
"Dia ini Nia. Istri sah Nathan," ujar Ratih menjelaskan pada Raihan.
"APA?" kata Raihan terkejut. Pasalnya, Ratih belum pernah menceritakan soal Nathan yang telah memiliki istri.
"Iya sayang, jangan teriak. Awas aja kalau Raina bangun, aku gibeng kamu!" ancam Ratih menyeramkan.
Raihan meneguk ludahnya. "Iya-iya maaf aku kelepasan."
"Jadi tuh aku lupa kasih tahu ke kamu kalau misalnya Nathan sudah mempunyai istri sebelum aku dan dia bertemu. Malahan dia sudah punya anak dua," kata Ratih.
"Gila Nathan. Masih berani-berani main belakang. Sudah punya anak dan istri juga. Otaknya ke mana tuh," geram Raihan.
"Ya gitu deh. Oh iya, Nia ini suamiku Raihan."
Nia mengangguk seraya tersenyum ke arah Raihan.
"Maaf mengganggu kalian. Aku hanya ingin menetap di sini beberapa hari sampai situasi aman. Maaf aku harus melibatkan kalian," ujar Nia tulus meminta maaf.
"Memangnya kenapa kamu harus tinggal di sini?" tanya Raihan bingung.
"Jadi gini mas, bertahun-tahun tuh si Nia dikurung sama Nathan. Lebih tepatnya setelah melahirkan anaknya yang kedua. Dia tuh diperlakukan tidak layak. Aku saja kasihan mendengarnya," ujar Ratih menjawab.
"Biadab sekali Nathan. Baiklah Nia kamu boleh sementara ini tinggal di sini. Tapi tolong jangan lama-lama karena aku takut keluarga kami juga jadi terlibat. Aku tidak mau menanggung resiko karena sekarang aku mempunyai malaikat kecil yang harus dijaga," kata Raihan santai.
"Hm Ratih? Kamu bisa jelasin ke aku? Katanya Nia ini dikurung, tapi kok bisa bebas. Oh ya, tadi kamu juga ke rumah Nathan kan?" lanjut Raihan.
"Iya mas. Masa tuh ya, pas aku sampai ke sana, aku lihat anaknya Nathan lagi metik bunga. Aku diam-diam saja tuh masuk ke dalam rumah itu. Nah pas aku masuk, anak-anaknya Nia ini lagi kayak adu mulut gitu sama Nathan. Terus mereka diseret ke salah satu ruangan. Nah aku ikutin tuh. Tahu tidak sih? Nathan mencambuk anaknya dengan tidak berperasaan. Aku saja meringis melihatnya. Terus ada penjaga yang mau ke situ, aku kabur deh dan menemukan sebuah ruangan. Ruangannya malah serem banget lagi, gelap, kayak tidak berpenghuni gitu. Tapi mau tidak mau aku harus bersembunyi di situ. Ternyata ada Nia di ruangan tersebut. Aku membantunya untuk kabur dari situ. Aku menyusun rencana dan untungnya semuanya berhasil. Bahkan aku merasa beruntung karena ilmu bela diri yang kupelajari dulu dapat dipakai," ucap Ratih menjelaskan kejadiannya dengan rinci.
"Waduh parah banget si Nathan itu."
Saat Raihan ingin melanjutkan bicaranya, ada telepon yang berbunyi. Raihan segera mengangkatnya karena itu adalah pengurus dari perusahaannya. Ditakutkan ada suatu hal yang penting.
__ADS_1
"Halo. Ada apa?" tanya Raihan.
"Maaf, Pak. Saya hanya ingin memberi tahu. Kemarin memang perusahaan kita sudah membaik dari segi keuangan. Tapi saya di sini kembali menemukan kejanggalan, Pak. Bahkan ini lebih parah dari sebelumnya. Saham dan uang perusahaan kita telah hilang entah ke mana. Lalu enam perusahaan yang bekerja sama dengan kita membatalkannya. Kita yang harus mengganti rugi."
"Apa? Bagaimana bisa kecolongan lagi? Usut semuanya!" ujar Raihan panik.
Nia dan Ratih saling menatap. Mereka bergelut pada pikirannya sendiri. Ada apa lagi pikir mereka.
"Tidak bisa, Pak. Ini menjadi poin masalahnya. Perusahaan kita dinyatakan akan gulung tikar. Kita tidak mungkin membalikkan keadaan lagi. Kita juga sudah tidak mungkin untuk memperbaiki keuangan perusahaan. Saya tidak bisa apa-apa, Pak. Tolong beri keputusan secepatnya. Kasihan pak para karyawan di sini."
"Baiklah jika itu yang terbaik. Aku rela menerima apa pun resikonya. Tolong sampaikan maaf ku pada karyawan-karyawan perusahaan. Maaf aku telah menjadi pemimpin yang tidak becus," ujar Raihan pusing.
Raihan mematikan teleponnya. Ia mengacak rambutnya gusar.
"Masalah apa lagi ini?" tanya Raihan dengan suara yang kencang.
Ratih terkejut.
"Aku tidak tahu Ratih! Aku pusing! Kenapa bisa begini lagi?"
Nia sudah merasakan atmosfer tidak enak di ruangan itu. Ia takut itu adalah perlakuan suaminya.
Tiba-tiba pintu didobrak oleh seseorang. Ralat bukan hanya satu orang, tapi beberapa orang.
Karena saking terkejutnya, Ratih dan Nia kompak berdiri dan langsung mengedarkan pandangannya ke arah pintu.
"Siapa kalian?" tanya Ratih was-was. Karena ia tidak mengenal satu pun orang yang mendobrak pintu rumahnya.
"Halo sayangku Nia dan Ratih. Wah bagus sekali ya kedua orang yang ku sangat sayangi berkumpul di sini," ujar seseorang muncul dari tengah-tengah orang yang berbaju hitam. Ia menyeringai seram dan memajukan langkahnya.
Orang itu adalah Nathan. Nathan bergerak cepat. Ternyata setelah mengetahui Nia yang hilang, ia langsung menuju ke rumah Ratih.
__ADS_1
"Ya-ya-ya.. Keren sekali kamu, Ratih. Aku kagum denganmu. Pahlawan kesiangan kita. Keren sih bisa lolos dari penjaga ketat di rumahku. Tapi sayang, itu sangat mudah bagiku untuk mengetahui siapa yang berani-beraninya mengusik rumahku," ujar Nathan seraya tepuk tangan.
"Jangan macam-macam kamu, Nathan!" ancam Ratih walau pun Ratih sangat takut.
"Ups aku tidak akan macam-macam kok. Aku hanya ingin bermain dengan kalian. Bukankah kejam jika kalian di sini, tapi tidak mengajakku?" tanya Nathan dengan nada pura-pura sedih.
"Eh ada Raihan. Aduh aku barusan kirim hadiah loh ke Raihan. Hadiahku bagus ya sampai bisa bikin kamu pusing. Makanya ngurus perusahaan tuh yang bener. Lihat aku nih contohnya," kata Nathan mengejek Raihan.
"SEBENARNYA KAU MAU APA? CUKUP HANCURKAN SAJA PERUSAHAANKU, TAPI TIDAK DENGAN MENGUSIK KELUARGAKU!" ujar Raihan emosi. Sudah habis kesabarannya mendengar kata-kata yang keluar dari setiap mulut Nathan.
"Wah ada yang berteriak di sini! Aku memang tidak puas hanya menghancurkan perusahaan kamu. Aku pengennya bermain dengan keluargamu gimana dong?" tanya Nathan dengan suara menyebalkan.
"KAMU..!"
Ucapan Raihan terpotong kala ada suara yang membuat semua orang menegang kecuali Nathan yang malah tersenyum.
"Papa belisik sekali. Laina balu saja teltidul. Kenapa papa belisik? Laina kaget mendengal suala papa," kata Raina seraya mengucek kedua matanya.
"Halo Raina. Kau tumbuh menjadi anak yang sangat cantik ya rupanya. Raina tidak kangen dengan om? Padahal dulu Raina pernah meluk om loh waktu bayi. Om juga sering gendong Raina," ujar Nathan lembut.
Raina menatap Nathan dari atas sampai bawah.
"Benalkah? Kenapa Laina tidak pelnah melihat om?" ujar Raina heran, tapi ia tetap melangkah kakinya ke arah Nathan.
Spontan Ratih berteriak.
"RAINA, KAMU JANGAN KE SITU!"
Yey sedikit lagi akan terungkap kenapa Raina akan terpisah dengan Ratih.
Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit ya.
__ADS_1
Ditunggu terus kelanjutannya.