
Ratih berkeliling ke mall mencari perlengkapan untuk bayinya yang akan lahir kelak. Ia sungguh bersemangat. Walau pun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sedih karena Raihan suaminya itu tidak dapat menemaninya. Padahal tadi ia sudah membayangkan Raihan ikut dengannya.
Tapi di sini Ratih mencoba untuk mengerti. Ratih pikir masalah itu harus cepat diselesaikan dan yang Ratih tahu hanyalah masalah kecil saja.
Saat berkeliling, Ratih melihat baju-baju yang sangat bagus untuk bayi. Ia jadi ingat kata dokter waktu itu. Kata-kata di mana membuatnya bahagia dan terus tersenyum.
"Nah ini anak Ibu. Jenis kelaminnya perempuan," kata dokter seraya melihatkan USG nya pada Ratih.
Ratih sangat senang ia mendapatkan anak perempuan. Soalnya sedari dulu ia ingin sekali memiliki anak perempuan. Tapi kalau dikasih laki-laki ya tidak apa-apa juga.
Ratih pun masuk ke toko itu dan memilih baju-baju yang akan dia beli. Cukup banyak dan mahal. Ia senang sekali saat melihat berbagai perlengkapan bayi. Harusnya Ratih sadar kalau dia membeli sebanyak itu dan mahal-mahal. Padahal tadi Raihan sudah berpesan kalau jangan terlalu banyak beli barang-barangnya. Namanya juga seorang Ibu. Ngelihat seperti itu pasti tidak tahan.
Ratih keluar dari toko itu dan tanpa melihat jalan ia membuka tasnya ingin mencari sesuatu.
Brak..
Ratih spontan memegang perutnya karena ia tak sengaja menabrak orang. Ia takut terjadi apa-apa dengan bayi yang ada di kandungannya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya," kata Ratih seraya berdiri.
Ratih agak risih saat yang ditabraknya diam saja dan menatapnya begitu lekat.
"Maafkan saya, saya permisi," ujar Ratih tidak mau berlama-lama di situ. Pria itu sudah membuatnya tak nyaman.
Beberapa langkah Ratih maju, pria itu mencekal tangannya.
"Apaan sih?" tanya Ratih risih dan cemas. Ia takut kalau pria itu adalah penjahat.
"Aku akan memaafkanmu jika kau menemaniku makan," ujar pria itu dingin.
"Apa sih mau pria ini? Aku hanya menabraknya itu pun dia baik-baik saja. Malahan aku yang jatuh di sini karena dadanya yang seperti tembok. Sekarang dia malah minta aku menemaninya makan. Sok kenal padahal tidak kenal," batin Ratih menatap tak suka pada pria yang ada di depannya.
Pria itu tersenyum miring menyadari perubahan raut wajah Ratih.
"Kau sedang mengandung. Baiklah jika kau tidak mau menemaniku makan. Tapi aku tidak akan memaafkanmu. Jangan salahkan aku jika bayi yang berada di kandunganmu akan menjadi orang yang kejam dan tidak mau memaafkan orang lain. Itu karena Ibunya, Ibunya tidak mau berusaha untuk mendapatkan maaf dari orang," kata pria itu panjang lebar untuk mempengaruhi otak polos Ratih.
Pria itu sangat mengenal Ratih.
Ratih menatap tidak percaya padanya. Tapi Ratih memikirkan semua ucapan pria itu barusan.
"Apa benar jika aku tidak mendapat maaf dari orang lain maka anakku akan menjadi seseorang yang tidak pemaaf?" tanya Ratih polos.
Pria itu makin tersenyum miring. Dia berhasil mempengaruhi otak Ratih agar mau menemaninya makan.
__ADS_1
"Benar. Itu sudah terbukti. Ya, kau tidak mau. Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku permisi," ujar pria itu berpura-pura akan meninggalkan tempat itu. Ia mulai melangkahkan kakinya.
"Eh tunggu-tunggu!" kata Ratih sedikit berteriak panik sembari memegang lengan pria itu. Ratih menahan pria itu untuk pergi.
Pria itu hanya menaikkan satu alisnya bagaikan orang yang tak paham.
"Aku tidak mau anakku jadi seperti itu kelak. Aku akan menemanimu makan jika itu bisa membuatmu memaafkanku," ujar Ratih.
"Pintar. Pilihan yang bagus. Ayok," balas pria itu sembari menggenggam tangan Ratih lembut.
Ratih risih dengan kelakuan pria itu. Enak saja main genggam saja pikirnya. Ratih berusaha melepaskankan genggaman itu. Tapi semakin ia berusaha untuk lepas, semakin kuat genggaman itu pada tangannya. Akhirnya Ratih pasrah tangannya di genggam oleh pria itu.
Sesampainya mereka di suatu restoran, pria itu langsung menuntun Ratih untuk duduk di meja yang sepertinya sudah dia pesan sebelumnya. Ratih heran kenapa hanya mereka berdua yang makan di restoran itu dan juga kenapa dekorasinya berbeda seperti biasanya. Tak mau pikir panjang, Ratih duduk saja di depan pria tersebut.
"Sebenarnya apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ratih bingung.
"Hm. Pesan saja dulu," ujar pria itu mengalihkan pembicaraan.
"Sama kan denganmu saja," kata Ratih.
Setelah beberapa menit menunggu, minuman dan makanan pun datang ke meja mereka. Ada steak dan milkshake vanilla.
"Bagaimana bisa pas sekali? Dari mana dia mengetahui makanan dan minuman favoritku?" batin Ratih bertanya-tanya.
"Hah?" Ratih bertanya balik lantaran tak mengerti dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan dari mulut pria itu.
"Namamu siapa?"
"Oh, namaku Ratih Anindira Kinara. Panggilannya Ratih," balas Ratih.
Sebenarnya pria itu sudah mengetahui nama Ratih. Bahkan bukan hanya nama saja, tapi semua tentang Ratih ia tahu.
"Kalau kamu?" tanya Ratih.
"Albertus Nathan," balas pria itu singkat.
Tiba-tiba saat keheningan melanda mereka, telepon Ratih berbunyi. Ratih merogoh tasnya untuk mencari teleponnya. Di sana tertera nama Raihan dengan emot love. Ratih mengangkatnya.
"Halo Ratih, kamu ada di mana sayang?" tanya Raihan khawatir.
"Aku masih di mall mas. Kamu sendiri masih ngantor kah?" balas Ratih.
"Jangan terlalu kecapekan sayang, inget ada anak kita di kandungan kamu. Aku masih di kantor. Masih banyak kerjaan," ujar Raihan.
__ADS_1
"Iya mas. Ya sudah, semangat ya kerjanya. Aku bentar lagi pulang kok."
"Ratih," panggil Nathan dengan suara baritonnya.
Raihan di sana sudah menegang.
"Ratih, kamu lagi sama siapa sayang? Kok ada suara pria sih," tanya Raihan dengan nada tidak sukanya.
Ratih gelagapan. Ia sangat tahu bahwa Raihan tidak suka jika ada laki-laki lain yang mendekat padanya.
Ratih mengisyaratkan Nathan untuk diam. Nathan hanya tersenyum miring.
"Temanku. Hanya bertemu sebentar. Tidak perlu cemas mas. Aku pulang sebentar lagi," bohong Ratih. Sesungguhnya Ratih paling tidak bisa membohongi Raihan. Tapi jika dia jujur, takutnya Raihan akan marah padanya.
"Baiklah. Jangan terlalu dekat dengannya. Aku tak suka," ujar Raihan sembari mengakhiri telepon mereka.
Ratih memasukkan kembali telepon itu ke tasnya.
"Kamu ngapain bersuara sih tadi?" geram Ratih.
"Memangnya itu siapa? Aku kan tidak tahu."
"Suamiku. Kau makanlah sendiri. Aku mau pulang saja," kata Ratih sudah tidak tahan.
"Jangan buru-buru. Makan sampai habis. Bukankah ini juga kesukaanmu. Lagi pula tak baik jika makanan ini belum kau habiskan," kata Nathan sembari mencekal tangan Ratih yang ingin pergi.
Ratih membenarkan ucapan Nathan. Sayang juga kalau makanannya terbuang.
Saat Ratih duduk, Nathan mengambil steak milik Ratih dan memotong-motong dagingnya menjadi beberapa bagian. Mereka sudah tampak seperti seorang kekasih saja.
"Tidak perlu aku bisa sendiri," ujar Ratih.
Nathan tidak menghiraukannya. Tanpa sengaja, tangan mereka berdua bertemu saat Ratih hendak mengambil steaknya kembali.
Tanpa disadari juga, kegiatan mereka sedari tadi itu difoto oleh seseorang suruhan Nathan.
Nah beberapa episode kali ini masih membahas tentang flashback nya Ratih ya...
Rencana aku mau bikin lengkap tentang masa lalu mereka. Biar jelas dan terjawab rasa penasaran kalian. Jangan bosen ya..
Siapa nih yang kangen Raina sama Marvel?
💖Jangan lupa like, komen, vote, fav ya.💖
__ADS_1
🌷Ditunggu ya kelanjutannya.🌷