RAINVEL

RAINVEL
EPISODE 53


__ADS_3

"Jadi.. Aku masih tak menyangka Nathan seperti itu. Aku salah di sini pernah menaruh hati padanya walau hanya sebentar. Untung saja aku tidak melanjutkan hubunganku dengannya. Bisa-bisa anakku juga kena seperti kalian. Tenang aja mba, aku bakal bantuin kalian. Sekarang kita sama-sama usaha buat kabur dari sini ya?" kata Ratih lembut.


"Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu. Mungkin kamu memang ditakdirkan ke sini untuk membantuku. Terima kasih banyak," katanya.


"Nah kamu mungkin mengetahui tentang di mana saja letak keamanan dan di mana saja ada penjaganya. Kita harus menyusun rencana," ujar Ratih serius.


"Rencana ya? Aku terakhir keluar itu berapa tahun yang lalu. Aku sudah tidak terlalu ingat tentang keamanan di rumah ini. Tapi yang pasti, di rumah ini banyak sekali penjaganya dan keamanannya sangat ketat. Aku saja terkejut mendapati kau bisa sampai ke sini. Itu hal yang mustahil bagiku," kata istri Nathan itu.


"Aku tadi melihat banyak penjaga di depan. Tapi saat itu mereka berkumpul sebentar, makanya aku bisa masuk ke sini," ucap Ratih menjelaskan.


"Setahuku hampir semua ruangan dijaga dengan ketat. Hanya di sini yang tidak terlalu dijaga ketat. Para penjaga hanya berlalu lalang di sini," katanya.


"Hm."


Ratih dan perempuan itu memikirkan cara untuk keluar dari sana.


"Lalu jika kita sempat keluar, kamu akan bersembunyi di mana? Pasti Nathan tidak akan membiarkanmu keluar kan?" tanya Ratih.


"Kau benar. Nathan tidak mungkin membebaskanku begitu saja. Ia pasti mencariku. Bolehkah aku menginap di rumahmu sebentar?"


"Tentu. Aku berharap rumahku aman," ujar Ratih.


Setelah beberapa menit, akhirnya Ratih menemukan ide cemerlang untuk keluar dari sana.


"Bagaimana kalau kamu pura-pura sakit untuk memancing para penjaga itu ke sini? Urusan luar aku sudah punya rencana lain," kata Ratih dengan senyuman karena merasa bangga dengan idenya.


"Pura-pura sakit? Maksudmu bagaimana?" tanya perempuan itu tak mengerti.


"Kamu teriak kayak kesakitan gitu, pokoknya ikutin dulu yang aku bilang. Nanti aku sembunyi di balik pintu. Nah kamu biasa kan matiin lampu. Tidak apa-apa matikan saja dulu, kalau mereka menyalakan lampunya aku langsung menjalankan rencanaku," terang Ratih.


Perempuan itu mengiyakan saja. Siapa tahu berhasil.


Akhirnya mereka menjalankan misi mereka untuk keluar dari sana.


Ratih sudah bersiap di balik pintu dan lampu sudah dimatikan. Ratih memegang sebuah balok kayu. Entah dari mana ia dapatkan.

__ADS_1


"Beruntung tadi aku menemukan balok kayu di belakang tempat tidur. Untung saja aku mau kesandung, kalau tidak pasti aku tidak mengetahuinya," batin Ratih.


Sesungguhnya saat ini Ratih sangat tidak tenang. Ia sangat takut kalau rencana yang ada di otaknya itu tidak berhasil. Tapi tidak ada salah untuk mencobanya.


Ibu dari Marvel dan Shara itu juga sudah mulai mengikuti arah permainan Ratih. Ia berteriak layaknya orang yang sangat kesakitan.


Ratih mendengar suara banyak langkah kaki yang ke situ.


"Waduh! Kok banyak banget langkahnya? Gimana dong aku ngelawannya? Ku kira hanya satu orang yang ke sini," batin Ratih yang sudah panik.


Pintu terbuka. Walau pun di kegelapan, Ratih dapat merasakan atmosfer yang menegangkan menyeruak.


"Ada apa ini?" tanya salah satu penjaga di situ.


Salah satunya juga menyalakan lampu. Ratih mau tidak mau menjalankan aksinya. Dari pada gagal, lebih baik ketahuan saja deh sekalian.


Ternyata penjaga itu ada berempat. Badannya kekar dan tinggi. Ratih menetralkan perasaannya dan kepanikannya.


Saat mereka berempat mulai mendekati Ibu dari Marvel dan Shara itu, Ratih langsung maju dan memukul kedua tengkuk penjaga itu.


Pukulan Ratih sangat kencang. Tapi hanya satu orang yang berhasil ia lumpuhkan, karena tenaganya hanya ke pukulan yang tangan kanan.


"Matilah kamu Ratih. Sok-sokan sih, terus gimana nih? Kan tidak enak banget sama dia, malah aku sudah janji lagi," ucap Ratih panik dalam hatinya.


"Kya! Tolong dulu itu, ya ampun mba nya kenapa ngeluarin banyak darah gitu? Astaga ada ular itu hey cepat tolongin Nyonya kalian!" kata Ratih sembari berlompat panik. Tentunya itu adalah sandiwara untuk mengalihkan para penjaga itu.


Berhasil! Para penjaga itu langsung menengok ke arah seperti yang ditunjuk oleh Ratih.


Ratih langsung menendang salah satu penjaga dan membenturkan kepalanya ke kepala temannya.


"Gini-gini aku pernah belajar bela diri tahu! Tidak sia-sia aku belajar bela diri walau dulu paksaan doang," batin Ratih bangga.


Kedua penjaga itu memegang kepalanya.


Lalu satu penjaga yang keadaannya bisa dibilang paling baik di antara yang lain mendekat ke arah Ratih dan akan meluncurkan tonjokkannya ke Ratih.

__ADS_1


Ratih menghindar lalu menendang kencang anu laki-laki itu.


Penjaga itu berteriak kencang kesakitan karena benda paling berharganya ditendang. Tapi, mulut penjaga itu langsung dibekap oleh Ratih dan Ratih membenturkan kepala penjaga tersebut ke lantai agar pingsan.


Lalu yang dua lainnya, Ratih memukul titik lemahnya agar pingsan juga.


Berhasil semua rencana Ratih. Ia berhasil melumpuhkan keempat penjaga itu. Lumayan untuk membuka jalan keluar.


"Gila kamu Ratih. Kamu jago banget berantemnya. Seperti sudah terlatih dan sering," kata perempuan itu kagum.


"Aku tidak sia-sia belajar bela diri. Ayok kita langsung lanjut mengendap-ngendap keluar," kata Ratih sembari menyeka keringat dinginnya.


Kini mereka sudah di dekat pintu rumah. Ada dua penjaga yang berjaga di pintu depan. Di pagar juga ia melihat tiga penjaga.


"Total lima penjaga lagi. Aku tidak yakin akan berhasil. Lagi pula kalau mereka mengeluarkan suara, bisa jadi Nathan langsung mendengarnya," ujar Ratih bisik-bisik.


"Lalu kita harus bagaimana, Ratih? Kita sudah di tengah jalan seperti ini. Tidak mungkin juga kembali," balas perempuan itu.


"Tadi kamu bawa apa saja dari penjaga itu?" tanya Ratih. Pasalnya, tadi ia melihat istri dari Nathan itu mengambil sesuatu dari para penjaga yang sudah tumbang.


"Oh iya, aku cuman bawa ini. Air merica yang dicampur dengan cabai. Mereka membuatnya untuk melumpuhkan penglihatan musuhnya. Aku hanya mengambil itu karena ku pikir itulah yang akan menjadi paling berguna untuk kita," ujarnya.


"Pintar banget kamu! Sini kasih ke aku airnya. Kalau gini mah aku berani. Pokoknya nanti setelah aku semprot ke mata mereka semua, kita berdua harus kompak menendang mereka. Kalau perlu tendang benda paling berharga para lelaki itu. Biarkan saja kesakitan," kata Ratih.


"Tidak perlu pikirkan Nathan yang akan mendengarnya. Sekarang yang terpenting, bagaimana kita dapat keluar terlebih dahulu," lanjut Ratih menerangkan terlebih dahulu. Jika salah langkah sedikit saja dipastikan mereka gagal.


Ratih dan perempuan itu mulai menjalankan aksinya. Mereka ke depan. Para penjaga itu langsung menghampirinya dan bersiap untuk menangkap.


Ratih langsung menyemprotkan cairan itu ke mata mereka semua. Mereka semua berteriak kesakitan. Ratih mengkode perempuan itu untuk menjalankan tugasnya. Akhirnya semua bisa berjalan dengan baik. Mereka bisa keluar dari situ walau dengan perjuangan yang menegangkan.


"Aku rasa kamu boleh ke rumahku dulu. Tapi aku tidak jamin itu akan aman juga," ujar Ratih terbata-bata. Dia sungguh lelah.


"Terima kasih Ratih."


Waduh flashback mereka sebentar lagi end kok. Sabar ya yang sudah kangen sama Raina dan Marvel.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan klik favorit.


Ditunggu ya kelanjutannya.


__ADS_2