RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 61


__ADS_3

Raina sangat menikmati waktunya untuk berada di labirin perpustakaan. Ia membaca beberapa buku tentang dunia. Raina sangat tertarik karena buku-buku di sana sangat bagus.


"Nona," panggil Reinald.


"Kenapa?" tanya Raina sembari menutup buku yang ia baca lalu kepalanya ia arahkan ke Reinald.


"Nona ingin menghabiskan waktu di sini saja? Maksud saya, banyak wahana dan arena lain yang belum Anda coba. Sepertinya juga banyak yang menarik dan seru." Reinald menatap serius Raina. Jika saja Tuannya tahu kalau mata Reinald menatap lekat Raina, Reinald pasti sudah kena semprot oleh Marvel.


"Hm. Kamu benar juga. Tapi aku sungguh sangat menyukai tempat ini. Aku baru pertama kali menemukan labirin perpustakaan. Baiklah, aku sudah memutuskan. Aku akan mencoba wahana dan arena yang lain. Ayo kita cepat mencari jalan keluarnya," ujar Raina semangat.


"Baik Nona," jawab Reinald.


Mereka pun menyelesaikan labirin itu. Untuk mencari jalan keluar, membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi Raina dan Reinald sama-sama belum pernah bermain labirin. Mereka tidak tahu jika labirin sangat susah untuk dicari jalan keluarnya.


"Ku rasa tadi kita sudah ke sini," kata Raina bingung.


"Kita balik lagi ke sini. Berarti harus cari jalan yang lain," balas Reinald.


Setelah beberapa menit, mereka pun berhasil keluar dari tempat yang menurut mereka sangat menyulitkan tapi seru.


"Huft! Aku tidak tahu kalau mencari jalan keluarnya sangat susah. Padahal tadi ku lihat dari atas kalau labirin itu gampang. Aku kagum dengan pembuatnya," ujar Raina.


"Iya Nona. Saya juga merasa demikian."


"Reinald, kamu tahu tidak di sini yang jual minuman di mana? Aku sangat haus. Labirin itu membuatku sangat lelah," kata Raina sembari memegangi lehernya dengan artian kalau dia sangat haus.


"Saya akan carikan. Tolong Nona jangan ke mana-mana dulu. Saya akan menyuruh yang lain untuk menjaga Nona dari kejauhan," ucap Reinald penuh penekanan.


"Baiklah. Aku akan tunggu di sini," jawab Raina mantap.


Reinald pun berlalu dari sana. Kini tinggal Raina seorang yang berada di sana.


Raina melihat orang-orang berlalu lalang dengan pasangannya. Mereka semua tampak bahagia dan mesra.

__ADS_1


"Kalau aku ajak Marvel ke sini bakal seru kali ya? Ih pengen deh aku bisa kayak mereka, gandengan sama Marvel gitu," batin Raina terkekeh.


Raina kemudian mencari-cari wahana yang akan ia kunjungi setelahnya. Tak disangka, mata Raina menangkap seseorang yang sangat ia kenal.


"Itu kan Marvel? Tapi siapa perempuan di samping Marvel? Perempuan itu juga bergelayutan di lengan Marvel. Mereka tampak mesra sekali," ucap Raina dalam hatinya.


"Jadi maksud Marvel itu urusan kayak gini? Kirain urusan penting, tahu-tahunya dia malah bermesraan di sini. Baru tahu aku kalau Marvel ternyata pembohong. Padahal tinggal bilang pergi sama dia, susah banget sih," ujar Raina kesal.


Raina cemburu, tapi ia tidak menyadari bahwa dirinya itu sedang mode cemburu.


"Kenapa aku jadi kesal sih? Ya terserah mereka dong mau ngapain. Toh juga Marvel bukan siapa-siapa aku. Ya ampun Raina kamu tuh ya makin aneh aja," ujar Raina menggerutu.


Orang-orang yang berlalu lalang melihat Raina dengan tatapan aneh. Pasalnya Raina nampak seperti orang gila. Sudah sendirian, kelihatan ngomong sendiri, dan juga mukul-mukul kepala sendiri.


"Apa sih? Kenapa pada lihatin aku deh? Aku tahu aku cantik, tapi tidak perlu segitunya kali ngelihatinnya," kata Raina semakin kesal.


"Ngeselin ya semuanya. Ini juga Reinald benar-benar. Lama banget beli minum doang."


"Ke sana saja ah! Mumpung ada Marvel sama perempuan itu. Siapa tahu bisa main bareng, kan seru!" kata Raina polos.


Raina melangkahkan kakinya menuju ke tempat Marvel dan Cia yang sedang berfoto-foto.


Cklek..


Saat orang yang disuruh Cia untuk memfoto Cia dan Marvel sedang memotret, tiba-tiba Raina ikut berfoto di tengah-tengah mereka.


Kini foto itu bukanlah foto mesra Cia dan Marvel saja, tetapi foto mereka bertiga. Di sini Raina terlihat seperti orang ketiganya.


"Itu mba, ada..."


"Ada apaan sih? Pegel tahu saya dari tadi kayak gini. Cepat foto kan lagi," kata Cia dengan suara yang hampir teriak.


"Itu mba, ada orang di belakang mba. Ikutan kefoto tadi jadinya."

__ADS_1


Cia dan Marvel spontan menghadapkan kepalanya ke belakang. Hampir saja Marvel terhuyung ke belakang jika ia tidak berpegangan pada tiang di sebelahnya. Marvel sungguh kaget saat melihat orang itu adalah Raina. Sedangkan di sisi lain, Cia sudah siap untuk mengomeli orang yang mengganggunya itu.


"Kamu tuh ya, pernah diajarin etika tidak sih? Sudah tahu orang mau foto berdua, malah ikutan lagi. Tidak sopan! Orang kayak gini kok bisa masuk sini sih. Harusnya mah diusir saja!" ujar Cia emosi.


"Loh kok kamu marah sama aku sih? Aku cuman mau foto bareng kalian memangnya tidak boleh? Lagian aku ke sini bukan mau nyapa kamu, tapi nyapa Marvel. Aku mah tidak kenal sama kamu. Orang aku ada urusannya sama Marvel kok bukan sama kamu. Lagi pula bisa nanti kalian foto lagi. Foto doang mba, tidak perlu marah-marah. Nanti aku bisa fotoin juga," balas Raina yang tersulut emosi.


"STOP!" Marvel menengahi perdebatan mereka berdua. Kepalanya pening kala keduanya berdebat dengan suara yang nyaring. Marvel juga takut nanti mereka malah jambak-jambakan satu sama lain.


Cia dan Raina menatap tajam Marvel.


"Buset bisa barengan seperti itu," batin Marvel ngeri.


"Kalian kayak anak kecil tahu tidak? Tidak lihat tuh orang-orang pada natap ke arah kita? Nanti dikirain ada apa-apa lagi. Kalau mau berdebat, silahkan! Aku tidak akan melarang. Tapi tidak usah di sini. Silahkan lanjutkan perdebatan kalian, aku mau ke arena yang lain," ujar Marvel kesal.


"Ih Marvel! Kamu tuh utang penjelasan sama aku. Katanya ada urusan penting, eh ternyata malah berduaan mesra-mesraan sama cewek kayak dia," ucap Raina lantang sembari menunjuk Cia dengan telunjuknya.


Marvel diam. Dia memang berbohong tadi dengan Raina.


Lalu Marvel teringat dengan cincin pertunangannya dengan Cia. Pasalnya, mereka berdua lagi bersamaan memakai cincin itu. Tentunya karena paksaan Cia.


Marvel diam-diam menyembunyikan tangannya ke belakang dan melepaskan cincinnya. Untung saja tidak ketahuan oleh keduanya.


"Ya maaf, nanti aku jelasin. Sekarang aku yang nanya, kok kamu bisa ke sini? Terus sendirian lagi," tanya Marvel lembut pada Raina.


Cia terkejut karena ia baru melihat Marvel berujar lembut pada orang. Bahkan Marvel saja tidak pernah berujar lembut padanya.


"Siapa perempuan ini?" batin Cia penasaran.


Nah loh ketemu kan mereka. Kira-kira kalau Cia tahu si Raina adalah cewek yang dicintai oleh Marvel, gimana ya tanggapannya? Positifkah atau negatif? Tunggu terus ya kelanjutannya.


Jangan lupa like, komen, vote, share, rate, dan klik favorit yaa..


Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2