RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 52


__ADS_3

Tanpa Raina dan Ratih sadari, ada seseorang yang mengintai mereka dari kejauhan. Orang misterius itu menyeringai dibalik tembok yang menjadi pembatas antara dia dengan Ratih.



"Aku memang baik membiarkan kalian hidup bahagia dalam waktu yang cukup lama. Tapi tunggu saja hadiah dari ku yang paling berkesan dan tentunya akan menjadi kenangan terindah kalian," ucap orang itu misterius dengan suara yang sangat menyeramkan. Ada tersirat kekejaman, kesedihan, dan kemarahan di dalam suaranya.


Di kediaman rumah Nathan..


"Ayah aku sudah menggambar ini. Ini Ibu, Ayah, Marvel, dan aku," ujar Shara antusias sambil menunjukkan gambarnya.


Dengan santai dan tidak berperasaan, Nathan mengambil gambar itu dan merobeknya di depan mata Shara yang masih kecil itu.


Mata Shara berkaca-kaca melihat kelakuan Ayahnya. Memang dari dulu ia suka diperlakukan tidak baik. Tapi Shara pikir waktu itu terakhir kali Ayahnya ke rumah, Ayahnya baik sekali padanya.


"Tidak usah menangis. Saya tidak menyukainya," ujar Nathan dingin dan sangat mengiris hati Shara.


Terlihat Marvel sedang melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan membawa bunga kesayangan Ibunya.


"Kak ini bunganya," kata Marvel yang masih belum menyadari keberadaan Ayahnya.


"Marvel," panggil Shara lirih.


Marvel langsung mendongak dan terkejut. Ia langsung menjatuhkan bunganya.


"Kenapa ada Ayah di sini? Kak Shara juga kenapa seperti ingin menangis?" batin Marvel.


"Jadi selama ini kelakuan kalian seperti ini? Kalian ingin membantu Ibu kalian itu? Bagus! Sepertinya kalian tidak mengerti peringatan-peringatanku sebelumnya. Apa aku harus memberi kalian hukuman termanis?" tanya Nathan dengan aura gelap yang dimilikinya.


"JAWAB!" teriak Nathan menggelegar.


"Aku yang salah, Ayah. Ini sama sekali bukan salah Marvel. Aku yang menyuruhnya. Aku kasihan dengan Ibu," jawab Shara takut. Ia tahu bahwa jawabannya itu akan menyulut emosi Ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus sebisa mungkin melindungi adiknya dari hukuman yang tak berperikemanusiaan itu.


"Tidak! Itu kemauanku sendiri untuk mengambil bunganya. Aku memang sudah berniat membantu Ibu tanpa sepengetahuan Ayah. Aku tidak tahu bahwa Ayah akan pulang hari ini. Kak Shara sama sekali tidak tahu!" kata Marvel berani. Itu sudah membuat emosi Nathan naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Anak sialan!" umpat Nathan sembari menarik mereka berdua ke ruangan untuk menerima hukuman. Sedangkan yang ditarik hanya pasrah saja. Setidaknya mereka sudah berusaha melepaskan dan membebaskan Ibunya.


Ratih POV..


Selesai aku menyuapi Raina, aku menidurkannya karena dia terlihat mengantuk. Aku juga menyuruh temanku untuk menjaganya sebentar.


Lalu aku menelepon Raihan untuk memberitahunya kalau aku akan ke rumah Nathan lagi. Siapa tahu bertemu dengannya yang sudah lama tak kelihatan. Aku ingin menjelaskan semuanya dan tentunya mengakhiri hubungan kita.


Saat aku sampai di rumah Nathan, aku melihat anaknya, Marvel sedang memetik bunga. Lucu sekali ku pikir. Aku mengendap-ngendap untuk masuk ke dalam agar tidak diketahui oleh satpam-satpam yang tugasnya menjaga keamanan rumah itu dan berhasil.


Aku mengikuti anak itu dari belakang. Aku terkejut kala melihat ada Nathan di situ. Ini adalah kesempatanku untuk menjelaskannya pada Nathan. Kebetulan sekali orangnya yang sudah lama hilang muncul kembali. Tapi saat aku ingin masuk menampakkan diri, aku terhenti karena mendengar Nathan, Shara, dan Marvel yang nampaknya seperti sedang bertengkar. Aku heran. Setahuku Nathan ini tipe orang yang penyayang.


Ku lihat Nathan menarik kedua tangan kecil itu untuk menuju ke suatu ruangan.


"Ruangan apa itu?" batin Ratih.


Ratih diam-diam mengikutinya. Ratih terkejut. Ruangan itu sungguh menyeramkan. Bahkan suasananya saja sudah seperti tempat untuk menyiksa orang.


Ratih melihat Marvel dan Shara yang disuruh berlutut di hadapan Nathan.


Deg!


Ratih melihat Nathan mencambuk kedua anaknya itu secara bergantian. Bunyi cambukan itu nyaring sekali. Nathan memcambuk mereka dengan sangat kencang. Bahkan bisa dilihat baju mereka berdua sudah terkoyak belakangnya.


"Ya ampun! Apa yang harus ku lakukan? Lalu kenapa Nathan melakukan ini semua? Bukankah dia orang yang sangat penyayang dengan anaknya?" ujar Ratih panik.


Lalu kepanikan Ratih semakin bertambah kala melihat orang yang menuju ke arahnya. Ia bisa melihatnya lewat bayangan. Mau tidak mau Ratih harus bersembunyi. Tapi sayangnya, ia tak menemukan tempat untuk bersembunyi di situ. Akhirnya, ia berlari menyelusuri lorong berharap bisa mendapatkan tempat bersembunyi.


Ratih menemukan sebuah pintu yang penuh dengan debu. Lalu Ratih pikir itu adalah tempat yang aman untuknya bersembunyi. Ratih kemudian membuka pintu tersebut.


"Mungkin semua yang ada di rumah ini menyeramkan kali ya? Kenapa ruangannya jadi gini semua dan juga mencekam?" tanya Ratih dalam hatinya.


Ratih meraba-raba sekitarnya berusaha untuk mencari lampu. Di sana sungguh gelap. Ratih tidak dapat melihat apa-apa.

__ADS_1


Ratih menemukan saklar lampu, kemudian ia menghidupkannya. Walau pun redup, tapi setidaknya lampu itu masih menyala.


"Kyaa!" teriak Ratih spontan. Ia kaget dengan apa yang dilihatnya.


Ratih langsung tersadar dan mendekap mulutnya. Dia sadar perbuatannya itu tadi bisa memancing perhatian yang ada di luar.


"Kamu siapa?" tanya perempuan di depan Ratih.


Sungguh Ratih takut dengan perempuan di depannya ini. Perempuan ini seperti tidak terurus. Bahkan Ratih heran, perempuan ini bisa hidup dalam gelap seperti tadi.


"Kamu dulu jawab, kamu siapa?" kata Ratih was-was.


"Aku istrinya Nathan," jawab perempuan itu.


"Hah?" Lagi-lagi Ratih terkejut dengan pernyataan yang barusan ia dengar.


"Iya. Kamu siapa? Kok bisa masuk ke sini? Setahu aku tidak ada yang akan pernah tahu ruangan ini," tanya dia lembut.


"Berjanjilah padaku untuk tidak memberitahukan hal ini dengan suamimu yang tidak ada perasaan itu. Aku tadinya ke sini untuk meminta maaf atas kesalahanku terhadap suamimu. Lalu aku melihat anakmu yang memetik bunga di depan. Aku mengendap-ngendap masuk ke sini. Aku ingin tahu. Lalu pas aku masuk, Nathan seperti memarahi kedua anakmu. Terus tadi Nathan membawa mereka secara paksa ke ruangan yang ada di ujung sana. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Nathan mencambuk mereka berdua. Sungguh itu membuatku sangat terkejut," kata Ratih menjelaskan pada istri sah Nathan itu.


"Lagi-lagi mereka disiksa," lirih perempuan itu.


"Memang mereka sudah biasa digitukan?" tanya Ratih penuh hati-hati karena takut menyinggung perasaannya.


"Iya sudah biasa. Aku menjadi Ibu yang tidak berguna. Sejak Marvel lahir, aku dikurung di sini. Kerjaanku hanya duduk dan merenung di kegelapan. Mereka hanya memberiku makan dan minum saja. Aku hanya ingin bertemu anak-anakku. Mereka juga berusaha bertemu dan melakukan sesuatu untuk membahagiakanku. Tapi sayang, setiap perlakuan mereka yang seperti itu akan ketahuan oleh Nathan atau anak buahnya. Mereka berakhir dengan siksaan," kata perempuan itu sedih.


"Jika kamu bisa membantuku untuk keluar dari sini, aku pasti akan sangat berterima kasih padamu. Kalau aku sudah keluar, aku tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk membebaskan anak-anakku yang sangat kusayangi," lanjutnya.


Semoga semakin suka ya dengan ceritanya.


Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit.


Ditunggu ya kelanjutannya.

__ADS_1


__ADS_2