
"Sudah jam segini kenapa Raina belum sadar juga?" gusar Marvel dalam hatinya sambil melirik ke arah jam dinding.
Pintu kamar rawat Raina terbuka. Di sana terlihat dokter dan suster yang ingin memeriksa keadaannya.
"Permisi sebentar pak, saya ingin memeriksanya dulu," izin Dokter tersebut.
Marvel pun bangkit dari duduknya dan mempersilahkan dokter itu untuk mengecek keadaan Raina.
"Tolong suntikkan vitamin di infusnya, sus!" perintah Dokter itu.
"Baik dok."
Mereka pun selesai memeriksa keadaan Raina.
"Bagaimana?" tanya Marvel tak sabaran.
"Memang dia belum sadar, tapi kondisinya menunjukkan tanda-tanda yang baik. Sepertinya malam ini dia akan tersadar," jelas Dokter tersebut.
Marvel menghela napasnya lega.
"Kalau gitu kami permisi ya, pak. Jika ada apa-apa langsung panggil kami," pamit Dokter dan suster itu.
Marvel lalu kembali duduk ke sisi brankar Raina sambil mengusap rambut Raina pelan.
Kamar inap Raina sangatlah mewah karena Marvel menginginkan yang terbaik untuk Raina.
Marvel pun merasa sangat lelah karena dari tadi matanya berjaga untuk menunggu Raina tersadar.
__ADS_1
Akhirnya Marvel pun terlelap di samping brangkar Raina sambil menggenggam tangan Raina.
Malam hari pun tiba..
Tanpa disadari, Raina mengerjabkan matanya perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya di ruangan tersebut.
Bau obat-obatan menyeruak ke arah hidungnya.
Raina lalu merasakan bahwa tangannya digenggam oleh seseorang. Ia spontan menengok ke arah tangannya.
"Marvel?" batin Raina.
"Ini di mana? Loh ini kan baru rumah sakit. Memangnya aku kenapa sampai bisa masuk rumah sakit?" tanyanya dalam hati.
"Astaga! Aku baru ingat. Tadi saat selesai bermain dengan Marvel, aku pergi ke toilet. Lalu orang bertopeng itu datang dan menggangguku lagi. Pasti aku masuk rumah sakit gara-gara pergelangan tanganku yang terkena pecahan beling itu," kata Raina dalam hatinya sambil meringis melihat pergelangan tangannya yang dibalut perban.
Marvel merasakan bahwa tangannya seperti gerak-gerak. Lalu ia juga merasakan pergerakan dari orang yang ada di depannya itu.
"Kau sudah sadar? Kapan?" tanya Marvel sambil menetralisirkan ekspresi wajahnya.
"Baru saja, kau daritadi menungguku?" ujar Raina.
Marvel mengangguk.
"Apa kau butuh sesuatu? Atau mungkin mau sesuatu? tawar Marvel lembut.
"Aku haus, Marvel. Tenggorokanku seret," lirih Raina.
Marvel pun langsung mengambil air putih dan membantu Raina untuk minum. Saat selesai, Marvel pun membalikkan gelas ke mejanya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Marvel tiba-tiba.
"Apanya yang siapa?" Raina terlihat kebingungan.
"Siapa yang berani berbuat seperti ini kepadamu?" geram Marvel tertahan. Bahkan tangannya saja sudah terkepal.
"Aku.. Aku juga tidak tahu dia siapa. Yang pasti dia juga orang yang memakai topeng seperti yang mengancamku waktu itu," jelas Raina.
"Lihat saja, aku pasti akan menemukannya," yakin Marvel.
"Hm, lebih baik kita lupakan dulu masalah itu. Lagipula aku juga baik-baik saja sekarang," kata Raina sambil tersenyum manis.
Inilah yang paling dinanti Marvel dari tadi. Memang hanya Rainanya saja yang bisa menghentikan amarah Marvel.
"Baiklah. Kau makan dulu ya? Dari siang perut itu belum terisi," ujar Marvel sambil mengambil bubur yang telah disediakan pihak rumah sakit.
"Tapi aku tidak suka bubur rumah sakit, itu pasti sangat tawar. Aku tidak mau!" kata Raina sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kata siapa makanan rumah sakit itu enak. Kalau kau tidak makan, kau akan berlama-lama di sini, aku sih tidak mau tahu," ancam Marvel secara halus.
Raina mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah aku makan, tapi janji ya harus keluar dari sini secepatnya," ujar Raina.
"Aku tidak janji, makanya kau harus cepat sehat."
"Tapi aku tidak sakit, Marvel!" ujar Raina tak mau dibantah.
"Terserah," kata Marvel sambil menyuapi bubur tersebut ke Raina.
__ADS_1
Raina pun menurut.