
Marvel memarkirkan mobilnya ke mansionnya. Kali ini ia memilih untuk pulang ke mansion dikarenakan keamanan mansion lebih ketat dibandingkan penthouse. Marvel takut besok saat Raina ditinggal olehnya, terjadi apa-apa. Semua itu penyebabnya adalah Cia yang mengajaknya jalan-jalan secara tiba-tiba.
Marvel membukakan pintu mobil dari arah Raina layaknya tuan puteri.
"Ih aku bisa buka sendiri kali," cibir Raina.
"Itu bibir tidak usah monyong-monyong juga kali, nanti aku tidak tahan melihatnya," ujar Marvel dengan tampang tanpa dosa.
Raina spontan memegang bibirnya. Padahal Raina tidak mengerti maksud dari Marvel.
Marvel hanya terkekeh melihat tingkah polos dari Raina.
"Tidur ya tuan puterinya Marvel, besok aku ada urusan. Kamu di sini dulu ya, keliling sekitar mansion ini saja. Tidak boleh ke mana-mana. Aku takut ada apa-apa. Turut ya kucing kecilku," ujar Marvel sangat lembut dan membuat Raina terpana juga dengan senyuman Marvel yang sangat manis. Ini pertama kalinya Raina melihat Marvel yang tersenyum begitu tulus. Mulut Raina sampai menganga karena melihat ketampanan Marvel yang bertambah berkali-kali lipat.
"Itu mulutnya mau aku.."
Raina langsung tersadar dari lamunannya.
"Mau kamu apain mulut aku? Aku cuman terpana karena kamu senyum. Tahu tidak? Senyum kamu tuh buat kamu makin tampan kayak dewa," ujar Raina spontan. Tentunya Raina tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
"Jadi kamu ngakuin kalau aku tampan? Terima kasih atas pujiannya, aku tersanjung lho. Kamu juga tak kalah cantiknya. Kalau aku dewa, kamu yang menjadi dewinya," jawab Marvel dengan mengusap rambut Raina pelan.
"Aku tidak bermaksud untuk mengakui kamu tampan kok. Tadi aku cuman salah bicara saja. Tidak usah ge-er deh!" kata Raina salah tingkah.
"Sudah ah, sudah malam. Tidur saja yuk!" ajak Marvel.
"Ayuk!" balas Raina.
Besokkan harinya..
Marvel sedang bergelung pada selimutnya. Ia lelah beberapa hari ini. Saat lagi berada di alam mimpinya, tiba-tiba dering handphone mengganggu mimpi Marvel yang bisa dibilang indah karena Marvel sedang memimpikan dirinya bersama Raina menikah.
"Ckck.. Siapa sih mengganggu saja?" kesal Marvel karena mimpinya kandas.
Tertera nama Cia di layar handphone Marvel.
"Arg! Kamu kapan sih tidak jadi pengganggu terus, Cia?" geram Marvel.
Marvel mengangkat teleponnya dengan kasar dan menjawabnya dengan decakan.
"Apa? Masih pagi sudah ganggu," ujar Marvel datar.
"Kamu tidak lupa kan dengan percakapan kita tadi malam?" tanya Cia.
__ADS_1
"Ya. Ini masih pagi, Cia. Saya masih ingin tidur," balas Marvel malas.
"Aku-kamu Marvel! Ih pokoknya sekarang juga kamu harus ke rumahku. Aku sudah siap ini. Ayolah aku mau pergi jalan-jalan sekarang. Aku tunggu kamu deh ya di rumah. Cepetan ya sayang dan aku tidak terima penolakan," kata Cia mengakhiri telepon.
Marvel melihat handphone nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mimpi apa gue punya tunangan kayak dia?" batin Marvel.
Marvel pun bangkit dari tidurnya dengan malas dan menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Marvel keluar dengan baju formalnya. Ia melihat Raina yang sedang menyiram bunga di luar.
"Kenapa di sini? Kan bisa yang lain buat siram bunganya. Kamu ke dalam saja gih, nanti kecapekan. Aku tidak mau kamu sakit," kata Marvel ke Raina.
"Cuman nyiram bunga loh, Marvel. Mana bisa bikin sakit sih," kesal Raina.
"Ya sudah. Jangan terlalu lama nanti masuk angin. Aku pergi dulu ya, kalau kamu bosan kamu bisa ajak Reinald buat nganter dan nemenin kamu. Tapi jangan terlalu dekat dengan Reinald ya sayang, nanti aku panas," ucap Marvel dan berlalu begitu saja dari hadapan Raina.
Raina masih berusaha mencerna ucapan Marvel. Otaknya Raina memang lemot.
"Jangan terlalu dekat? Memang kalau aku dekat dengan Reinald, Marvel bisa panas ya?" tanya Raina pada dirinya sendiri dengan bingung.
"Sudahlah aku tidak mau pikirkan," lanjut Raina dan kembali menyiram bunga itu dengan nyanyian bahagianya.
"Ckck.. Lihatlah di sini siapa yang murahan," ujar Marvel meremehkan.
"Hai Marvel! Kamu datang juga. Aku pikir tadi kamu tidak jadi datang. Padahal aku sudah bersiap memberi tahu Ayahmu kalau kamu tidak datang. Aku sudah lama menunggu di sini tahu," kata Cia yang langsung masuk begitu saja ke mobil Marvel tanpa sopan.
Marvel sebenarnya sangat tidak suka dengan orang yang tidak sopan dan juga tidak punya etika berbicara seperti Cia.
"Aku sibuk. Cepatlah kamu mau aku antar ke mana?" tanya Marvel dingin.
"Ke mana ya enaknya? Aku belum memikirkannya. Oh iya, aku mendengar ada tempat baru yang bagus untuk berfoto-foto. Aku tidak tahu sih itu tempat macam apa. Tapi ku dengar dari orang-orang tempatnya bagus dan seru. Aku ingin ke sana saja!" kata Cia antusias.
"Di mana?" tanya Marvel singkat.
"Nanti aku tunjukkan jalannya," jawab Cia.
Mereka pun sampai di tempat yang dimaksud oleh Cia.
"Wow! Benar kata orang-orang kalau tempat ini sungguh menakjubkan," ucap Cia dengan mata yang berbinar-binar.
Marvel hanya diam tanpa tertarik.
__ADS_1
Cia pun menarik tangan Marvel untuk masuk ke dalam tempat itu. Tempat yang sangat bagus untuk berfoto-foto dan ada beberapa wahana permainan.
Di mansion..
Raina terlihat sangat kebingungan.
"Ya ampun, semua sudah ku lakukan. Aku bisa mati kebosanan di sini," batin Raina.
"Reinald!" panggil Raina.
"Ya, Nona? Ada apa?" tanya Reinald yang siap sedia.
"Aku bisa mati kebosanan di sini, Reinald. Bawa aku keluar, ku mohon. Aku ingin pergi jalan-jalan," rengek Raina.
Reinald gelagapan. Di sisi lain, Tuannya sudah menyuruhnya agar tidak membiarkan Raina keluar dari mansion. Tapi di sisi lain juga, Reinald kasihan dengan Raina yang tampak sangat kebosanan.
"Saya tanyakan dulu pada Tuan. Sebentar ya, Nona."
"Hm," dehem Raina lesu.
Reinald menelepon Marvel dan menanyakan apakah Raina boleh keluar dari mansion apa tidak. Reinald bilang kalau Raina merengek untuk keluar. Pada akhirnya, Marvel memperbolehkan Reinald untuk membawa Raina keluar dengan catatan harus membawa pengamanan yang ketat.
"Ayo, Nona!" ajak Reinald.
"Kita mau ke mana?" tanya Raina.
"Saya dengar ada tempat yang baru dibangun untuk jalan-jalan. Saya rasa itu tempat yang cocok agar Nona tidak bosan lagi," ujar Reinald.
"Aku ngikut saja, yang penting aku bisa keluar!" balas Raina antusias.
"Baiklah Nona."
Mereka pun berjalan sampai ke tempat yang dimaksud.
Kini mereka juga telah sampai di tempat yang sama dengan tempat yang Marvel dan Cia juga kunjungi.
Marvel sedari tadi mengikuti Cia ke mana pun ia mau. Marvel hanya diam tidak menolak. Cia ini nampak sangat antusias untuk mencoba semua wahana dan arena yang berada di sana. Sesekali Cia juga meminta Marvel untuk memfotokannya di spot yang cantik dan bagus. Tidak lupa juga Cia meminta orang untuk memfotokan dirinya dengan Marvel.
Sedangkan Raina dan Reinald mereka juga bersenang-senang. Raina sedang mencoba ke wahana bermain. Lalu Raina juga ingin menghabiskan waktunya untuk pergi ke labirin perpustakan. Di sana ia bisa membaca buku sambil menemukan jalan keluar labirinnya.
Kira-kira Marvel dan Raina bakal ketemu tidak ya? Terus bagaimana ekspresi Cia dan Raina saat mereka bertemu?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, vote, dan klik favorit. Terima kasih~