahnya.
"Tidak mau kakek, Lala ingin dengan Kak Malvel," jawab Rara.
"Marvel," panggil Ayahnya.
Marvel sudah hafal dengan Ayahnya. Ayahnya itu pasti akan melakukan apa saja demi menuruti semua keluarga barunya.
Tanpa berkata apa-apa, Marvel langsung meletakkan Rara ke pangkuannya.
"Mau apa hem?" tanya Marvel dengan suara lembut.
"Lala mau main sama Kak Malvel, boleh?" tanya Rara sopan dengan khas cadelnya.
Walau pun Rara masih berumur 4 tahun, ia sangat baik dan sopan. Rara juga sangat pintar. Hanya saja kekurangannya adalah ia belum bisa menyebut huruf 'R' seperti balita pada umumnya.
"Katanya ngantuk?" tanya Marvel sembari menggendong Rara.
"Tidur saja ya? Mainnya kan bisa kapan-kapan," bujuk Marvel lembut.
Rara hanya mengangguk. Matanya sudah sangat lelah. Ia menyenderkan kepalanya ke pundak Marvel.
Marvel menepuk-nepuk pelan punggung Rara agar balita itu cepat terlelap. Setelah ia melihat Rara sudah tidur, Marvel membaringkan tubuh mungil itu ke kamarnya sendiri.
"Saya pulang," pamit Marvel datar ke Ayahnya.
"Lah buru-buru sekali. Kita baru saja ngobrol sebentar. Ayolah sini, Ayah kan rindu ngobrol dengan kamu."
"Saya ada urusan yang lebih penting dari Anda," jawab Marvel dingin.
"Menjemput cewek murahan itu ya? Ups, Ayah tidak bermaksud menyinggung," sindir Ayah Marvel.
"Terserah Anda mau bilang dia apa, yang jelas bagi saya dia bukan cewek seperti yang Anda bilang," balas Marvel datar.
"Baiklah-baiklah, Ayah mengerti. Nanti malam kau harus datang ke acara itu. Jangan lupa. Kamu juga balas telepon atau pesan dari Ayah. Jangan diabaikan. Jika tidak menurut, kamu tahu apa akibatnya Marvel," ucap Ayahnya mengancam.
__ADS_1
Marvel tidak menjawab. Ia langsung keluar dari rumah itu. Malas rasanya untuk berdebat lagi.
Marvel menaiki mobilnya yang terparkir di parkiran rumah megah itu. Ia pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju keluar dari rumah.
"Loh Tuan muda? Sudah mau pulang lagi?" tanya satpam itu sopan.
Marvel hanya membalas dengan anggukkan.
"Tiap hari non Rara cerita mulu ke saya, kalau kangen sama Tuan Marvel," ujar satpam itu pelan hampir tidak terdengar.
"Saya sudah bertemu dengan Rara," ujar Marvel datar.
"Maaf Tuan, kalau saya lancang. Saya cuman mau bilang, kasihan non Rara."
Marvel mengernyitkan dahinya.
"Kasihan kenapa? Bukannya Rara selalu mendapatkan yang ia mau dan kasih sayang? Tentunya juga perhatian lebih dari nenek dan kakeknya itu," batin Marvel panjang.
"Iya, mungkin selama ini Tuan Marvel mengira Non Rara sangat disayang oleh Ayah Tuan dan istrinya. Tapi kenyataannya tidak. Non Rara sering dicuekin bahkan dibentak sama mereka. Apalagi Nyonya, dia suka main kasar. Saya kadang ngelihatnya kasihan banget sama Non Rara. Masih kecil sudah digitukan," adu satpam itu pada Marvel.
Marvel makin penasaran karena selama ini yang ia lihat adalah sosok Rara yang ceria dan sangat diperhatikan.
"Bukankah balita itu sangat disayang oleh Ayah saya?" tanya Marvel untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Iya Tuan. Bahkan semua orang beranggapan seperti itu. Saya sendiri pun heran dan penasaran. Kadang mereka baik kadang mereka jahat. Perilaku keduanya tidak bisa ditebak. Tapi yang saya tahu, mereka pasti akan baik saat ada tamu," ucap satpam itu panjang lebar.
"Selagi tidak ada tamu, apa sering Rara diperlakukan tidak baik di sini?" tanya Marvel lagi.
Marvel sesungguhnya sangat peduli terhadap Rara.
"Ya itu Tuan yang saya bilang. Perilaku dan sikap keduanya sering beda-beda. Nih ya Tuan, kalau Ayahnya Tuan lagi baik sama Non Rara, semua yang Non Rara minta pasti dituruti. Tapi kadang Non Rara sampai nangis karena minta hal yang kecil saja. Nyonya juga langsung ngebentak kalau Non Rara ngomong sama dia. Tapi kadang juga Nyonya perhatian sama Non Rara," jelas satpam itu.
Rasa penasaran Marvel meningkat.
"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Jangan sampai Rara yang tidak tahu apa-apa dilibatkan dalam suatu hal yang besar," ujar Marvel dalam hatinya.
"Terima kasih infonya, saya permisi dulu," ucap Marvel.
"Iya Tuan, maaf saya jadi banyak omong gini. Saya rela nyawa saya terancam, asal Tuan tahu Non Rara tersiksa di sini," kata satpam itu.
__ADS_1
"Kau cukup tutup mulut saja. Bersikap seolah-olah tidak tahu. Nanti saya akan selidiki dulu masalah itu," ujar Marvel datar.