
Siang harinya..
"Aku mau makan yang lain ya, jangan bubur lagi, please," ujar Raina memohon dengan mata yang memelas.
Marvel berusaha untuk tidak luluh dengan Raina. Ia bersikeras tidak memperbolehkan Raina untuk makan yang macam-macam dulu.
"Tidak Raina," ujar Marvel tegas.
"Ya sudah, aku tidak mau makan kalau gitu," kata Raina sambil menarik selimutnya dan membelakangi Marvel.
Marvel mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah, kau mau makan apa? Biar aku beli kan. Tapi jangan yang macam-macam," peringat Marvel.
Raina pun langsung membalikkan badannya cepat. Hal itu membuat Marvel mendengus kesal.
"Aku tidak minta macam-macam kok. Hm, sepertinya nasi padang enak untuk dimakan saat ini," kata Raina antusias.
"Aku akan membelikanmu nasi padang itu. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku," perintah Marvel.
Raina berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"Aku menyuruh beberapa bodyguard untuk berjaga di luar. Ini kamu pegang, di paling atas adalah kontakku. Ingat langsung hubungi aku jika ada apa-apa," ujar Marvel sambil memberi sebuah handphone pada Raina.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati Marvel," kata Raina.
Marvel pun berjalan keluar dan mencarikan makanan yang Raina mau.
Raina bosan, lalu ia turun dari brankar. Ia menyalakan TV dan menyetel kartun.
Tiba-tiba ia merasakan pusing yang melanda kepalanya.
"Akh!" katanya dengan suara pelan.
Raina ingin meminta pertolongan tapi rasanya ia sangat lemah dan tidak bisa berteriak. Untuk berbicara sedikitpun rasanya berat.
"Ada apa dengan diriku? Kenapa tiba-tiba aku lemah banget? Ya ampun, pusing sekali kepalaku ini!" batin Raina.
Bahkan sekarang wajah Raina yang sudah pucat dari awal semakin pucat hingga bibirnya pun memutih.
Sedangkan di sisi lain, Marvel sudah mendapatkan apa yang Raina mau. Tiba-tiba perasaan tidak enak melanda Marvel.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya? Aku merasa cemas dengan Raina. Apa Raina baik-baik saja? Aku harus segera kembali ke rumah sakit," kata Marvel dalam hatinya.
Marvel pun berlari sambil menenteng makanan yang ia bawa.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera berlari menaiki tangga untuk sampai di kamar rawat Raina.
__ADS_1
[Sekedar info kalau misalnya kamar rawat Raina berada di lantai 4.]
Marvel yang dilanda rasa khawatir, tidak dapat berpikir dengan jernih. Seharusnya dia bisa saja menaiki lift agar tidak capek dan lebih cepat tentunya.
Saat sudah berada di lantai 4, ia langsung memasuki ruangan Raina.
Marvel terkejut sekali saat memasuki ruangan karena mendapati Raina yang terbaring lemah di lantai. Ia menjatuhkan makanan yang ia bawa ke lantai.
Tanpa basa-basi, Marvel langsung mengangkat tubuh Raina dengan lembut dan membaringkannya kembali ke brankar.
Ia pun langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
Beberapa menit kemudian, dokter pun datang.
Dokter itu pun langsung mengecek keadaan Raina. Lalu dokter itu menghembuskan napasnya kasar.
"Keadaan pasien drop lagi. Kita harus segera mendonorkan darah ke pasien. Pasien sangat membutuhkannya. Jika tidak, ini menjadi masalah yang serius. Nyawa pasien dapat terancam," jelas Dokter itu.
"Apakah bapak sudah mendapatkannya?" tanya Dokter itu.
"Belum. Saya belum mendapatkannya. Info yang saya dapat adalah hampir di semua rumah sakit, semuanya kehabisan stok darah AB," gusar Marvel.
"Tolong pak, segera mencarinya. Kami pihak rumah sakit juga berusaha semaksimal mungkin untuk menghubungi rumah sakit lainnya. Siapa tahu ada yang ada stok darah tersebut."
__ADS_1
"Saya permisi dulu," pamit Dokter itu.
Marvel sekarang bingung ia harus mencari di mana stok darah tersebut.