
Marvel POV..
"Entah mengapa aku terus memikirkan Raina. Aku khawatir dengan nya. Perasaanku tidak enak," gelisah Marvel.
Marvel jalan bulak-balik di ruangan nya. Ia resah.
Tok..Tok..Tok..
Lamunan Marvel buyar karena suara ketukan pintu.
"Siapa? Masuk!" ujar nya dengan dingin.
"Maaf, Tuan. Saya telah mengganggu Anda," kata Reinald.
Ya, orang yang mengetuk pintu adalah Reinald.
"Ada apa?" tanya Marvel.
"Tuan, anak buah yang diperintahkan menjaga nona Raina lost contact (tidak bisa dihubungi)," ucap Reinald menjelaskan apa tujuan nya mendatangi Marvel.
"APA? BAGAIMANA BISA?" teriak Marvel.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya lagi menyuruh orang untuk mengecek nya ke sana."
"Aku ingin ke sana!" putus Marvel.
"Bukan nya ingin membantah, tapi tolong tunggulah dahulu orang yang mengecek keadaan kembali. Jika situasi aman, baru Tuan boleh ke sana," ujar Reinald menyarankan.
"Benar juga kata mu. Suruh orang itu mengeceknya dengan cepat," suruh Marvel.
"Baik, Tuan. Saya permisi," pamit Reinald.
Raina POV..
"Aduh! Aku benar-benar takut untuk keluar. Aileen dan keluarganya bagaimana ya? Apa mereka baik-baik saja?" ujar Raina berbicara sendiri.
"Aku harus telepon Aileen. Astaga pulsaku tidak ada. Uangku masih cukup tidak ya untuk beli pulsa? Apa aku ke sana aja untuk melihat keadaan Aileen dan keluarga nya?" Raina berargumen sendiri.
__ADS_1
"Baik lah sudah kuputuskan! Aku ke rumah Aileen saja," putus Raina.
Raina mengambil sepedanya di luar dan mulai mengayuh sepedanya menuju rumah Aileen.
Jarak rumah Raina dan Aileen cukup jauh.
Jika menggunakan sepeda kira-kira Raina akan sampai ke rumah Aileen 1 jam.
Marvel POV..
"Bagaimana kau sudah mendapat info?" ujar Marvel tak sabaran.
"Tuan, anak buah yang disuruh menjaga Raina hilang. Tidak ada satu pun yang ada," jelas Reinald.
"Bagaimana bisa? Lalu bagaimana keadaan Raina? Apa dia baik-baik saja?" tanya Marvel khawatir.
"Kamarnya kosong. Sepedanya tidak ada. Seperti nya Raina lagi pergi menggunakan sepeda."
"Oh tidak, tidak ada yang menjaganya."
"Tuan tidak perlu khawatir karena saya sudah menyuruh orang untuk melacaknya."
"Terima kasih, Tuan."
Raina POV..
"Huft, melelahkan sekali, akhirnya aku sampai di sini," ucap Raina sambil mengelap keringatnya yang sudah banjir.
Di rumah Aileen..
Rumah Aileen memang bisa dibilang besar dan minimalis. Waktu itu Raina sempat ditawarkan untuk tinggal di rumah Aileen, tapi Raina menolak karena sudah terlalu banyak merepotkan Aileen.
Raina mengetuk pintu sembari berkata, "Aileen ini aku Raina, apakah kau ada di dalam?"
"Aileen?" panggil Raina sekali lagi.
__ADS_1
Kriet..
Pintu terbuka dan menunjukkan Aileen.
"Oh Raina, maaf lama membukanya. Kukira siapa yang mengetuk."
Kulihat mimik wajah Aileen seperti ketakutan?
"Silahkan masuk, Raina."
Aku masuk ke rumahnya.
"Ibu, apa kabar?" sapa Raina kepada Ibu Aileen.
"Baik, Nak. Sudah lama ya kamu tidak ke sini," ucap ibunya Aileen.
Memang Aileen dan keluarganya sudah menganggap Raina sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Iya, Bu. Raina baru sempat mengunjungi Ibu. Maaf Bu," ujar Raina tidak enak.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah makan?"
"Sudah Bu. Tadi malam aku menelepon Aileen. Kalian baik-baik saja? Soalnya di telepon kalian seperti tidak baik-baik saja," ujar Raina tenang.
"Kami tidak apa-apa Raina. Berhentilah mengkhawatirkan kami. Yang harus kami khawatirkan di sini itu kamu. Kenapa sih kamu minta tolong waktu di telepon? Kamu kayak ketakutan gitu loh," kata Aileen panjang lebar.
"Ehm aku tidak apa-apa kok," ucap Raina berbohong.
"Sebenarnya tadi malam ada orang yang masuk ke rumah secara paksa. Dan yang parahnya orang itu tidak hanya satu, tapi banyak orang. Ia masuk lalu menyerang Ibu. Tapi aneh juga ya, setelah itu dia pergi begitu saja. Kami agak syok," jelas Aileen.
"Astaga, lalu kalian bagaimana?"
"Kau tidak perlu khawatir Nak. Ibu dan Aileen baik-baik saja," kata ibu Aileen.
"Maafkan aku ya tidak bisa membantu kalian," kata Raina bersalah.
"Bukan salahmu. Lagipula dibilangin kita ini baik-baik saja. Oh ya lebih baik, ayo kita main saja!" kata Aileen.
__ADS_1
"Baiklah."