
Marvel mencari nama Reinald di kontaknya. Lalu ia mengirim pesan ke Reinald.
Marvel : "Cepat dapatkan donor darah tersebut!"
Reinald : "Baik, Tuan. Saya lagi berusaha untuk mencarinya lagi."
Marvel mengusap wajahnya kasar. Ia pun keluar dari kamar inap Raina dan menyuruh penjagaan diperketat. Ia juga mengambil kunci mobilnya dan menuju ke parkiran.
Saat sudah sampai di parkiran, ia langsung menaiki mobilnya dan mengendarainya ke rumah sakit lain.
Setelah 2 jam, ia sudah mengunjungi 9 rumah sakit. Ternyata benar kata Reinald, semuanya kehabisan stok darah AB. Tapi itu tidak membuat Marvel menyerah. Ia melakukan perjalanan lagi menuju rumah sakit ke-10. Sesungguhnya Marvel sangat lelah. Ia membutuhkan istirahat karena sejak Raina sakit, ia hanya tidur sebentar.
Marvel pun memarkirkan kembali mobilnya di rumah sakit ke-10 ini.
"Semoga di sini ada," harap Marvel dalam hatinya.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Sesampainya di dalam, ia langsung menyampaikan tujuannya ke resepsionis rumah sakit.
"Apakah di sini masih menyimpan stok darah AB? Saya sangat membutuhkannya sekarang," kata Marvel kepada salah satu perempuan yang perannya sebagai resepsionis di rumah sakit tersebut.
"Bentar pak, saya cek terlebih dahulu. Ditunggu ya pak," katanya ramah sambil memegang telepon untuk mengecek ke bagian bank darah rumah sakit tersebut.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya resepsionis itu mematikan teleponnya dan berujar, "maaf pak, tadi saya sudah cek dan katanya stoknya tidak ada."
"Tolong di cek lagi," kata Marvel yang masih berharap.
"Saya sudah tanyakan barusan pak. Tadi juga ada orang yang mencari stok darah tersebut. Tapi memang stoknya kosong," jelas resepsionis itu.
"Bisa bantu carikan?" tanya Marvel.
"Bisa pak, kami pihak rumah sakit akan membantu bapak mencari stok tersebut. Saya juga akan mencoba menghubungi beberapa bank darah lainnya."
"Terima kasih," ucap Marvel.
"Sama-sama pak."
Lalu datang seorang wanita yang umurnya terlihat 40an datang ke resepsionis tersebut.
"Maaf, saya mau tanya. Di sini check up jam berapa ya mulainya? Saya lupa soalnya," tanyanya sopan.
"Oh iya ibu tunggu sebentar ya, nanti saya cek kan. Saya urus bapak ini dulu ya, bu," ujar resepsionis itu.
"Oh iya tidak apa-apa. Saya tunggu."
__ADS_1
"Maaf pak, kalau boleh tahu stok darah tersebut untuk siapa dan untuk rumah sakit mana ya? Bapak tidak mungkin menunggu di sini terus. Siapa tahu nanti ada yang punya stoknya, saya langsung suruh kirim ke rumah sakit tempat di mana dia di rawatnya pak."
"Ke rumah sakit Mutiara Kasih, atas nama Raina Crystal Alvania," jawab Marvel jelas.
Deg..
Wanita di sebelah Marvel langsung menegang saat Marvel menyebutkan nama Raina.
"Ok pak, silahkan duduk di sana kalau mau nunggu ya pak."
"Maaf mas, tadi siapa namanya?" tanya Ibu itu.
"Raina Crystal Alvania, bu," jawab Marvel sopan.
Sedingin-dinginnya Marvel, ia pasti tetap berujar sopan pada orang yang lebih tua darinya.
"Golongan darah apa memangnya yang dibutuhkan?" tanya Ibu itu lagi.
"Golongan darah AB, bu."
"Saya mau donorin. Kebetulan golongan darah saya juga itu," kata Ibu itu.
"Benar begitu, bu?" tanya Marvel memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, ayok ke rumah sakit dia."
Marvel tidak bisa berbohong. Ia sungguh senang sekali rasanya saat mendengar ada orang yang ingin mendonorkan darahnya pada Raina.
"Eh bentar mas," kata Ibu itu sambil memberhentikan langkah Marvel.
"Makasih ya mba, saya golongan darahnya AB. Tidak perlu dicari lagi. Sama jadwal check up saya tolong diundur dulu ya mba," ujar Ibu itu lagi.
"Oh iya, sama-sama ibu," balas resepsionis itu ramah.
Marvel dan Ibu itupun pergi menuju parkiran. Marvel pun langsung menancap gas menuju rumah sakit tempat Raina dirawat.
Selama perjalanan, hanya ada keheningan di antara mereka.
"Maaf mas, saya mau nanya," ujar Ibu itu memecah keheningan.
Marvel manaikkan alisnya. Sesungguhnya sekarang hanya ada satu yang dipikirannya yaitu ia harus cepat sampai ke rumah sakit.
"Raina itu temennya ya? Apa sekarang dia sudah kuliah?" ujar ibu itu.
__ADS_1
Menurut Marvel, pertanyaan Ibu itu cukup aneh.
"Iya, ibu memang nya kenal sama Raina?" tanya Marvel penasaran.
"Aku pun tidak tahu aku mengenalnya atau tidak. Tapi dari namanya, persis sekali dengan anakku yang dulu hilang. Bahkan seharusnya benar bahwa ia sudah kuliah," batin Ibu itu.
"Tidak kenal, maaf saya manggil mas apa ya?" tanya Ibu itu.
"Nama saya Marvel Jonathan Arkanius bu, panggil aja Marvel."
"Oh iya den Marvel, panggil aja saya Ibu Ratih."
"Iya bu Ratih."
Mereka pun telah sampai di rumah sakit Mutiara kasih. Marvel langsung tergesa-gesa memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Bu Ratih keluar.
"Ikut saya bu," kata Marvel sopan.
Mereka pun memasuki rumah sakit dan langsung menaiki lift menuju ke lantai 4 di mana Raina berada.
"Suster, ini orang yang mau mendonorkan darahnya," ujar Marvel dingin.
"Baik, Ibu mari ikut saya."
Ibu Ratih hanya mengangguk saja. Selesai mendonorkan darah, ia keluar lagi dan menghampiri Marvel.
"Sudah selesai, boleh tidak saya melihat Raina?" izin Ibu Ratih.
"Silahkan bu, terima kasih banyak," kata Marvel. Setidaknya ia bisa lebih tenang sekarang.
Saat mereka berdua memasuki ruangan Raina, terlihat Raina yang masih belum sadarkan diri.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Marvel kepada Dokter di situ.
"Kemungkinan sebentar lagi akan sadar. Keadaannya juga sudah stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," kata Dokter itu.
Marvel menghela napasnya lega.
Bu Ratih melihat wajah Raina. Seketika tubuhnya membeku.
"Mirip sekali. Apa benar dia anakku yang hilang? Aku harus memastikannya. Tapi tidak sekarang," batin Bu Ratih.
"Maaf den Marvel, saya pamit dulu ya. Harus check up soalnya. Permisi," pamit Bu Ratih ke Marvel.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih banyak, Bu."
Marvel pun menghampiri brankar Raina. Ia sungguh lelah. Ia pun membaringkan kepalanya seraya menggenggam tangan Raina.