
Deg..
Raina sekarang sungguh ketakutan. Ia bingung harus apa.
"Kamu sebenarnya dendam apa sih sama Marvel?" tanya Raina memberanikan diri.
"Banyak," kekeh orang bertopeng itu.
"Aku ingin orang yang disukai ataupun dekat dengan Marvel menderita termasuk dirimu," lanjut orang bertopeng itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Raina hati-hati.
"Aduh masa tidak ada satu pun orang sih yang ke sini atau mendengar sesuatu," batin Raina ketakutan.
"Jangan berharap kalau ada orang yang menolongmu! Aku telah mengaturnya, Haha!" tawa orang itu menggelegar.
"Kau!"
"Diam! Kau sangat berisik! Aku tak suka mangsaku berisik!"
Orang bertopeng itu mendekat ke arah Raina dan mengarahkan pecahan beling tersebut menuju pergelangan tangan Raina.
"AH!" teriak Raina sebelum pandangannya menggelap.
Marvel POV..
"Kenapa Raina lama sekali?" tanya Marvel pada dirinya sendiri sambil melihat jam tangannya.
"Mungkin sebentar lagi," ujar Marvel yang masih mencoba untuk berpikir positif.
10 menit kemudian..
"Tidak! Ada yang tidak beres. Sudah hampir setengah jam Raina belum balik juga," khawatir Marvel.
Marvel langsung bergegas ke arah toilet dengan berlari kecil. Ia sangat khawatir kenapa Raina belum balik juga dari toilet.
Marvel pun tiba di depan toilet.
"Bukannya ini toilet yang tadi Raina masuki? Kenapa ada tulisan rusak di sini?" gelisah Marvel.
__ADS_1
Perasaan Marvel sungguh tidak enak.
Cklek..
Marvel mencoba membukanya tapi terkunci.
"Raina, apa kau di dalam? tanya Marvel.
Hening..
Mendengar tidak ada jawaban dari Raina semakin membuat Marvel kalut.
Marvel tanpa aba-aba langsung mendobrak pintu toilet tersebut.
Saat Marvel memasuki toiletnya, ia sungguh terkejut bukan main.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Raina yang terkapar di lantai dengan pergelangan tangan yang sudah basah dengar darah.
Deg!
"RAINA!" teriaknya.
"Raina bangun, hey bangun," ujar Marvel sambil menepuk-nepuk pipi Raina.
Tidak ada pergerakan dari gadisnya itu.
Marvel langsung menggendong Raina dan menuju ke rumah sakit.
Rainanya harus baik-baik saja.
Di mobil, Marvel hanya menggelengkan kepalanya sambil meyakinkan dirinya bahwa Raina adalah gadis yang kuat.
Sesampainya di rumah sakit..
Marvel buru-buru memarkirkan mobilnya dan membawa tubuh Raina ke dalam rumah sakit.
"SUSTER! DOKTER! TOLONG CEPAT!" teriak Marvel menggelegar di lorong rumah sakit tersebut.
Raina pun dibawa ke ruangan UGD.
__ADS_1
"Maaf pak, Anda tidak boleh masuk," kata suster menghalangi jalan Marvel yang ingin ikut ke UGD.
"Memangnya kau siapa! MINGGIR!" ujar Marvel dengan suara yang kencang.
"Maaf pak, tolong kerjasamanya. Ini sudah menjadi prosedur rumah sakit. Pasien harus segera ditangani. Jangan memperlambat pekerjaan kami pak. Ini masalahnya menyangkut nyawa pasien," jelas suster tersebut.
Suster tersebut menutup pintu UGD.
Marvel langsung meninju keras tembok yang ada di sampingnya.
"Siapa yang berani-beraninya mengganggu dan melukai Raina?" geram Marvel dalam hatinya.
"Reinald!" teriak Marvel memanggil Reinald
"Ya, Tuan."
"Carikan info siapa yang membuat Raina seperti ini!" perintah Marvel.
"Baik, Tuan."
"Lihat saja. Aku akan membalas apa yang telah kau berbuat!"
Di lain tempat..
"Bagaimana?"
"Saya berhasil melukai Raina dan Marvel juga terlihat sangat khawatir dengannya."
"Lalu?"
"Marvel membawanya ke rumah sakit. Sepertinya gadis itu keadaannya cukup parah."
"Apa reaksi Marvel selain khawatir dengannya?"
"Marvel sangat marah dan ingin membalaskan dendamnya pada kita. Marvel menyuruh tangan kanannya mencari pelaku yang membuat Raina seperti itu."
"Bagus! Dia pikir aku adalah lawan yang mudah. Lihat saja, seberapa jauh dia hebat sampai bisa menemukan kita! Atur rencana yang baru."
"Baiklah."
__ADS_1
Ya mereka adalah orang bertopeng itu. Orang yang membuat Raina masuk ke rumah sakit.