
Ratih terus mencari tempat yang aman untuknya dan juga Raina. Ia sempat berpapasan dengan orang-orang suruhan Nathan. Sepertinya Nathan sangat ingin dirinya ketangkap.
Ratih saat ini sangat bingung. Harus ke mana lagi dia sekarang. Rainanya juga masih tidur pengaruh obat.
Ratih mencium Raina penuh kasih sayang.
"Kamu harus selamat sayang. Maafin mama ya tidak bisa menjaga dan melindungi kamu. Mama sayang banget sama Raina. Begitu juga papa, dia rela menukarkan nyawanya demi kamu," ujar Ratih kepada Raina, walau pun Raina tidak mendengarnya.
"RATIH! KELUAR KAMU!" teriak Nathan dari seberang sana.
"Kenapa dia cepat sekali? Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Ratih panik.
Ratih pun mengelus kening Raina dengan lembut.
"Sesungguhnya mama tidak mau berpisah denganmu. Mama kesepian. Hanya kamu yang mama punya sekarang. Tapi lebih baik jika kamu masih hidup. Tunda dulu pertemuanmu dengan papa di sana. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Maafin mama, ini semua salah mama. Harusnya mama tidak pernah mengenal lelaki itu," ujar Ratih dari lubuk hatinya.
"Seandainya waktu dapat diputar kembali, mama pasti akan merubah semua yang terjadi. Kejadian hari ini tidak akan pernah ada. Bahkan sekarang seharusnya keluarga kita menjadi keluarga yang lengkap dan bahagia. Terus bertumbuh dan berkembang sayang. Mama harap kamu akan mengingat dan tidak membenci mama," lanjut Ratih.
Lalu Ratih meletakkan Raina di belakang tong sampah dekat situ. Ratih rasa di situ mereka tidak akan menemukan Raina.
"Tolong.. Biarkanlah anakku bertemu dengan orang yang baik, yang mampu merawat dan menjaganya.. Mama akan merindukanmu Raina," batin Ratih sembari menjauh dari tempat itu. Perasaan Ratih semakin tak karuan. Ia merasa Nathan dan suruhannya akan menemukannya karena jarak mereka yang dekat.
Tiba-tiba tangan Ratih di tarik ke sebuah mobil dan Ratih dibekap dengan tangan seseorang.
Ratih meronta.
"Apa aku sudah tertangkap?" batin Ratih pasrah.
"Diam Ratih! Ini aku Reno, kakakmu!" teriak seseorang yang menbekap Ratih.
Ratih kemudian menghadapkan kepalanya pada orang yang mengaku sebagai kakaknya. Ternyata benar itu Reno, kakaknya Ratih.
"Kakak? Kamu ngapain ke sini? Loh kok bisa sampai sini?" tanya Ratih heran sekaligus lega karena dia tidak tertangkap oleh Nathan.
__ADS_1
"Panjang ceritanya. Huft, untung kamu selamat dari si gila itu. Aku deg-degan tahu tidak? Ku kira kamu bakal ketangkap sama orang gila itu. Kalau aku telat sedikit saja, dipastikan kamu sudah di tangan mereka!" ujar Reno sinis.
"Terima kasih kakak. Kamu datang tepat waktu," ujar Ratih tulus.
"Raina, dia kamu taruh mana?" tanya Reno.
"Aku taruh di belakang tong sampah tadi. Ku kira tidak akan ada yang menolongku. Makanya aku pasrah dan mencari tempat yang aman untuk Raina agar tidak ketahuan," ucap Ratih menjelaskan.
"Ya ampun Ratih, coba kau bawa anakmu tadi dengan kita. Sekarang tidak mungkin kita balik ke sana lagi," gusar Reno.
"Oh iya, Raihan ke mana?" tanya Reno menyadari tak ada sosok Raihan dari tadi.
Ratih tiba-tiba menangis mendengar nama Raihan dipanggil.
"Loh kenapa kamu?" tanya Reno bingung.
"Raihan sudah tidak ada kak. Dia menyelamatkan aku dan Raina. Tadi Raihan baku hantam dengan lelaki gila itu. Lalu aku kabur dengan terpaksa karena suruhan Raihan. Aku mendengar suara tembakan yang nyaring dari dalam rumah. Aku sempat melihat Raihan bercucuran darah. Walau samar, aku yakin itu Raihan. Raihan telah mengorbankan jiwa dan raganya demi aku dan Raina," kata Ratih sambil menangis di pelukan kakaknya.
"Astaga. Maafkan aku. Sungguh aku tidak mengetahui soal itu," balas Reno.
"Doakan saja yang terbaik untuk anakmu. Semoga dia tidak kenapa-napa. Semoga dia selalu dalam perlindungan orang-orang yang baik. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang baik hati dan ramah. Jangan khawatir. Kita akan mencarinya setelah semua keadaan baik-baik saja. Sekarang yang terpenting adalah kita yang harus melarikan diri dari kejaran lelaki gila itu," ujar Reno memberikan nasihat pada Ratih.
Ratih mengangguk. Kemudian ia menyenderkan kepalanya pada dada bidang kakaknya. Ia tertidur karena kelelahan menangis.
Inilah kisah Ratih. Kisah kelam di mana menjadi penyesalan teramat dalam Ratih.
Keluarga mereka yang harmonis harus pecah karena ada yang mengganggu rumah tangga mereka.
Raihan adalah pahlawan di keluarga mereka. Jika saja saat itu Raihan tidak mengorbankan dirinya, bisa dipastikan nyawa Ratih dan Raina melayang di tangan Nathan.
Karena kekhawatiran pun, Ratih dan Raina harus berpisah. Ratih meninggalkan Raina agar Raina aman dan berharap Raina mendapat perlindungan dari orang lain yang baik.
Tapi siapa sangka kalau misalnya Reno akan datang membantu? Tidak ada yang tahu itu. Ratih tidak jadi tertangkap karena Reno yang menolongnya.
__ADS_1
Seandainya lagi kalau Raina dibawa oleh gendongan Ratih terus, bisa dipastikan pula sampai kini mereka masih terus bersama-sama.
Bertahun-tahun Ratih mencari Raina. Tapi selalu saja, Ratih tidak menemukannya. Bahkan ia sudah menyuruh orang untuk mencari Raina yang penjuru dunia, tetap saja tidak dapat menemukan keberadaan Raina.
Reno sebagai kakak dari Ratih turut bersedih akan kejadian yang menimpa adiknya. Ia turut menyesal karena telat datang untuk membantu. Semuanya berandai-andai jika waktu dapat diulang. Sayangnya, waktu terus berjalan ke depan. Tidak ada yang dapat menghentikannya.
Ratih selalu termenung memikirkan anaknya. Apakah Raina makan dengan teratur di luar sana? Apakah Raina sehat? Apakah Raina mendapatkan tempat tinggal yang layak? Semua itu menjadi teka-teki yang tak dapat Ratih tebak. Ratih hanya berdoa untuk keselamatan dan kehidupan Raina anaknya.
Flashback end..
Ratih menutup matanya dan menghirup oksigen dengan rakus.
"Tidak boleh menangis lagi Ratih. Biarlah masa kelam mu itu hilang dengan sendirinya. Benar kata kakak, kalau aku harus maju ke depan. Kini yang harus ku pikirkan adalah bagaimana caranya untuk bertemu dengan anakku kembali dan meyakinkannya kembali," batin Ratih.
Ratih berusaha menghilangkan semua kenangan itu dari kepalanya.
Di perumahan tempat Raina dan Marvel berada..
"Maaf ya kakak cantik, kakak Shara yang termanis tak terkalahkan oleh siapa pun. Aku harus balik dulu karena Marvel yang sepertinya ada kerjaan di luar sana. Padahal aku ingin sekali tinggal di sini lebih lama," kata Raina menatap kesal pada Marvel.
Marvel membalas tatapan Raina dengan kesal juga.
"Aku tidak menyuruhmu ikut denganku. Hanya saja.."
"Hanya saja memaksa iya!" sarkas Raina.
"Sudah-sudah kalian ini malah berdebat. Tidak apa-apa kalian silahkan balik dan urus pekerjaan dan kesibukan kalian sendiri. Aku mengerti. Lagi pula aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga ke mana-mana," ujar Shara menengahi.
Akhirnya habis juga flashback masa lalu Ratih. Gimana? Sudah mulai terjawab ya rasa penasaran kalian..
Yuhu Marvel dan Raina muncul lagi. Kangen tidak nih sama mereka?
Jangan lupa like, komen, share, rate, vote, dan klik favorit.. Biar tambah semangat nih..
__ADS_1
Ditunggu terus ya kelanjutannya.. Terima kasih~