RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 51


__ADS_3

Ratih segera mencekal tangan Raihan yang akan pergi.


"Maaf, jangan tinggalkan aku," ujar Ratih parau.


Raihan terdiam.


"Aku akui aku salah. Aku sangat-sangat bersalah. Tindakanku ini tak patut dilakukan seharusnya. Maaf, aku telah meragukanmu. Aku hanya merasa kamu telah berubah. Aku rasa kamu menjadi gila kerja dan tidak pernah memperhatikanku. Bahkan saat aku mengidam pun kamu tidak pernah ada untuk aku minta tolong. Hanya lelaki itu yang mengisi hatiku yang sempat kosong. Dia selalu menemaniku dan menuruti keinginanku. Dia juga menghibur dan menyenangkanku. Jujur aku memang merasa nyaman dengannya. Tapi aku salah mengartikan kata nyaman itu. Aku pikir aku mencintainya. Aku salah, Raihan. Ternyata aku masih tetap mencintaimu dan kamu tidak akan pernah terganti," lirih Ratih dengan air mata yang telah membasahi kembali pipinya. Raihan yang mendengarnya juga terlihat begitu sedih. Tanpa disadari juga ada setetes air mata yang keluar dari kelopak mata Raihan.


"Aku tidak tahu harus berbicara apa lagi, yang pasti aku sangat bersalah di sini. Aku bahkan tidak memikirkan nasib anakku kelak dan yang paling fatal nya adalah aku sempat ingin menjadikan lelaki itu sebagai Ayah pengganti kamu. Aku hilang akal saat itu. Aku juga merasa bersalah karena tidak menjadi istri yang bertanggung jawab. Aku harusnya mendukung kamu saat kamu lagi terpuruk. Harusnya aku menyemangati kamu, bukannya malah selingkuh," lanjut Ratih yang terus-terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus menyalahkan dirinya karena dirinya yang terlalu bodoh ini.


"Tidak perlu minta maaf. Aku yang salah. Aku yang telah mencuekimu sehingga kamu tidak lagi merasakan kenyamanan saat berada dekatku. Maafkan aku yang lebih memilih perusahaanku dan melupakan kamu serta anak kita," jawab Raihan dengan suara serak. Suara serak itu menandakan bahwa Raihan berusaha untuk menahan tangisannya. Ia tidak ingin ada lagi air mata yang tumpah dari kelopak matanya.


Ratih memeluk Raihan sambil mengusap punggung Raihan. Mereka saling menyalurkan kekuatan. Ratih berusaha agar dia tidak menangis lagi. Ia harus tegar untuk semua hal yang terjadi.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Raihan di sela-sela pelukannya.


"Aku memilihmu Raihan. Aku ingin anakku bahagia dengan Ayah kandungnya. Aku ingin juga kita bahagia seperti dulu kala. Untuk soal perusahaan, aku pasti akan membantumu semaksimal mungkin. Kita hadapi bersama-sama," ujar Ratih menjawab pertanyaan yang diberikan Raihan.


"Terima kasih telah memilih untuk bertahan denganku. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu selalu. Tapi bagaimana dengan lelaki itu? Aku tidak enak jika dia mengira kau menjadikannya hanya sebagai pelampiasan," kata Raihan yang masih peduli.


"Aku akan membicarakannya baik-baik jika ada waktu. Aku minta tolong kamu bantu aku juga," jawab Ratih.


"Baiklah."


"Oek.. Oek.." Terdengar suara tangisan bayi saat mereka sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberi pengertian pada lelaki yang tidak bersalah sama sekali menurut mereka.


"Aku ke dalam dulu. Sepertinya Raina terbangun dari tidurnya," kata Ratih dengan berlari kecil ke arah kamar di mana ia meletakkan Raina tadi.


Raihan mengikuti langkah Ratih dari belakang. Ia juga ingin melihat anaknya.


Saat mereka sampai di kamar, mereka melihat bayi menggemaskan itu sedang menangis kencang di tempat tidurnya. Matanya masih terpejam.


Ratih langsung mengambil bayi itu dan menggendongnya berusaha untuk menenangkannya.


"Hey, kok nangis sih. Sudah ya ada mama di sini. Jangan nangis lagi," kata Ratih yang masih berusaha menenangkan Raina.

__ADS_1


Ratih menepuk-nepuk bokong Raina supaya Raina kembali tertidur.


Sayangnya Raina, si bayi kecil itu malah semakin menangis histeris. Ratih bingung melihat anaknya seperti ini.


"Tumben nangis kayak gini. Apa sakit ya?" batin Ratih.


"Aduh kenapa sayang? Ada yang sakit ya? Kok nangis terus sih?" tanya Ratih. Padahal ia tahu kalau ia tak akan mendapat jawaban dari Raina karena Raina belum mengerti apa-apa.


"Popoknya belum penuh kok," ujar Ratih setelah mengecek popok bayinya itu.


"Kenapa ya? Mungkin lapar kali," timpal Raihan.


"Tidak lapar. Aku sudah cek tadi. Dia juga kan baru aku susui masa sudah lapar," jawab Ratih.


"Sini coba aku gendong," kata Raihan sembari menjulurkan dua tangannya.


Ratih memberikan Raina untuk digendong oleh Raihan. Raihan langsung mengambil alih Raina dan berusaha menenangkan Raina.


Ini adalah kedua kalinya Raihan menggendong Raina. Setelah kelahiran Raina, sesungguhnya ia ingin lebih sering menggendong Raina. Tapi saat ia ingin, Ratih seperti tidak mengizinkannya. Akhirnya Raihan memilih mengalah untuk tidak menggendong Raina.


Ucapan Raihan seperti mantra bagi Raina. Bayi itu langsung terdiam dan berhenti dari tangisannya. Raina mengarahkan kedua tangannya ke muka Raihan seraya tersenyum.


"Sepertinya dia kangen dengan papanya," kata Ratih tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Rasa penyesalan juga kembali menghinggapi Ratih.


"Ya ampun, aku mikir apa sih waktu itu? Bisa-bisanya aku berpikir untuk memisahkan mereka berdua. Anak dan papanya sendiri. Bodoh kamu Ratih," ucap Ratih dalam hatinya.


"Wah anak papa pintar! Kangen ya sama papa? Ya sudah yuk sekarang main sama papa, abis itu kita tidur bareng ya," ujar Raihan seperti seolah-olah sedang mengobrol dengan bayi lucunya.


"Iya papa. Aku kangen sama papa. Jangan tinggalin aku ya papa," ucap Ratih menirukan suara anak kecil.


"Kamu bisa saja," ujar Raihan seraya tertawa.


Kini kehangatan mulai mereka rasakan kembali. Mereka seolah-olah melupakan apa yang barusan terjadi.


Di sisi lain..

__ADS_1


"Arg!" umpat Nathan.


"Sialan kau, Raihan! Baru saja aku telah mendapatkan hati Ratih. Gara-gara kamu usaha ku gagal. Kenapa Ratih harus kembali luluh dengan orang seperti dia?" kata Nathan dengan emosi yang meluap.


"Lihat saja Raihan! Kau membuat semua rencanaku gagal. Tunggu pembalasanku," ujar Nathan sembari memukul tembok di sampingnya.


Beberapa tahun kemudian..


Raina, Raihan, dan Ratih telah menjadi keluarga harmonis dan bahagia. Entah mengapa juga Nathan menghilang begitu saja. Kini Raina telah berumur tiga tahun.


"Mama," panggil Raina.


"Iya kenapa sayang?" tanya Ratih sambil memeluk anaknya.


"Laina pengen makan. Laina lapel," ujar Raina dengan suara cadelnya.


"Bilang 'R' dengan benar dulu sayang. Dicoba dong," kata Ratih menjahili anaknya. Ia terkekeh melihat wajah Raina yang masam.


"L mama L."


"Ih kamu mah, latihan makanya."


Mata Raina berkaca-kaca karena kesal tidak bisa mengucapkan 'R'. Itu menjadi bahan ejekan oleh Ratih dan Raihan.


"Eh jangan nangis dong, mama cuman bercanda," ujar Ratih kalap.


"Iya. Papa ke mana?" tanya Raina dengan pandangan menelusuri seisi rumah.


"Papa kerja sayang. Nanti juga pulang. Sudah ah, katanya lapar. Yuk makan," ajak Ratih.


Raina mengangguk patuh.


Ini masih flashback nya Ratih ya. Aku bikin lumayan banyak flashback nya biar jelas.


Jangan lupa like, komen, vote, share, dan klik favorit ya.

__ADS_1


Ditunggu kelanjutannya.


__ADS_2